Jawaban singkat: ADHD dan gangguan kecemasan cukup sering muncul bersamaan pada anak. Survei nasional orang tua di Amerika Serikat tahun 2022 yang dirangkum CDC menemukan sekitar 4 dari 10 anak dengan ADHD juga memiliki masalah kecemasan. Keduanya bisa tampak mirip dari luar, misalnya anak sulit fokus, gelisah, mudah marah, dan susah tidur, padahal penyebab di baliknya berbeda. Karena itu, anak yang menunjukkan tanda-tanda campuran perlu dinilai secara utuh oleh dokter anak, psikolog klinis, atau psikiater anak yang berizin, agar penanganannya tepat untuk kedua kondisi, bukan hanya salah satunya.

Sebelum membaca

Artikel ini membahas apa yang terjadi ketika ADHD dan kecemasan hadir bersamaan pada satu anak. Pengertian dasar masing-masing kondisi sudah kami bahas terpisah di ADHD adalah dan Gangguan Kecemasan Anak. Perbandingan gejala di bawah bukan alat untuk mendiagnosis sendiri. Gunakan untuk mencatat pengamatan, lalu bawa catatan itu ke tenaga profesional.

Dua kondisi berbeda dalam satu anak

Secara singkat, National Institute of Mental Health (NIMH) menggambarkan ADHD sebagai gangguan perkembangan yang ditandai gejala kurang perhatian, hiperaktivitas, dan impulsivitas yang menetap. Gangguan kecemasan, menurut NIMH, lebih dari sekadar khawatir sesekali: kecemasannya tidak hilang, muncul di banyak situasi, dan bisa makin berat seiring waktu.

Jadi yang satu terutama soal cara otak mengatur perhatian dan dorongan, sedangkan yang lain soal rasa takut dan khawatir yang berlebihan. Masalahnya, dalam kehidupan sehari-hari orang tua dan guru tidak melihat "perhatian" atau "rasa takut" secara langsung. Yang terlihat adalah perilaku: anak tidak menyelesaikan tugas, tidak bisa duduk tenang, menangis sebelum berangkat sekolah, atau marah saat diminta mencoba hal baru. Perilaku yang sama bisa berasal dari ADHD, dari kecemasan, atau dari keduanya sekaligus.

NIMH sendiri mencatat bahwa ADHD sering muncul bersama kondisi lain, termasuk kecemasan, dan hal ini dapat membuat kondisinya lebih sulit didiagnosis dan ditangani. Kalimat ini menjadi alasan utama artikel ini ditulis: orang tua perlu tahu bahwa satu diagnosis tidak selalu menjelaskan semua kesulitan anak.

Dua orang duduk di lantai menghadap meja lipat, satu menulis di kertas dan satu membuka buku bersampul hijau
Belajar di meja lipat dalam kegiatan YUKA. Orang tua dan guru melihat perilaku anak, sedangkan penyebab di baliknya perlu dinilai tenaga profesional. Foto suasana kegiatan, bukan gambaran kondisi anak tertentu.Foto: Dokumentasi YUKA (Yayasan Ukhuwah Kaffah Amanatullah).

Seberapa sering ADHD dan kecemasan terjadi bersamaan

Data paling besar yang tersedia secara terbuka berasal dari Amerika Serikat. Halaman Data on ADHD in Children dari CDC merangkum survei nasional orang tua dan menyebut hampir 78% anak dengan ADHD memiliki setidaknya satu kondisi penyerta. Sekitar 4 dari 10 anak dengan ADHD memiliki kecemasan, dan hampir separuh memiliki masalah perilaku atau perilaku menentang.

Angka itu berasal dari studi Danielson dan rekan (2024) di Journal of Clinical Child and Adolescent Psychology yang memakai data National Survey of Children's Health 2022 dengan 45.169 anak usia 3 sampai 17 tahun. Di antara anak yang saat itu memiliki ADHD, 77,9% memiliki setidaknya satu gangguan penyerta. Masalah kecemasan tercatat pada 39,1% anak, sedikit di bawah masalah perilaku (44,1%).

TemuanAngka atau keteranganSumber
Anak ADHD dengan setidaknya satu kondisi penyerta77,9% (hampir 78%)Danielson dkk. 2024; CDC
Anak ADHD dengan masalah kecemasan39,1% (sekitar 4 dari 10)Danielson dkk. 2024; CDC
Anak ADHD dengan masalah perilaku44,1% (hampir separuh)Danielson dkk. 2024; CDC
Perbedaan menurut jenis kelaminKecemasan dan depresi lebih banyak pada anak perempuan dengan ADHD dibanding anak laki-lakiDanielson dkk. 2024
Perbedaan menurut usiaKecemasan dan depresi lebih tinggi pada remaja dibanding anak yang lebih mudaDanielson dkk. 2024
Gangguan kecemasan yang terdiagnosis pada anak ADHDHingga 28%Denis dkk. 2026, tinjauan sistematis

Mengapa ada dua angka, 39% dan 28%? Keduanya mengukur hal yang sedikit berbeda. Survei Danielson dan CDC bertanya kepada orang tua apakah anaknya pernah diberi tahu oleh dokter atau tenaga kesehatan memiliki "masalah kecemasan", dan masih memilikinya saat ini. Tinjauan sistematis Denis dan rekan (2026) di Child: Care, Health and Development menyebut gangguan kecemasan sebagai diagnosis yang memengaruhi hingga 28% anak dengan ADHD. Perbedaan cara ukur seperti ini wajar dalam penelitian. Pesan pentingnya sama: kecemasan bukan kejadian langka pada anak ADHD.

Untuk Indonesia, kami belum menemukan data nasional yang secara khusus mengukur berapa banyak anak dengan ADHD yang juga memiliki gangguan kecemasan. Karena itu angka di atas sebaiknya dibaca sebagai gambaran dari negara lain, bukan angka untuk anak Indonesia.

Satu catatan lagi dari CDC: anak yang memiliki ADHD bersama kondisi penyerta, termasuk kecemasan, lebih sering memiliki ADHD tingkat berat dibanding anak ADHD tanpa kondisi penyerta. Artinya, kehadiran kecemasan perlu diperhitungkan saat menilai seberapa besar kesulitan anak.

Gejala yang tumpang tindih

Studi Danielson dan rekan menulis terus terang bahwa gejala ADHD dan kecemasan bisa sulit dibedakan. Mereka juga mencatat bahwa anak yang mengalami stres, depresi, dan kecemasan bisa memperlihatkan gejala kurang perhatian dan impulsivitas, sehingga berisiko didiagnosis ADHD padahal diagnosis lain mungkin lebih tepat.

Coba bandingkan daftar gejala dari NIMH. Pada gangguan cemas menyeluruh, NIMH menyebut orang bisa merasa gelisah atau sulit rileks, sulit berkonsentrasi, mudah tersinggung, sulit tidur atau mudah lelah, serta mengalami keluhan fisik seperti sakit kepala dan sakit perut. Sebagian dari daftar ini, terutama gelisah dan sulit berkonsentrasi, juga menjadi bagian dari gambaran ADHD.

Yang tampak di luarKemungkinan bila terkait ADHDKemungkinan bila terkait kecemasan
Sulit fokus saat belajarPerhatian mudah teralih ke rangsangan lain, termasuk saat tugasnya tidak menegangkanPikiran sibuk dengan kekhawatiran, misalnya takut salah atau takut dimarahi
Tidak bisa duduk tenangDorongan bergerak yang muncul di banyak situasiTegang dan gelisah, sering lebih kuat di situasi yang ditakuti
Mudah marah atau meledakSulit menahan dorongan dan frustrasiReaksi saat dihadapkan pada hal yang menakutkan atau tidak pasti
Menghindari tugas sekolahTugas terasa membosankan atau sulit diatur langkahnyaTakut gagal, takut tampil di depan kelas, atau takut mengecewakan orang lain
Sulit tidurSulit "mematikan" aktivitas dan pikiran menjelang tidurPikiran khawatir muncul saat suasana mulai tenang di malam hari

Tabel ini kami susun dari gambaran gejala di halaman ADHD dan gangguan cemas menyeluruh dari NIMH. Kolom kemungkinan penyebab hanya ilustrasi supaya orang tua bisa mengajukan pertanyaan yang lebih tajam kepada tenaga profesional. Satu anak bisa saja memiliki penyebab dari kedua kolom sekaligus, atau penyebab lain yang sama sekali berbeda, misalnya gangguan tidur, masalah pendengaran, atau kesulitan belajar.

Dua tangan menekan adonan berwarna oranye di atas alas silikon biru
Kegiatan membentuk adonan di YUKA. Kegiatan tangan yang jelas langkahnya memudahkan anak tetap fokus tanpa merasa tertekan. Foto suasana kegiatan, bukan gambaran kondisi anak tertentu.Foto: Dokumentasi YUKA (Yayasan Ukhuwah Kaffah Amanatullah).

Petunjuk yang membedakan, menurut sumber resmi

Walaupun tampak mirip, sumber resmi memberi beberapa petunjuk yang biasanya digali oleh tenaga profesional saat wawancara dan observasi. Petunjuk ini bukan rumus, tetapi membantu orang tua memahami pertanyaan apa yang mungkin diajukan dokter atau psikolog.

Kapan dan sejak kapan gejalanya muncul

NIMH menjelaskan bahwa gejala ADHD harus sudah dimulai sejak masa kanak-kanak, sebelum usia 12 tahun, dan cenderung menetap. Kecemasan, sebaliknya, menurut NIMH sering naik turun dan biasanya memburuk pada masa stres, misalnya saat ujian, sakit, atau ada konflik di keluarga. Karena itu, catatan tentang kapan kesulitan anak pertama kali tampak dan apakah ada pemicunya sangat berguna.

Isi pikiran anak

Anak dengan kecemasan biasanya punya kekhawatiran yang bisa ia ceritakan bila ditanya dengan tenang. NIMH menyebut anak dan remaja dengan gangguan cemas menyeluruh sering khawatir tentang sekolah, kegiatan, pertemanan, dan masa depan, takut membuat kesalahan, atau takut mengecewakan orang lain. Sebagian berusaha menjadi sempurna sebagai cara mengatasi kecemasannya. Anak dengan ADHD yang tidak cemas lebih sering menggambarkan tugas sebagai membosankan atau mengaku "lupa", bukan takut.

Di mana saja kesulitannya terjadi

Gejala ADHD umumnya terlihat di lebih dari satu tempat, misalnya di rumah dan di sekolah. Kecemasan bisa sangat terikat pada situasi tertentu, misalnya hanya muncul saat harus berpisah dari orang tua atau saat harus berbicara di depan kelas. Informasi dari guru sangat membantu di sini, karena orang tua jarang melihat anak di kelas.

Perbedaan usia dan jenis kelamin

Pedoman klinis American Academy of Pediatrics (AAP) tahun 2019 mencatat bahwa anak perempuan dengan ADHD lebih mungkin dibanding anak laki-laki memiliki kondisi internal penyerta seperti kecemasan atau depresi. Data Danielson juga menunjukkan kecemasan lebih banyak pada remaja dibanding anak kecil. Bagi orang tua, ini berarti anak perempuan atau remaja yang tampak "melamun" dan cemas perlu dinilai dengan cermat untuk kedua kemungkinan.

Bagaimana keduanya bisa saling memperberat

CDC menjelaskan bahwa anak dengan ADHD lebih mungkin mengalami gangguan kecemasan dibanding anak tanpa ADHD, dan bisa merasa putus asa serta sedih ketika tidak mampu mengendalikan gejala ADHD-nya. Bayangkan anak yang berulang kali ditegur karena lupa membawa buku, tidak menyelesaikan soal, atau dianggap nakal oleh teman. Lama-kelamaan wajar bila ia mulai cemas setiap kali menghadapi tugas sekolah.

Sebaliknya, kecemasan bisa membuat kesulitan ADHD tampak lebih berat. Anak yang sibuk dengan pikiran khawatir punya lebih sedikit "ruang" untuk memusatkan perhatian. Tinjauan Bob dan Privara (2025) di Frontiers in Psychiatry mengajukan kerangka bahwa proses perkembangan otak pada ADHD dapat membuat anak lebih peka terhadap tekanan dari lingkungan, sehingga lebih rentan mengalami kecemasan. Tulisan ini berupa hipotesis ilmiah, bukan kesimpulan yang sudah pasti, tetapi sejalan dengan pengamatan bahwa lingkungan yang penuh tekanan bisa memperburuk keduanya.

Pola asuh juga ikut berperan, dan ini bukan soal menyalahkan orang tua. Tinjauan sistematis Denis dan rekan (2026) pada anak usia 5 sampai 12 tahun menemukan bahwa orang tua dari anak dengan ADHD dan gangguan kecemasan melaporkan lebih banyak praktik pengasuhan yang terkait kecemasan dan lebih sedikit praktik pengasuhan positif dibanding orang tua dari anak dengan ADHD saja. Jumlah studi dalam tinjauan itu masih sedikit (empat studi), jadi penulisnya sendiri menyebut perlu penelitian lanjutan. Pelajaran praktisnya: orang tua anak dengan dua kondisi ini sering sangat lelah, dan mereka juga butuh dukungan.

Seseorang duduk di lantai memeras jeruk ke dalam teko, di dekatnya mangkuk berisi dua buah jeruk
Kegiatan memeras jeruk di lantai dalam program YUKA. Suasana yang tidak terburu-buru membantu anak yang mudah tegang. Foto suasana kegiatan, bukan gambaran kondisi anak tertentu.Foto: Dokumentasi YUKA (Yayasan Ukhuwah Kaffah Amanatullah).

Kenapa penilaian profesional penting

Pedoman AAP 2019 secara khusus menambahkan rekomendasi baru: saat mengevaluasi anak atau remaja untuk ADHD, dokter layanan primer setidaknya harus melakukan skrining kondisi penyerta, termasuk kondisi emosional seperti kecemasan dan depresi. Bila dokter tidak terlatih untuk menegakkan diagnosis kondisi penyerta tersebut, anak sebaiknya dirujuk ke subspesialis yang sesuai.

Ada beberapa alasan mengapa penilaian menyeluruh ini penting bagi keluarga:

Di Indonesia, jalurnya bisa dimulai dari dokter di Puskesmas atau dokter spesialis anak, lalu rujukan ke psikolog klinis atau psikiater anak dan remaja yang memiliki izin praktik. Gambaran prosesnya kami bahas di Diagnosis ADHD di Indonesia dan Diagnosis Banding ADHD, sedangkan perkiraan biaya pemeriksaan ada di Tes Psikolog Anak Bayar Berapa.

Agar kunjungan lebih bermanfaat, orang tua bisa menyiapkan catatan selama dua sampai empat minggu sebelumnya:

Yang dicatatContoh
Situasi saat kesulitan muncul"Gelisah dan menangis setiap Senin pagi sebelum upacara"
Hal yang dikatakan anak"Aku takut disuruh maju ke depan", atau "Aku lupa, tadi kepikiran yang lain"
Tidur, makan, dan keluhan fisikJam tidur, sering terbangun, sakit perut sebelum sekolah
Catatan dari guruPerilaku di kelas, saat istirahat, dan saat ujian
Sejak kapanApakah sudah tampak sejak usia prasekolah, atau baru muncul setelah peristiwa tertentu

Catatan ini bukan untuk menyimpulkan sendiri apakah anak memiliki ADHD, kecemasan, atau keduanya. Gunanya agar tenaga profesional mendapat gambaran yang lebih lengkap dari yang bisa ia lihat dalam satu kali pertemuan.

Arah penanganan bila keduanya ada

Rencana penanganan selalu disusun oleh tenaga profesional sesuai kondisi masing-masing anak. Yang bisa kami sampaikan di sini hanyalah gambaran umum dari sumber resmi, supaya orang tua tahu pilihan apa saja yang mungkin dibicarakan.

Untuk ADHD, CDC menyebut terapi perilaku sebagai penanganan yang efektif, dan untuk anak kecil paling efektif bila dijalankan oleh orang tua melalui pelatihan manajemen perilaku. Untuk kecemasan, CDC menyebut terapi perilaku yang membantu anak mengelola gejalanya sambil dihadapkan pada hal yang ditakuti secara bertahap, serta terapi perilaku kognitif atau CBT terutama untuk anak yang lebih besar, yang kami jelaskan lebih jauh di Terapi Perilaku Kognitif Anak. Gambaran terapi ADHD yang lebih lengkap ada di Terapi ADHD pada Anak.

Obat kadang menjadi bagian dari rencana penanganan ADHD maupun kecemasan. Keputusan tentang perlu tidaknya obat, jenis, dan takarannya sepenuhnya menjadi wewenang dokter yang memeriksa anak, dengan mempertimbangkan kedua kondisi sekaligus. Orang tua sebaiknya tidak memulai, menghentikan, atau mengubah obat apa pun tanpa berkonsultasi dengan dokter tersebut.

CDC juga mengingatkan bahwa untuk anak yang mengikuti program pendidikan anak usia dini, penanganan biasanya paling efektif bila orang tua dan pendidik bekerja sama. Prinsip kerja sama ini berlaku juga untuk anak usia sekolah dengan dua kondisi sekaligus.

Tangan anak memeras lemon ke teko plastik, di sebelahnya tangan orang dewasa siap membantu
Pendamping dan anak bekerja bersama dalam kegiatan YUKA. Kerja sama orang tua, guru, dan tenaga profesional adalah inti dukungan bagi anak. Foto suasana kegiatan, bukan gambaran kondisi anak tertentu.Foto: Dokumentasi YUKA (Yayasan Ukhuwah Kaffah Amanatullah).

Strategi di rumah

Langkah di rumah tidak menggantikan penanganan profesional, tetapi bisa membuat hari-hari anak terasa lebih aman dan teratur. Beberapa prinsip yang sejalan dengan sumber resmi:

Bila cara-cara ini tidak membantu, atau kecemasan dan kesulitan perhatian anak makin mengganggu sekolah dan pertemanannya, itu tanda untuk kembali berkonsultasi dengan tenaga profesional, bukan tanda bahwa orang tua gagal.

Strategi di sekolah

NIMH menyebut banyak anak dengan ADHD terbantu oleh intervensi perilaku di sekolah dan penyesuaian akademik, seperti tempat duduk yang dipilih khusus, pengurangan beban tugas, dan tambahan waktu saat ujian. CDC juga menganjurkan orang tua berbicara dengan guru tentang penyesuaian yang disesuaikan dengan gejala anak. Untuk anak yang juga cemas, beberapa penyesuaian bisa membantu kedua kondisi sekaligus:

KesulitanContoh penyesuaian yang bisa dibicarakan dengan guru
Mudah teralih perhatianTempat duduk dekat guru dan jauh dari pintu atau jendela
Takut tidak selesai saat ujianTambahan waktu, atau ujian di ruangan yang lebih tenang
Cemas tampil di depan kelasPersiapan bertahap, misalnya menjawab dari tempat duduk dulu sebelum maju
Tugas besar terasa menakutkanTugas dipecah menjadi bagian kecil dengan tenggat bertahap
Kewalahan di tengah hariWaktu jeda singkat yang disepakati dan tempat untuk menenangkan diri

Komunikasi rutin antara orang tua dan guru, misalnya lewat buku penghubung, membantu semua pihak melihat pola yang sama. Panduan yang lebih rinci untuk guru ada di Strategi Mengajar Anak ADHD di Sekolah. Di Sekolah Inklusi Taruna Imani yang dikelola YUKA, guru dan orang tua bekerja sama menyusun dukungan sesuai kebutuhan tiap anak, dan tetap merujuk keluarga ke tenaga kesehatan berizin untuk diagnosis dan terapi.

Ingat juga bahwa kecemasan di sekolah bisa dipicu hal di luar pelajaran, misalnya perundungan. Bila anak tiba-tiba menolak sekolah, cari tahu dulu apa yang terjadi sebelum menyimpulkan penyebabnya. Topik ini juga kami singgung di Gangguan Emosional pada Anak Sekolah.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah ADHD dan gangguan kecemasan bisa terjadi bersamaan pada anak?

Bisa, dan cukup sering. NIMH menyebut ADHD sering muncul bersama kondisi lain, termasuk kecemasan, yang dapat membuat kondisinya lebih sulit didiagnosis dan ditangani. CDC juga menjelaskan anak dengan ADHD lebih mungkin mengalami gangguan kecemasan dibanding anak tanpa ADHD.

Seberapa sering anak dengan ADHD juga mengalami kecemasan?

Survei nasional orang tua di Amerika Serikat tahun 2022 (Danielson dkk., 2024, dirangkum CDC) menemukan masalah kecemasan pada 39,1% anak dengan ADHD, atau sekitar 4 dari 10 anak. Tinjauan sistematis Denis dkk. (2026) menyebut gangguan kecemasan memengaruhi hingga 28% anak dengan ADHD. Data nasional serupa untuk Indonesia belum kami temukan.

Apa bedanya gejala ADHD dan gejala kecemasan?

Keduanya bisa tampak sebagai sulit fokus, gelisah, mudah marah, dan sulit tidur. Menurut NIMH, gejala ADHD dimulai sebelum usia 12 tahun dan cenderung menetap, sedangkan kecemasan sering naik turun dan memburuk saat ada tekanan. Anak yang cemas biasanya punya kekhawatiran yang bisa ia ceritakan. Membedakannya tetap tugas tenaga profesional.

Apakah kecemasan bisa disangka ADHD?

Bisa. Studi Danielson dkk. (2024) mencatat bahwa anak yang mengalami stres, depresi, dan kecemasan dapat memperlihatkan gejala kurang perhatian dan impulsivitas, sehingga berisiko didiagnosis ADHD padahal diagnosis lain mungkin lebih tepat. Karena itu penilaian menyeluruh oleh tenaga profesional penting.

Kenapa anak dengan ADHD lebih mudah cemas?

CDC menjelaskan anak dengan ADHD bisa merasa sedih dan putus asa ketika tidak mampu mengendalikan gejalanya dan gejala itu mengganggu sekolah atau hubungan dengan keluarga dan teman. Teguran yang berulang dan pengalaman gagal dapat membuat anak cemas menghadapi tugas. Peneliti juga sedang mempelajari faktor perkembangan otak yang mungkin ikut berperan.

Siapa yang bisa memeriksa anak dengan dugaan ADHD dan kecemasan?

Anda bisa memulai dari dokter di Puskesmas atau dokter spesialis anak, lalu dirujuk ke psikolog klinis atau psikiater anak dan remaja yang memiliki izin praktik. Pedoman AAP 2019 meminta dokter yang mengevaluasi ADHD untuk setidaknya menskrining kondisi penyerta seperti kecemasan, dan merujuk ke subspesialis bila perlu.

Bagaimana penanganan anak yang memiliki ADHD dan kecemasan sekaligus?

Rencana penanganan disusun tenaga profesional sesuai kondisi anak dan mempertimbangkan kedua kondisi. CDC menyebut terapi perilaku dan pelatihan orang tua untuk ADHD, serta terapi perilaku dan terapi perilaku kognitif untuk kecemasan. Bila obat dipertimbangkan, keputusan jenis dan takarannya sepenuhnya wewenang dokter yang memeriksa anak.

Apa yang bisa dilakukan guru untuk anak ADHD yang cemas?

Guru bisa membicarakan penyesuaian dengan orang tua, misalnya tempat duduk dekat guru, tambahan waktu ujian, tugas dipecah menjadi bagian kecil, dan persiapan bertahap sebelum tampil di depan kelas. NIMH menyebut penyesuaian akademik dan intervensi perilaku di sekolah membantu banyak anak dengan ADHD. Komunikasi rutin dengan orang tua membantu melihat pola yang sama.

Bacaan Terkait