Singkatnya: gangguan emosional pada anak sekolah adalah masalah perasaan, seperti cemas, takut, sedih, atau mudah marah, yang berlangsung berminggu-minggu atau lebih dan mengganggu kegiatan anak di sekolah, di rumah, atau dengan teman. Yang paling sering adalah gangguan kecemasan dan depresi. Orang tua dan guru berperan mengenali tandanya lebih awal, mendampingi dengan tenang, dan menghubungkan anak ke psikolog atau dokter untuk asesmen.

Catatan sebelum membaca

Artikel ini adalah informasi umum untuk orang tua, guru, dan pendamping, bukan alat diagnosis dan bukan saran medis. Daftar tanda di bawah tidak dimaksudkan untuk memberi label pada anak. Bila Anda khawatir, bicarakan dengan psikolog klinis, dokter anak, atau puskesmas terdekat. Bila anak membicarakan keinginan mengakhiri hidup atau melukai diri, segera bawa ke IGD rumah sakit terdekat.

Apa Itu Gangguan Emosional pada Anak Sekolah?

Anak usia sekolah sedang belajar banyak hal sekaligus: pelajaran, aturan kelas, pertemanan, dan cara mengelola perasaannya sendiri. Wajar kalau sesekali mereka menangis sebelum ujian, kesal karena kalah bermain, atau malu saat maju ke depan kelas. Perasaan seperti itu adalah bagian dari tumbuh kembang.

Istilah gangguan emosional dipakai ketika perasaan negatif itu menjadi terlalu kuat, terlalu sering, atau terlalu lama untuk usianya, sampai mengganggu kemampuan anak untuk belajar, bermain, dan bergaul. WHO memakai istilah emotional disorders untuk kelompok gangguan kecemasan dan depresi, dan menyebutnya umum dijumpai pada anak dan remaja (WHO).

Gangguan emosional berbeda dengan gangguan perilaku, walau keduanya sering tumpang tindih. Anak dengan gangguan emosional cenderung menanggung beban di dalam dirinya (cemas, murung, menarik diri), sedangkan gangguan perilaku lebih tampak keluar (melawan, merusak, agresif). Anak yang tampak "marah" di kelas bisa saja sebenarnya sedang cemas atau sedih.

Seberapa Sering Terjadi?

Menurut WHO, secara global satu dari tujuh (14,3%) anak dan remaja usia 10 sampai 19 tahun mengalami gangguan kesehatan mental. Depresi, kecemasan, dan gangguan perilaku termasuk penyebab utama sakit dan disabilitas pada kelompok usia ini (WHO).

KondisiUsia 10 sampai 14 tahunUsia 15 sampai 19 tahun
Gangguan kecemasan4,1%5,3%
Depresi1,3%3,4%
ADHD2,7%2,2%
Gangguan perilaku (conduct disorder)3,3%1,8%

Sumber angka: WHO, Mental health of adolescents. Angka ini estimasi global, bukan angka khusus Indonesia.

WHO juga mencatat bahwa gangguan kecemasan dan depresi dapat sangat memengaruhi kehadiran dan tugas sekolah, dan menarik diri dari pergaulan dapat memperparah rasa terisolasi (WHO).

Jenis Gangguan Emosional yang Umum

1. Gangguan kecemasan

Kecemasan adalah jenis yang paling sering. Bentuknya bisa berupa cemas berpisah dari orang tua, cemas berlebihan tentang banyak hal, takut tampil atau berbicara di depan orang lain (kecemasan sosial), atau takut pada hal tertentu. Pada anak sekolah, kecemasan sering muncul sebagai keluhan fisik, misalnya sakit perut atau pusing di pagi hari sebelum berangkat.

2. Depresi

Depresi pada anak tidak selalu tampak sebagai sedih. WHO menyebut depresi dan kecemasan punya sebagian gejala yang sama, termasuk perubahan suasana hati yang cepat dan tak terduga (WHO). Anak bisa tampak mudah tersinggung, kehilangan minat pada hal yang dulu disukai, lelah terus, atau sering berkata dirinya tidak berguna.

3. Obsesif kompulsif

Sebagian anak mengulang tindakan atau memeriksa sesuatu berkali-kali karena takut hal buruk akan terjadi, misalnya berulang kali memastikan pintu terkunci (NIMH).

4. Masalah emosi yang menyertai kondisi lain

Anak dengan ADHD, autisme, atau kesulitan belajar juga bisa mengalami kecemasan atau suasana hati yang menurun, misalnya karena berulang kali merasa gagal di kelas. Pada anak berkebutuhan khusus, tanda emosinya kadang tertutup oleh kondisi utamanya, sehingga perlu pengamatan yang lebih cermat. Pembahasan untuk usia remaja ada di artikel kesehatan mental remaja berkebutuhan khusus.

Tanda yang Perlu Diwaspadai

National Institute of Mental Health (NIMH) Amerika Serikat mencantumkan sejumlah tanda yang patut diperhatikan pada anak, di antaranya (NIMH):

Di sekolah, guru mungkin melihat tanda tambahan seperti sering izin ke UKS dengan keluhan fisik, menolak masuk kelas, nilai turun tanpa sebab jelas, menarik diri dari teman, atau reaksi marah yang tidak sebanding dengan pemicunya.

Emosi Wajar atau Gangguan?

NIMH mengingatkan bahwa semua anak kadang sedih, cemas, mudah marah, atau agresif, dan umumnya itu fase perkembangan yang biasa. Orang tua disarankan mencari bantuan bila perilaku atau emosi anak (NIMH):

  1. berlangsung berminggu-minggu atau lebih,
  2. membuat anak atau keluarga tertekan, atau
  3. mengganggu fungsi anak di sekolah, di rumah, atau dengan teman.

Tiga pertanyaan ini sederhana tetapi berguna. Anak yang menangis di hari pertama masuk sekolah lalu perlahan menyesuaikan diri berbeda dengan anak yang berbulan-bulan sakit perut setiap pagi dan akhirnya sering tidak masuk.

Faktor yang Ikut Berperan

Gangguan emosional jarang punya satu penyebab. Biasanya beberapa faktor saling bertemu:

WHO menekankan pentingnya lingkungan yang melindungi dan mendukung di keluarga, sekolah, dan masyarakat, serta kebiasaan seperti pola tidur sehat, olahraga teratur, dan keterampilan mengelola emosi (WHO).

Dampaknya pada Belajar

Anak yang terus cemas atau murung menghabiskan banyak energi untuk menahan perasaannya, sehingga sulit berkonsentrasi dan mengingat pelajaran. Hasilnya bisa terlihat seperti malas atau tidak mampu, padahal akar masalahnya emosional. Sebaliknya, kegagalan akademik yang berulang juga bisa memicu rasa cemas dan rendah diri. Karena itu, asesmen sebaiknya melihat kedua sisi: kemampuan belajar dan kondisi emosinya. Informasi tentang proses asesmen ada di artikel asesmen ABK.

Langkah untuk Orang Tua

Langkah untuk Guru

Di kelas inklusi, strategi pengelolaan kelas yang terstruktur juga membantu anak yang mudah cemas. Contohnya dibahas di artikel classroom management kelas inklusi.

Penanganan Profesional

Penanganan dimulai dengan asesmen oleh psikolog klinis atau dokter. NIMH menjelaskan bahwa evaluasi dapat memakai informasi dari sekolah, seperti laporan perilaku, kemampuan, dan kesulitan anak, lalu profesional menilai apakah emosi dan perilaku anak berkaitan dengan perubahan atau tekanan di rumah dan sekolah, atau mengarah pada gangguan yang perlu diterapi (NIMH).

Untuk kecemasan dan depresi, terapi psikologis menjadi pilihan utama. Pedoman NICE menganjurkan CBT individual atau kelompok yang berfokus pada kecemasan sosial untuk anak dan remaja dengan gangguan kecemasan sosial (NICE CG159), dan mencantumkan CBT di antara pilihan terapi psikologis untuk depresi pada anak dan remaja (NICE NG134). Tinjauan Cochrane atas 87 studi dengan 5.964 peserta di bawah 19 tahun menemukan 49,4% anak yang menjalani CBT tidak lagi memenuhi kriteria gangguan kecemasan utamanya, dibanding 17,8% pada kelompok yang menunggu atau tanpa terapi (James dkk., Cochrane 2020).

Cara kerja terapi ini dijelaskan lebih rinci di artikel terapi perilaku kognitif anak. Pilihan terapi lain bisa dibaca di macam-macam terapi pada anak dan terapi bermain. Referensi layanan di sekitar Yogyakarta tersedia di tempat terapi anak Jogja. Obat hanya diberikan atas pertimbangan dan resep dokter.

Pendampingan di YUKA

YUKA mendampingi anak berkebutuhan khusus melalui pendidikan inklusi dan layanan terapi di Sleman. Untuk berdiskusi tentang kebutuhan anak Anda, hubungi tim YUKA melalui halaman kontak atau lihat program YUKA.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa yang dimaksud gangguan emosional pada anak sekolah?

Gangguan emosional adalah masalah perasaan seperti cemas, takut, sedih, atau mudah marah yang berlangsung lama, lebih berat dari yang wajar untuk usianya, dan mengganggu kehidupan anak di sekolah, di rumah, atau dengan teman. Yang paling sering adalah gangguan kecemasan dan depresi. Diagnosis hanya bisa ditegakkan oleh psikolog klinis atau dokter.

Bagaimana membedakan emosi yang wajar dengan gangguan emosional?

Semua anak kadang sedih, cemas, atau marah. Menurut NIMH, orang tua sebaiknya mencari bantuan bila perilaku atau emosi anak berlangsung berminggu-minggu atau lebih, membuat anak atau keluarga tertekan, atau mengganggu fungsi anak di sekolah, di rumah, atau dengan teman.

Seberapa sering gangguan emosional terjadi pada anak?

WHO memperkirakan satu dari tujuh anak dan remaja usia 10 sampai 19 tahun di dunia mengalami gangguan kesehatan mental. Gangguan kecemasan dialami sekitar 4,1% anak usia 10 sampai 14 tahun, dan depresi sekitar 1,3% pada kelompok usia yang sama.

Apa yang bisa dilakukan guru di kelas?

Guru dapat mencatat perubahan perilaku secara spesifik, berbicara dengan orang tua, memberi ruang tenang saat anak kewalahan, menyesuaikan tugas sementara, dan mengarahkan keluarga ke psikolog sekolah atau layanan kesehatan. Guru tidak perlu mendiagnosis, cukup mengamati dan menghubungkan.

Terapi apa yang dipakai untuk gangguan emosional anak?

Untuk kecemasan dan depresi, terapi psikologis seperti terapi perilaku kognitif (CBT) punya bukti paling kuat. Tinjauan Cochrane 2020 menemukan 49,4% anak dengan gangguan kecemasan tidak lagi memenuhi kriteria gangguannya setelah CBT, dibanding 17,8% pada kelompok yang belum diterapi. Jenis terapi ditentukan profesional setelah asesmen.

Artikel Terkait