Pendamping dan anak-anak duduk melingkar di lantai, tangan mereka memeras jeruk nipis ke dalam wadah
Kegiatan kelompok bersama pendamping di YUKA: anak-anak memeras jeruk nipis ke dalam wadah secara bergantian. Foto: dokumentasi YUKA Indonesia

Singkatnya: terapi perilaku kognitif anak atau CBT (cognitive behavioral therapy) adalah terapi psikologis terstruktur yang mengajari anak mengenali hubungan antara pikiran, perasaan, dan perilakunya, lalu berlatih cara menghadapi masalah dengan lebih baik. Bukti ilmiahnya paling kuat untuk kecemasan dan OCD pada anak, dan CBT juga menjadi salah satu pilihan untuk depresi pada anak dan remaja. Pada anak, terapi ini dibuat lebih konkret dan hampir selalu melibatkan orang tua.

Catatan sebelum membaca

Artikel ini adalah informasi umum untuk orang tua, guru, dan pendamping, bukan alat diagnosis dan bukan saran medis. Keputusan apakah anak membutuhkan CBT, dan dalam bentuk apa, ditentukan oleh psikolog klinis atau dokter setelah asesmen. CBT tidak menyembuhkan kondisi perkembangan seperti autisme atau ADHD; yang dibantu adalah masalah emosi dan perilaku yang menyertainya.

Apa Itu Terapi Perilaku Kognitif Anak?

Terapi perilaku kognitif, dalam bahasa Inggris cognitive behavioral therapy (CBT), adalah salah satu bentuk terapi bicara atau psikoterapi. Dasarnya sederhana: cara kita berpikir tentang suatu kejadian memengaruhi apa yang kita rasakan, dan perasaan itu memengaruhi apa yang kita lakukan. Ketiganya saling mengunci dan bisa membentuk lingkaran yang membuat masalah bertahan.

Contohnya, seorang anak berpikir, "Kalau aku maju ke depan kelas, semua teman pasti menertawakanku." Pikiran itu membuatnya cemas, perutnya mulas, lalu ia menolak masuk sekolah. Karena ia terus menghindar, ia tidak pernah punya kesempatan membuktikan bahwa ketakutannya tidak terjadi, sehingga rasa cemasnya justru makin kuat. CBT membantu anak memutus lingkaran itu sedikit demi sedikit.

Berbeda dengan terapi yang banyak membahas masa lalu, CBT berfokus pada masalah yang terjadi sekarang, punya tujuan yang jelas, dan biasanya berlangsung dalam jumlah sesi yang terbatas. Anak juga diberi "pekerjaan rumah" berupa latihan kecil di antara sesi.

Bagaimana CBT Bekerja pada Anak?

Anak belum berpikir seabstrak orang dewasa, sehingga CBT untuk anak disesuaikan dengan usia dan tahap perkembangannya. Komponen yang umum dipakai:

KomponenTujuannyaContoh pada anak
PsikoedukasiAnak dan orang tua memahami apa yang terjadiMenjelaskan kecemasan sebagai "alarm tubuh" yang terlalu sensitif
Mengenali emosiAnak bisa menamai dan mengukur perasaannyaTermometer perasaan dari 1 sampai 10, kartu wajah emosi
Keterampilan menenangkan diriMenurunkan reaksi tubuh saat emosi memuncakNapas perut pelan, relaksasi otot sederhana
Restrukturisasi kognitifMenguji pikiran yang tidak membantu"Detektif pikiran": apa buktinya? apa kemungkinan lain?
Paparan bertahap (exposure)Menghadapi hal yang ditakuti selangkah demi selangkahTangga ketakutan, dari yang paling ringan ke yang paling berat
Pemecahan masalahMencari langkah praktis saat menghadapi kesulitanMenyusun beberapa pilihan lalu memilih yang paling masuk akal
Penguatan (reward)Menghargai usaha, bukan hanya hasilPujian spesifik, stiker, atau kegiatan yang disukai

Untuk anak yang lebih kecil, porsi latihan perilaku dan keterlibatan orang tua biasanya lebih besar. Untuk remaja, porsi diskusi tentang pikiran bisa lebih besar. Pedoman NICE untuk kecemasan sosial, misalnya, menganjurkan untuk mempertimbangkan pelibatan orang tua atau pengasuh agar intervensinya berjalan efektif, terutama pada anak yang masih kecil (NICE CG159).

Untuk Masalah Apa CBT Dipakai?

CBT bukan jawaban untuk semua masalah anak. Berdasarkan pedoman dan penelitian, pemakaiannya yang paling kuat buktinya adalah:

Untuk masalah perilaku seperti tantrum berat atau perilaku menentang pada anak kecil, pendekatan yang lebih banyak dipakai biasanya pelatihan orang tua berbasis perilaku. Karena itu, asesmen awal oleh psikolog penting agar jenis terapinya tepat. Gambaran pilihan terapi lain ada di artikel macam-macam terapi pada anak.

Apa Kata Penelitian?

Kecemasan: bukti paling banyak

Tinjauan Cochrane tahun 2020 merangkum 87 studi dengan 5.964 peserta berusia di bawah 19 tahun yang mengalami gangguan kecemasan. Setelah terapi, 49,4% anak yang menjalani CBT tidak lagi memenuhi kriteria gangguan kecemasan utamanya, dibanding 17,8% pada kelompok yang menunggu atau tanpa terapi. Artinya, kira-kira satu dari setiap tiga anak yang diterapi mendapat manfaat tambahan (James dkk., Cochrane 2020).

Tinjauan yang sama juga jujur soal keterbatasannya: bukti bahwa CBT lebih unggul dibanding layanan biasa atau terapi alternatif lain masih sedikit, dan tidak ada efek samping yang dilaporkan, walau efek samping jarang dipantau secara sistematis. Jadi CBT jelas lebih baik daripada tidak diterapi, tetapi bukan satu-satunya jalan.

Uji klinis besar CAMS melibatkan 488 anak usia 7 sampai 17 tahun dengan gangguan kecemasan. Setelah 12 minggu, anak yang dinilai membaik banyak atau sangat banyak mencapai 59,7% pada kelompok CBT, 54,9% pada kelompok obat sertraline, dan 80,7% pada kombinasi keduanya, semuanya lebih baik daripada plasebo. Kelompok CBT juga lebih jarang mengalami sulit tidur, lelah, dan gelisah dibanding kelompok obat (Walkup dkk., 2008). Pemberian obat tentu hanya boleh atas resep dan pengawasan dokter.

OCD

Studi POTS pada anak dan remaja usia 7 sampai 17 tahun dengan OCD menemukan angka remisi setelah 12 minggu sebesar 53,6% untuk kombinasi CBT dan sertraline, 39,3% untuk CBT saja, 21,4% untuk sertraline saja, dan 3,6% untuk plasebo. Penulisnya menyimpulkan anak dengan OCD sebaiknya memulai penanganan dengan CBT saja atau CBT bersama obat (POTS Team, 2004).

CBT untuk Anak Berkebutuhan Khusus

Kecemasan cukup sering menyertai autisme dan ADHD. Meta-analisis atas 8 uji acak dengan 469 peserta autis menemukan penurunan kecemasan yang besar setelah CBT, baik menurut penilaian klinisi maupun orang tua. Penulisnya tetap mencatat perlunya penelitian lanjutan dengan kelompok kontrol yang lebih ketat (Sukhodolsky dkk., 2013).

Sebagian besar studi itu melibatkan anak autis dengan kemampuan bahasa yang cukup. Tinjauan Cochrane juga mencatat masih sedikit bukti untuk anak dengan hambatan intelektual (James dkk., 2020). Karena itu, untuk anak berkebutuhan khusus CBT biasanya dimodifikasi:

Untuk ADHD, CBT tidak menggantikan penanganan inti yang dianjurkan dokter, tetapi dapat membantu remaja dengan keterampilan mengatur diri dan masalah emosi yang menyertai. Pilihan penanganan ADHD dibahas di artikel terapi ADHD pada anak.

Seperti Apa Sesi CBT Anak?

  1. Asesmen awal. Psikolog berbicara dengan orang tua dan anak, mengamati, dan bila perlu memakai alat tes untuk memahami masalah dan kekuatan anak. Informasi soal proses tes ada di artikel asesmen ABK.
  2. Menyusun tujuan bersama. Tujuannya konkret, misalnya "bisa masuk kelas tanpa menangis" atau "bisa tidur di kamar sendiri".
  3. Sesi terstruktur. Setiap sesi biasanya diawali meninjau latihan minggu lalu, mempelajari satu keterampilan baru, lalu mempraktikkannya. Dalam uji CAMS, program CBT berlangsung 14 sesi selama 12 minggu (Walkup dkk., 2008), tetapi jumlah sesi setiap anak bisa berbeda.
  4. Latihan di rumah dan sekolah. Keterampilan baru dilatih di situasi nyata, dibantu orang tua dan guru.
  5. Evaluasi dan penutupan. Kemajuan diukur, lalu disusun rencana agar anak tetap memakai keterampilannya dan tahu apa yang dilakukan bila gejalanya kambuh.

Peran Orang Tua dan Guru

Hasil CBT anak sangat dipengaruhi apa yang terjadi di antara sesi. Beberapa hal yang bisa dilakukan:

Guru dapat membantu dengan menyepakati strategi yang sama dengan orang tua dan terapis, memberi waktu tenang saat anak kewalahan, dan menghargai langkah kecil anak di kelas. Anak yang juga mengalami kesulitan belajar perlu dukungan akademik yang terpisah dari CBT.

Memilih Tenaga Profesional

Referensi tempat layanan di sekitar Yogyakarta tersedia di artikel tempat terapi anak Jogja.

Pendampingan di YUKA

YUKA mendampingi anak berkebutuhan khusus melalui pendidikan inklusi dan layanan terapi di Sleman. Untuk mengetahui layanan yang tersedia, hubungi tim YUKA melalui halaman kontak atau lihat program YUKA.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa itu terapi perilaku kognitif untuk anak?

Terapi perilaku kognitif atau CBT (cognitive behavioral therapy) adalah terapi psikologis terstruktur yang membantu anak mengenali hubungan antara pikiran, perasaan, dan perilaku, lalu berlatih cara berpikir dan bertindak yang lebih membantu. Pada anak, CBT biasanya dibuat lebih konkret dengan gambar, permainan, dan latihan bertahap, serta melibatkan orang tua.

CBT anak cocok untuk masalah apa saja?

Bukti terkuat ada pada gangguan kecemasan anak, termasuk kecemasan sosial, dan pada gangguan obsesif kompulsif (OCD). Pedoman NICE juga mencantumkan CBT sebagai salah satu pilihan terapi psikologis untuk depresi pada anak dan remaja. Penelitian juga menunjukkan hasil positif untuk kecemasan pada anak autis dengan kemampuan verbal yang memadai.

Berapa lama terapi perilaku kognitif anak?

Tergantung masalah dan kondisi anak. Sebagai gambaran, dalam uji klinis besar CAMS, anak usia 7 sampai 17 tahun dengan gangguan kecemasan mendapat 14 sesi CBT selama 12 minggu. Jumlah sesi yang tepat ditentukan oleh psikolog setelah asesmen.

Apakah CBT bisa untuk anak autis?

Bisa, terutama untuk menangani kecemasan pada anak autis yang sudah mampu berkomunikasi secara verbal. Meta-analisis 8 uji acak dengan 469 peserta autis menemukan penurunan kecemasan yang besar setelah CBT, walau penulisnya meminta studi lanjutan dengan kelompok kontrol yang lebih ketat. CBT tidak menyembuhkan autisme, tetapi membantu anak mengelola kecemasannya.

Siapa yang boleh memberikan CBT untuk anak?

CBT sebaiknya diberikan oleh psikolog klinis atau tenaga kesehatan jiwa yang terlatih dalam CBT dan dalam menangani anak. Pedoman NICE menekankan terapi psikologis untuk anak diberikan oleh tenaga yang terlatih di bidang kesehatan jiwa anak dan remaja.

Artikel Terkait