Tangan siswa membentuk adonan di atas alas silikon biru saat kegiatan memasak di YUKA
Apa pun levelnya, setiap anak belajar lewat kegiatan nyata dengan dukungan yang disesuaikan. Foto: dokumentasi YUKA Indonesia

Singkatnya: autisme level 1, 2, dan 3 adalah penanda tingkat keparahan dalam DSM-5 yang menunjukkan seberapa besar dukungan yang dibutuhkan seseorang dengan gangguan spektrum autisme. Level 1 berarti "membutuhkan dukungan", Level 2 "membutuhkan dukungan substansial", dan Level 3 "membutuhkan dukungan sangat substansial". Level dinilai terpisah untuk komunikasi sosial dan untuk perilaku yang terbatas serta berulang. Level bukan ukuran kecerdasan dan bukan vonis permanen.

Catatan sebelum membaca

Artikel ini adalah informasi umum untuk orang tua, guru, dan pendamping, bukan alat diagnosis. Status tinjauan medis: belum ditinjau oleh tenaga medis. Diagnosis autisme dan penentuan levelnya hanya bisa dilakukan lewat asesmen langsung oleh tenaga profesional yang berkompeten.

Apa Itu Autisme Level 1 2 3 dan Dari Mana Asalnya?

Istilah level 1, 2, dan 3 berasal dari DSM-5, buku pedoman diagnosis gangguan mental yang diterbitkan American Psychiatric Association (APA) pada 2013. Sebelum DSM-5, autisme dibagi menjadi beberapa diagnosis terpisah, misalnya gangguan autistik, sindrom Asperger, dan PDD-NOS. DSM-5 menyatukannya menjadi satu diagnosis bernama autism spectrum disorder atau gangguan spektrum autisme, lalu menambahkan penanda tingkat keparahan untuk menggambarkan perbedaan antarindividu.

Weitlauf dan rekan dari Vanderbilt Kennedy Center menuliskan bahwa DSM-5 memuat tiga klasifikasi keparahan, yaitu Level 1 ("Requiring support"), Level 2 ("Requiring substantial support"), dan Level 3 ("Requiring very substantial support") (Weitlauf dkk., 2014). Dalam bahasa Indonesia, ketiganya bisa diartikan sebagai membutuhkan dukungan, membutuhkan dukungan substansial, dan membutuhkan dukungan sangat substansial.

Jadi, yang diukur oleh level bukanlah "seberapa autis" seorang anak, melainkan seberapa besar bantuan yang ia perlukan agar bisa berfungsi dalam kehidupan sehari-hari. Pengertian dasar autisme, ciri, dan penyebabnya dibahas di artikel autisme adalah.

Autisme sendiri bukan kondisi langka. Laporan jaringan pemantauan ADDM milik CDC Amerika Serikat mencatat prevalensi 32,2 per 1.000 anak usia 8 tahun, atau sekitar 1 dari 31 anak, di 16 wilayah pemantauan pada 2022 (Shaw dkk., MMWR 2025). Angka ini berlaku untuk wilayah yang dipantau di Amerika Serikat, bukan angka Indonesia.

Dua Area yang Dinilai: Komunikasi Sosial dan Perilaku Berulang

Hal yang sering terlewat: level tidak diberikan sebagai satu angka tunggal. Klasifikasinya dibagi ke dua area yang mencerminkan dua kelompok gejala inti autisme, yaitu komunikasi sosial dan perilaku yang terbatas serta berulang (Weitlauf dkk., 2014).

Karena dinilai terpisah, seorang anak bisa mendapat level yang berbeda di tiap area. Misalnya, level 2 untuk komunikasi sosial dan level 1 untuk perilaku berulang. Dalam penelitian Gardner dan rekan (2018) pada 158 individu autis di sebuah klinik disabilitas perkembangan, sekitar 46% dinilai membutuhkan dukungan level 2 pada komunikasi sosial dan 49% pada perilaku berulang. Tidak ada satu pun yang mendapat kombinasi level 1 di satu area dan level 3 di area lain (Gardner dkk., 2018).

Perbandingan Autisme Level 1, 2, dan 3

Tabel berikut adalah gambaran umum untuk memudahkan pemahaman. Setiap anak tetap unik, dan contoh di bawah bukan daftar periksa untuk mendiagnosis sendiri.

LevelArti dalam DSM-5Gambaran komunikasi sosialGambaran perilaku berulang
Level 1Membutuhkan dukunganBisa berbicara dalam kalimat, tetapi kesulitan memulai atau menjaga percakapan timbal balik. Tanpa dukungan, kesulitannya tampak jelas.Sulit berpindah dari satu kegiatan ke kegiatan lain, kesulitan mengatur dan merencanakan, sehingga kemandirian terhambat.
Level 2Membutuhkan dukungan substansialKesulitan komunikasi verbal dan nonverbal yang nyata walau sudah didukung. Interaksi terbatas dan sering terbatas pada minat khusus.Perilaku berulang dan sulitnya menerima perubahan cukup sering terlihat oleh orang sekitar dan mengganggu berbagai kegiatan.
Level 3Membutuhkan dukungan sangat substansialKesulitan komunikasi berat. Bisa jadi hanya menggunakan sedikit kata dan jarang memulai interaksi.Sangat sulit menghadapi perubahan. Perilaku berulang sangat mengganggu fungsi di hampir semua situasi.

Deskripsi di atas adalah ringkasan bebas dari kerangka tiga level DSM-5, disederhanakan untuk orang tua. Kriteria lengkap dan rumusan resminya ada di DSM-5 terbitan American Psychiatric Association.

Autisme Level 1: Membutuhkan Dukungan

Anak dengan level 1 sering dianggap "tidak kelihatan autis" karena bisa berbicara lancar dan mengikuti pelajaran. Namun kesulitannya nyata. Ia mungkin tidak tahu cara bergabung dalam permainan teman, terlalu lama membicarakan satu topik favorit, atau kesulitan memahami candaan dan sindiran. Perubahan jadwal mendadak bisa membuatnya sangat gelisah.

Sebelum DSM-5, sebagian anak dengan profil seperti ini mungkin didiagnosis sindrom Asperger. Kini istilah itu tidak lagi dipakai sebagai diagnosis terpisah dalam DSM-5.

Dukungan yang sering membantu anak level 1 antara lain latihan keterampilan sosial, jadwal yang bisa diprediksi, dan penjelasan eksplisit tentang aturan pergaulan. Contoh programnya ada di artikel social skills training anak autis.

Autisme Level 2: Membutuhkan Dukungan Substansial

Pada level 2, kesulitan komunikasi dan perilaku berulang lebih mudah terlihat oleh orang lain, bahkan ketika anak sudah mendapat bantuan. Anak mungkin berbicara dengan kalimat pendek, jarang menanggapi ajakan interaksi, atau menunjukkan kecemasan tinggi ketika rutinitasnya berubah.

Anak level 2 biasanya membutuhkan pendampingan yang lebih terstruktur, baik di rumah maupun di sekolah. Alat bantu visual seperti jadwal visual dan latihan joint attention sering menjadi bagian dari programnya.

Autisme Level 3: Membutuhkan Dukungan Sangat Substansial

Level 3 menggambarkan kebutuhan dukungan paling besar. Anak mungkin belum atau sangat sedikit menggunakan bahasa lisan, sangat sulit menghadapi perubahan, dan membutuhkan bantuan untuk banyak kegiatan harian. Sebagian anak juga memiliki kondisi penyerta seperti disabilitas intelektual atau epilepsi, yang perlu ditangani oleh dokter.

Anak level 3 tetap bisa belajar dan berkembang. Komunikasi alternatif (gambar, isyarat, atau perangkat bantu), terapi yang intensif dan terkoordinasi, serta keluarga yang didampingi dengan baik membuat perbedaan besar. Gambaran berbagai jenis terapi ada di artikel macam-macam terapi pada anak.

Yang Tidak Dijelaskan oleh Level Autisme

Level berguna untuk menggambarkan kebutuhan dukungan dan merencanakan layanan, tetapi punya batasan yang penting dipahami orang tua:

Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua?

  1. Pastikan diagnosis dari tenaga profesional. Asesmen dilakukan oleh psikolog klinis, psikiater anak, atau dokter spesialis anak yang berpengalaman. Kisaran biaya dan prosesnya dibahas di artikel tes psikolog anak bayar berapa.
  2. Tanyakan rincian, bukan hanya angka. Minta penjelasan kemampuan apa yang sudah kuat dan area mana yang paling butuh dukungan, termasuk level di tiap area.
  3. Mulai intervensi sedini mungkin. Ringkasan bukti tentang intervensi dini ada di artikel systematic review intervensi dini autisme.
  4. Pilih sekolah yang sesuai kebutuhan. Anak dengan kebutuhan dukungan berbeda membutuhkan penyesuaian berbeda. Pelajari pendidikan inklusi dan pilihan sekolah autis di Yogyakarta.
  5. Jaga diri sendiri. Menerima diagnosis bukan hal mudah. Artikel menerima diagnosis anak ABK dan tips mendampingi anak autis bisa menjadi titik awal.

Bila anak juga menunjukkan tanda sulit fokus dan hiperaktif, bedanya dengan ADHD dijelaskan di artikel perbedaan autis dan ADHD.

Pendampingan di YUKA

YUKA mendampingi anak berkebutuhan khusus, termasuk anak autis dengan berbagai kebutuhan dukungan, melalui pendidikan inklusi dan layanan terapi di Sleman. Untuk berdiskusi tentang kebutuhan anak Anda, hubungi tim YUKA melalui halaman kontak atau lihat program YUKA.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa itu autisme level 1, 2, dan 3?

Level 1, 2, dan 3 adalah penentu tingkat keparahan dalam DSM-5 untuk gangguan spektrum autisme. Level 1 berarti membutuhkan dukungan, Level 2 membutuhkan dukungan substansial, dan Level 3 membutuhkan dukungan sangat substansial. Penilaiannya dibuat terpisah untuk komunikasi sosial dan untuk perilaku yang terbatas serta berulang.

Apakah autisme level 1 sama dengan autis ringan?

Tidak persis. Level 1 berarti anak masih membutuhkan dukungan, hanya saja dalam jumlah lebih kecil dibanding level lain. Kesulitannya tetap nyata dan bisa sangat terasa di sekolah atau pergaulan bila dukungannya tidak ada.

Apakah level autisme menunjukkan tingkat kecerdasan anak?

Tidak. Level menggambarkan kebutuhan dukungan pada komunikasi sosial dan perilaku berulang. Penelitian Weitlauf dan rekan (2014) pada 726 anak dan remaja autis menemukan bahwa tingkat gejala autisme, kemampuan kognitif, dan fungsi adaptif tidak selalu sejalan.

Apakah level autisme bisa berubah?

Level menggambarkan kebutuhan dukungan saat penilaian dilakukan, sehingga bisa dinilai ulang ketika kemampuan dan kondisi anak berubah. Karena itu, evaluasi berkala bersama tenaga profesional lebih berguna daripada berpegang pada satu angka.

Siapa yang berhak menentukan level autisme anak?

Level ditentukan oleh tenaga profesional yang melakukan asesmen diagnostik, misalnya psikolog klinis, psikiater anak, atau dokter spesialis anak yang berpengalaman menangani autisme. Level tidak bisa ditentukan dari tes daring atau daftar ciri di internet.

Artikel Terkait