Social skills training anak autis adalah latihan terstruktur untuk membantu anak memahami dan mempraktikkan cara berinteraksi, misalnya menyapa, bergiliran, memulai obrolan, bermain bersama, dan menghadapi penolakan. Latihan ini biasanya diberikan dalam kelompok kecil, disertai contoh langsung, bermain peran, dan tugas latihan di rumah. Tinjauan Cochrane menemukan bukti bahwa kelompok keterampilan sosial dapat meningkatkan kompetensi sosial pada sebagian anak dan remaja autis, tetapi hasilnya tidak sama pada semua anak dan perlu didukung latihan di rumah serta di sekolah.

Artikel ini ditulis untuk orang tua, guru, dan pendamping yang ingin tahu apa saja yang dilatih, seberapa kuat bukti ilmiahnya, contoh program yang sudah diteliti, dan cara memilih layanan yang tepat. Bila Ayah dan Bunda baru mulai mengenal kondisi ini, pengertian dasarnya sudah kami bahas di artikel autisme adalah, jadi di sini kita langsung fokus pada latihan keterampilan sosial.

Catatan sebelum membaca

Artikel ini berisi informasi umum, bukan rencana terapi untuk anak tertentu. Jenis, intensitas, dan tujuan latihan sebaiknya ditentukan bersama dokter spesialis anak, psikolog klinis, atau terapis yang sudah memeriksa anak secara langsung. Tidak ada program yang bisa menjanjikan hasil yang sama untuk setiap anak.

Apa Itu Social Skills Training untuk Anak Autis

National Institute of Mental Health (NIMH) menjelaskan bahwa orang dengan autisme memiliki gejala yang sangat beragam, termasuk perbedaan dalam perilaku sosial dan komunikasi. Kementerian Kesehatan RI juga menyebut autisme sebagai gangguan perkembangan neurologis yang memengaruhi interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku. Karena itu, banyak anak autis membutuhkan bantuan khusus untuk memahami "aturan tak tertulis" dalam pergaulan yang bagi anak lain dipelajari tanpa sadar.

Social skills training (pelatihan keterampilan sosial) mengisi celah itu dengan cara yang eksplisit. Aturan sosial dipecah menjadi langkah kecil, dijelaskan dengan bahasa sederhana, dicontohkan, lalu dipraktikkan berulang dalam situasi yang aman. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menggambarkan kelompok keterampilan sosial sebagai kesempatan bagi individu autis untuk berlatih keterampilan sosial di lingkungan yang terstruktur.

Penting dipahami sejak awal: tujuannya bukan membuat anak "tampak tidak autis". Tujuannya membantu anak punya pilihan dan kepercayaan diri saat ingin berteman, bekerja sama di kelas, atau meminta bantuan, dengan tetap menghargai cara anak berkomunikasi.

Keterampilan yang Biasa Dilatih

Materi latihan disesuaikan dengan usia dan tahap perkembangan anak. Secara umum, program keterampilan sosial menyentuh beberapa kelompok kemampuan berikut:

Untuk anak yang belum banyak berbicara, latihan biasanya dimulai dari komunikasi dasar lebih dulu, misalnya dengan bantuan gambar atau perangkat komunikasi. Pilihan alatnya dibahas di artikel aplikasi komunikasi AAC untuk anak.

Seberapa Kuat Bukti Ilmiahnya

Social skills training sering direkomendasikan, tetapi orang tua berhak tahu apa yang benar-benar sudah terbukti. Tiga tinjauan sistematis berikut paling sering dijadikan rujukan:

TinjauanCakupanTemuan utama
Cochrane, Reichow dan rekan (2012)5 uji acak terkontrol, 196 peserta usia 6 sampai 21 tahunAda bukti peningkatan kompetensi sosial (effect size 0,47) dan kualitas pertemanan (0,41). Tidak ada perbedaan bermakna pada kemampuan mengenali emosi.
Gates dan rekan (2017), Clinical Psychology Review19 uji acak terkontrol program kelompokEfek keseluruhan sedang (g = 0,51). Efek terbesar pada pengetahuan sosial anak, sedangkan laporan guru tidak menunjukkan perubahan bermakna.
Wolstencroft dan rekan (2018), Journal of Autism and Developmental DisordersUji acak terkontrol program kelompok, usia 6 sampai 25 tahunProgram yang menyertakan kelompok orang tua, serta yang lebih lama atau lebih intensif, menunjukkan efek lebih besar.

Ada beberapa catatan jujur dari para peneliti yang perlu diketahui orang tua. Tim Cochrane menilai risiko bias pada studi-studi tersebut tinggi, dan semua studi yang mereka ulas dilakukan di Amerika Serikat, sebagian besar pada anak usia 7 sampai 12 tahun dengan kemampuan intelektual rata-rata atau di atas rata-rata. Jadi hasilnya belum tentu berlaku sama untuk anak yang lebih kecil atau yang juga memiliki disabilitas intelektual.

Temuan Gates dan rekan juga memberi pelajaran penting: anak bisa menjadi lebih tahu tentang aturan sosial tanpa otomatis lebih sering mempraktikkannya. Para penulis menyimpulkan efek program kelompok tampak cukup baik, tetapi mungkin belum terbawa ke lingkungan sekolah. Inilah alasan keterlibatan orang tua dan guru begitu menentukan.

Bentuk-Bentuk Latihan

Social skills training bukan satu metode tunggal. Beberapa bentuk yang umum dipakai:

1. Kelompok keterampilan sosial

Beberapa anak dengan usia dan kemampuan yang mirip berlatih bersama di bawah bimbingan terapis. Setiap sesi biasanya berisi penjelasan singkat, contoh dari terapis, bermain peran, lalu praktik dalam permainan. Contoh program yang paling banyak diteliti adalah PEERS dari UCLA. Versi untuk remaja 11 sampai 17 tahun berlangsung 16 sesi mingguan selama 90 menit, dan orang tua mengikuti sesi terpisah pada waktu yang sama untuk belajar mendampingi anak berteman. Versi prasekolah untuk usia 4 sampai 6 tahun juga berlangsung 16 sesi mingguan dengan partisipasi orang tua sebagai syarat.

2. Social stories

Menurut CDC, social stories memberikan gambaran sederhana tentang apa yang bisa diharapkan dalam situasi sosial tertentu. Contohnya cerita pendek bergambar tentang "apa yang terjadi saat ulang tahun teman" yang dibaca beberapa hari sebelum acara. Cara ini cocok dipadukan dengan jadwal visual anak autis agar anak lebih siap menghadapi perubahan.

3. Latihan melalui teman sebaya (peer-mediated)

Teman sekelas yang sudah diberi pengarahan diajak menjadi mitra bermain dan memberi contoh. Pedoman NICE CG170 menyarankan pelibatan teman sebaya untuk anak usia sekolah. Pendekatan ini sejalan dengan kelas inklusi, yang praktiknya kami uraikan di artikel peer tutoring di kelas inklusi.

4. Latihan melalui orang tua dan guru

Untuk anak prasekolah, NICE menyarankan intervensi yang dijalankan melalui orang tua, pengasuh, atau guru dengan strategi berbasis bermain. Orang tua dilatih membaca pola komunikasi anak dan menanggapinya dengan lebih peka. Pendekatan berbasis bermain seperti Floortime termasuk dalam keluarga pendekatan sosial-relasional yang disebut CDC.

5. Contoh langsung dan umpan balik video

NICE menyebut teknik pemberian contoh oleh terapis dan umpan balik lewat rekaman video interaksi sebagai bagian dari intervensi sosial-komunikasi. Anak atau orang tua melihat rekaman interaksinya sendiri, lalu terapis menunjukkan bagian yang sudah berjalan baik dan yang bisa dicoba berbeda.

Di banyak tempat, latihan sosial juga disisipkan dalam terapi lain seperti terapi ABA, terapi wicara, atau terapi bermain. CDC mencatat pendekatan perilaku memiliki bukti paling banyak untuk menangani gejala autisme, dan pendekatan perkembangan sering dikombinasikan dengan pendekatan perilaku.

Apa Kata Pedoman Klinis

Pedoman NICE CG170 dari Inggris, yang terakhir diperbarui 14 Juni 2021, memuat rekomendasi yang cukup rinci. Untuk ciri inti autisme, NICE menyarankan mempertimbangkan intervensi sosial-komunikasi yang:

Pada rekomendasi yang sama, NICE menegaskan agar antipsikotik, antidepresan, antikonvulsan, dan diet eliminasi (seperti diet bebas gluten atau kasein) tidak digunakan untuk menangani ciri inti autisme. CDC juga menyatakan belum ada obat yang mengatasi gejala inti autisme; obat hanya dipakai untuk gejala penyerta. Jadi bila ada layanan yang menjanjikan "obat" atau suplemen untuk membuat anak mudah bergaul, sebaiknya Ayah dan Bunda bertanya ulang kepada dokter.

Laporan klinis American Academy of Pediatrics (Hyman dan rekan, Pediatrics 2020) menyebut bukti ilmiah untuk intervensi perilaku dan intervensi lain yang menyasar keterampilan tertentu terus bertambah, dan menekankan pengambilan keputusan bersama antara tenaga kesehatan dan keluarga saat memilih intervensi. Artinya, orang tua adalah bagian dari tim, bukan penonton.

Melanjutkan Latihan di Rumah

Karena keterampilan yang dipelajari di ruang terapi belum tentu otomatis terbawa ke kehidupan sehari-hari, latihan di rumah menjadi jembatannya. Beberapa hal sederhana yang bisa dicoba, setelah didiskusikan dengan terapis anak (contoh latihan per keterampilan dan per kegiatan harian ada di panduan cara melatih social skills anak autis di rumah):

  1. Pilih satu target per minggu. Misalnya "menyapa kakek saat datang". Target yang terlalu banyak sekaligus membuat anak dan orang tua sama-sama kewalahan.
  2. Pakai bahasa dan contoh yang sama dengan terapis. Tanyakan kalimat atau kartu yang dipakai di sesi, lalu gunakan hal yang sama di rumah supaya anak tidak bingung.
  3. Latih di situasi nyata yang pendek. Membayar di warung, memesan makanan, atau bermain ular tangga lima menit bersama saudara lebih bermakna daripada latihan panjang di meja.
  4. Beri pujian yang spesifik. "Kamu tadi menunggu giliran dengan sabar" lebih jelas daripada "pintar". Sistem penghargaan yang konsisten bisa membantu, seperti diuraikan di artikel reward system untuk anak autis.
  5. Atur pertemuan bermain yang terstruktur. Satu teman, durasi singkat, kegiatan yang disukai anak, dan tempat yang tidak terlalu ramai atau bising.
  6. Hargai kebutuhan istirahat. Interaksi sosial bisa sangat melelahkan bagi anak autis. Waktu menyendiri setelah acara keluarga bukan tanda latihan gagal.
  7. Libatkan sekolah. Ceritakan target latihan kepada guru atau guru pendamping agar anak mendapat kesempatan berlatih yang sama di kelas.

Tips pendampingan sehari-hari lainnya bisa Ayah dan Bunda baca di artikel tips mendampingi anak autis.

Cara Memilih Program Social Skills Training

Layanan kelompok sosial kini banyak tersedia di klinik tumbuh kembang dan pusat terapi. Pertanyaan berikut bisa membantu menilai apakah sebuah program cocok untuk anak:

Bila anak belum pernah diperiksa, langkah pertama tetap konsultasi ke dokter spesialis anak atau klinik tumbuh kembang. Dari sana anak bisa dirujuk ke psikolog klinis, terapis okupasi, atau terapis wicara sesuai kebutuhannya. Gambaran jenis-jenis terapi yang tersedia ada di artikel apa saja terapi anak berkebutuhan khusus.

Pendampingan di YUKA

Di Sekolah Inklusi Taruna Imani, anak-anak berkebutuhan khusus belajar dan bermain bersama teman sebayanya setiap hari, sehingga ada banyak kesempatan alami untuk berlatih menyapa, bergiliran, dan bekerja sama. YUKA bukan fasilitas kesehatan dan tidak menegakkan diagnosis; bila guru melihat anak membutuhkan penanganan khusus, kami menyampaikannya kepada orang tua dan menyarankan pemeriksaan ke tenaga profesional.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Mulai usia berapa anak autis bisa ikut social skills training?

Latihan bisa dimulai sejak usia prasekolah, tetapi bentuknya berbeda. NICE menganjurkan intervensi sosial-komunikasi berbasis bermain yang melibatkan orang tua, pengasuh, atau guru untuk anak prasekolah, dan melibatkan teman sebaya untuk anak usia sekolah. Program kelompok seperti PEERS dari UCLA punya versi untuk usia 4 sampai 6 tahun dan untuk remaja 11 sampai 17 tahun.

Apakah social skills training bisa menyembuhkan autisme?

Tidak. Autisme bukan penyakit yang disembuhkan, dan tujuan latihan adalah membantu anak memahami serta menjalani interaksi sosial dengan lebih nyaman. Tinjauan Cochrane menemukan bukti bahwa kelompok keterampilan sosial dapat meningkatkan kompetensi sosial pada sebagian anak dan remaja autis, dengan catatan kualitas buktinya masih terbatas. Hasil tiap anak berbeda.

Berapa lama program social skills training biasanya berjalan?

Durasinya bergantung pada program. Sebagai contoh, PEERS for Adolescents dari UCLA berlangsung 16 sesi mingguan, masing-masing 90 menit, dengan sesi terpisah untuk orang tua. Meta-analisis Wolstencroft dan rekan (2018) menemukan program yang lebih lama atau lebih intensif, serta yang menyertakan kelompok orang tua, cenderung menunjukkan efek lebih besar.

Apakah anak cukup ikut kelas di tempat terapi saja?

Sebaiknya tidak. Meta-analisis Gates dan rekan (2017) menunjukkan efek latihan kelompok paling besar pada pengetahuan sosial anak, sedangkan perubahan yang dilaporkan guru tidak bermakna. Artinya keterampilan yang dipelajari di ruang terapi perlu dilatih ulang di rumah dan di sekolah agar terbawa ke kehidupan sehari-hari.

Siapa yang sebaiknya memberikan social skills training?

NICE menyebut intervensi sosial-komunikasi sebaiknya diberikan oleh tenaga profesional yang terlatih. Di Indonesia, orang tua bisa memulai dari dokter spesialis anak atau klinik tumbuh kembang, lalu dirujuk ke psikolog klinis, terapis okupasi, atau terapis wicara yang berpengalaman menangani anak autis.

Artikel Terkait