Perundungan bukan sekadar pertengkaran anak. CDC membatasinya sebagai perilaku agresif yang tidak diinginkan, disertai ketimpangan kekuatan, dan berulang atau sangat mungkin berulang. Pencegahan untuk anak berkebutuhan khusus bertumpu pada empat hal: aturan sekolah yang jelas, pengawasan di titik rawan, pengajaran keterampilan sosial kepada semua siswa, dan jalur pelaporan yang bisa dipakai anak dengan cara komunikasinya sendiri.
Banyak orang tua anak berkebutuhan khusus menyimpan kekhawatiran yang sama ketika mengantar anak ke sekolah. Bukan soal nilai, melainkan soal apakah anaknya aman dan diterima. Kekhawatiran itu masuk akal, dan menjawabnya tidak cukup dengan menenangkan. Artikel ini menyusun apa yang bisa dilakukan sekolah dan keluarga, dengan batas yang jujur tentang apa yang datanya memang ada dan apa yang belum.
Daftar Isi
- Apa yang disebut perundungan, dan apa yang bukan
- Mengapa anak berkebutuhan khusus perlu perhatian tambahan
- Bentuk perundungan yang sering terlewat orang dewasa
- Tanda yang perlu diperhatikan di rumah dan di sekolah
- Dampak perundungan menurut data kesehatan masyarakat
- Pencegahan di sekolah: aturan, pengawasan, dan keterampilan
- Pencegahan di rumah: bahasa, kepercayaan, dan latihan
- Apa yang dilakukan ketika perundungan sudah terjadi
- Kalau anak kita yang melakukan perundungan
- Pertanyaan umum orang tua dan guru
Apa yang disebut perundungan, dan apa yang bukan
CDC mendefinisikan perundungan sebagai perilaku agresif yang tidak diinginkan oleh anak atau sekelompok anak lain, yang bukan saudara kandung dan bukan pasangan berkencan. Di dalamnya ada ketimpangan kekuatan yang teramati atau dirasakan, dan perilakunya berulang beberapa kali atau sangat mungkin berulang. Batasan ini dibuat agar penanganan tidak salah sasaran.
Ketimpangan kekuatan tidak selalu soal ukuran badan. Jumlah teman yang mendukung, kemampuan berbicara, posisi di kelas, atau penguasaan gawai juga menciptakan ketimpangan. Anak yang sulit menyampaikan kejadian berada pada posisi lebih lemah bukan karena dirinya, melainkan karena lingkungan belum menyediakan cara melapor yang bisa dia pakai.
Perbedaan antara konflik biasa dan perundungan penting karena responsnya berbeda. Konflik biasa diselesaikan dengan mediasi dan latihan menyelesaikan masalah. Perundungan membutuhkan penghentian perilaku, pengawasan tambahan, dan tindak lanjut tercatat. Mencampur keduanya membuat korban merasa disamakan dengan pelaku, dan itu melemahkan kepercayaannya untuk melapor lagi.
| Aspek | Konflik biasa | Perundungan |
|---|---|---|
| Posisi anak | Relatif setara dalam kekuatan atau pengaruh | Ada ketimpangan kekuatan yang teramati atau dirasakan |
| Pengulangan | Biasanya kejadian tunggal | Berulang, atau sangat mungkin berulang |
| Niat | Sering karena salah paham atau rebutan | Perilaku agresif yang tidak diinginkan sasarannya |
| Respons yang sesuai | Mediasi dan latihan menyelesaikan masalah | Penghentian, pengawasan, dan tindak lanjut tercatat |
Tabel di atas bukan alat untuk menolak laporan anak. Ketika sebuah kejadian belum jelas masuk kategori mana, perlakukan sebagai laporan yang perlu dicek. Penilaian kategori dilakukan sesudah fakta dikumpulkan, bukan sebelum anak sempat bercerita.
Mengapa anak berkebutuhan khusus perlu perhatian tambahan
Kami tidak menemukan satu sumber resmi berbahasa Indonesia yang memuat angka perundungan khusus anak dengan disabilitas, jadi kami tidak akan menyebut persentase yang tidak bisa ditelusuri. Yang bisa dirujuk adalah dokumentasi WHO bahwa penyandang disabilitas mengalami ableisme, stigma, dan diskriminasi di hampir semua bidang kehidupan, dan bahwa hal itu memengaruhi kesehatan fisik maupun mental mereka.
WHO juga mencatat bahwa sekitar 1,3 miliar orang, atau 16 persen penduduk dunia, hidup dengan disabilitas yang signifikan. Angka sebesar itu berarti hampir setiap kelas di sekolah mana pun berpeluang memiliki anak yang membutuhkan penyesuaian. Membangun kelas yang aman karena itu bukan program tambahan untuk segelintir anak, melainkan bagian dari pengelolaan kelas sehari-hari.
Tiga keadaan membuat anak berkebutuhan khusus lebih rentan tidak terlindungi. Pertama, perbedaan yang terlihat mudah dijadikan bahan ejekan. Kedua, hambatan komunikasi membuat laporan datang terlambat atau tidak datang sama sekali. Ketiga, perilaku anak yang berubah setelah kejadian kadang dibaca sebagai bagian dari kondisinya, bukan sebagai tanda ada yang terjadi.
Risiko biasanya naik pada masa peralihan, misalnya ketika anak pindah jenjang, berganti kelas, atau berganti guru. Pada masa itu kelompok pertemanan sedang terbentuk ulang dan orang dewasa belum mengenal pola setiap anak. Persiapan masa peralihan dibahas tersendiri di artikel transisi anak ABK dari TK ke SD.

Bentuk perundungan yang sering terlewat orang dewasa
CDC menyebut bentuk perundungan yang umum meliputi fisik seperti memukul, menendang, dan menjegal; verbal seperti memanggil dengan julukan dan mengejek; relasional atau sosial seperti menyebarkan rumor dan mengeluarkan anak dari kelompok; serta perusakan barang milik korban. Perundungan juga dapat terjadi melalui teknologi, yang disebut perundungan elektronik atau perundungan siber.
Bentuk relasional paling sering lolos dari pengawasan karena tidak meninggalkan memar. Seorang anak bisa duduk di kelas yang sama setiap hari tanpa pernah diajak bicara, tanpa pernah dipilih dalam kelompok, dan tanpa pernah diundang. Tidak ada satu peristiwa besar yang bisa ditunjuk, tetapi pengalaman itu berulang setiap hari.
Perundungan daring menambah lapisan baru. Pesan atau unggahan dapat terus ada setelah jam sekolah berakhir, dan dapat disebarkan ke banyak orang dalam hitungan menit. Ketika pelaku dan sasarannya teman sekelas, urusannya terbawa kembali ke ruang kelas, sehingga sekolah tetap berkepentingan walaupun kejadiannya di luar jam belajar.
Satu pola yang perlu diwaspadai adalah perundungan yang dibungkus sebagai bercanda atau sebagai pertolongan. Misalnya teman yang selalu mengambil alih tugas anak sambil mengatakan anak itu tidak bisa, lalu menceritakannya ke orang lain. Niat baik yang diklaim tidak menghapus dampak merendahkan yang berulang.
Tanda yang perlu diperhatikan di rumah dan di sekolah
Tidak ada satu tanda yang membuktikan perundungan. Yang ada adalah perubahan yang layak ditanyakan. Perubahan itu antara lain menolak berangkat sekolah, barang yang sering hilang atau rusak, perubahan pola tidur dan nafsu makan, menarik diri dari teman, serta keluhan fisik berulang yang muncul khusus pada pagi hari sekolah.
Untuk anak dengan hambatan komunikasi, amati pola waktu dan tempat. Catat pada jam berapa perubahan muncul, di kegiatan apa, dan setelah bertemu siapa. Catatan sederhana selama satu pekan sering memperlihatkan pola yang tidak terlihat dalam percakapan. Bawa catatan itu ketika berbicara dengan wali kelas atau guru pendamping khusus.
Hindari pertanyaan yang sudah memuat jawaban, misalnya menanyakan apakah seseorang memukul anak. Pertanyaan semacam itu dapat menghasilkan jawaban yang mengikuti harapan orang dewasa. Lebih aman bertanya tentang urutan hari, bagian yang paling disukai, dan bagian yang paling tidak disukai, lalu menelusuri jawaban anak dengan tenang.

Dampak perundungan menurut data kesehatan masyarakat
CDC mencatat perundungan dapat berujung pada cedera fisik, tekanan sosial dan emosional, perilaku menyakiti diri, bahkan kematian. Perundungan juga meningkatkan risiko depresi, kecemasan, kesulitan tidur, pencapaian akademik yang lebih rendah, dan putus sekolah. Dampak ini mengenai anak yang dirundung, anak yang merundung, maupun yang menyaksikan.
CDC menyebut perundungan sebagai salah satu pengalaman masa kecil yang merugikan dan menyebutnya meluas. Sekitar satu dari lima siswa sekolah menengah atas di Amerika Serikat melaporkan pernah dirundung di lingkungan sekolah dalam satu tahun terakhir, dan lebih dari satu dari enam melaporkan dirundung secara elektronik, termasuk lewat pesan teks dan media sosial.
Angka tersebut berasal dari survei di Amerika Serikat, jadi tidak bisa dipindahkan begitu saja menjadi angka Indonesia. Nilainya ada pada skala masalahnya: perundungan bukan kejadian langka yang hanya menimpa satu dua anak. Sekolah yang menganggapnya pengecualian biasanya belum memiliki jalur pelaporan yang benar-benar dipakai siswa.
CDC juga mencatat bahwa anak yang merundung sekaligus dirundung menanggung konsekuensi paling berat dan berisiko lebih besar mengalami masalah kesehatan mental serta perilaku. Temuan ini penting bagi sekolah inklusif karena menunjukkan bahwa memisahkan anak menjadi korban dan pelaku secara permanen tidak selalu menggambarkan keadaan sebenarnya.
Pencegahan di sekolah: aturan, pengawasan, dan keterampilan
Lapis pertama adalah aturan yang jelas. Sekolah perlu menuliskan apa yang dianggap perundungan, ke siapa siswa melapor, apa yang terjadi setelah laporan masuk, dan berapa lama prosesnya. Aturan yang hanya tertempel di dinding tidak cukup. Aturan perlu dibahas bersama siswa dengan contoh konkret, termasuk contoh yang melibatkan teman dengan kebutuhan khusus.
Lapis kedua adalah pengawasan di titik rawan. Sebagian besar kejadian berlangsung di tempat yang jarang ada orang dewasa, seperti kantin, toilet, tangga, halaman belakang, serta saat menunggu jemputan. Memetakan titik rawan di sekolah sendiri lebih berguna daripada menyalin daftar dari tempat lain, karena denah setiap sekolah berbeda.
Lapis ketiga adalah pengajaran keterampilan kepada semua siswa, bukan hanya kepada anak yang dianggap rentan. CDC menyebut contoh program berbasis sekolah yang membangun keterampilan, termasuk pendekatan pengelolaan perilaku di kelas dan pembelajaran sosial emosional. Intinya sama: anak diajari secara eksplisit cara meminta bantuan, menolak, dan menolong teman yang sedang disasar.
CDC juga menekankan pentingnya melibatkan siswa langsung dalam pencegahan, karena merekalah yang paling tahu pengalaman mereka sendiri dengan kekerasan. Melibatkan siswa membantu mereka memahami konsekuensi kekerasan, menjadi penggerak perubahan di sekolah, memberi masukan kepada pengambil keputusan, serta menumbuhkan rasa hormat dan empati di antara teman sebaya.
Lapis keempat adalah tindak lanjut yang tercatat. Tanpa catatan, sekolah tidak bisa melihat pola, dan keluarga tidak bisa menilai apakah ada kemajuan. Format catatannya tidak perlu rumit: tanggal, tempat, siapa yang terlibat, apa yang terjadi, tindakan yang diambil, dan jadwal pemeriksaan ulang. Pendekatan serupa juga dibahas di artikel manajemen kelas inklusi.
Keempat lapis itu pantas ditanyakan orang tua sebelum memilih sekolah, bersama pertanyaan lain tentang pelaksanaan inklusi. Daftar hal yang dapat diperiksa tersedia di artikel indikator keberhasilan sekolah inklusi, dan pembagian peran keluarga serta sekolah dibahas di peran orang tua dalam pendidikan inklusif.

Pencegahan di rumah: bahasa, kepercayaan, dan latihan
Di rumah, pekerjaan terbesar adalah menjaga agar anak tetap mau bercerita. Itu lebih mudah ketika cerita pertama tidak dibalas dengan kemarahan, interogasi, atau janji besar yang tidak bisa ditepati. Tanggapan yang menenangkan sekaligus jujur terdengar seperti pengakuan bahwa kejadian itu tidak pantas, lalu penjelasan singkat tentang langkah berikutnya.
Latih kalimat atau isyarat pendek yang bisa dipakai anak ketika merasa tidak aman. Untuk anak yang belum berbicara, bisa berupa kartu, simbol, atau tombol di alat bantu komunikasi. Bahas bersama guru supaya isyarat yang sama dikenali di sekolah. Artikel PECS dan komunikasi membahas prinsip dasar alat bantu semacam ini.
Latihan bermain peran membantu, asalkan tidak dibuat menakutkan. Mainkan situasi sederhana seperti ada teman yang mengambil barang, lalu latih tiga langkah: menjauh, mencari orang dewasa, dan menyebut apa yang terjadi. Ulangi dalam waktu singkat beberapa kali, bukan sekali dalam waktu panjang, agar anak tidak kelelahan.
Libatkan kakak atau adik bila ada. Saudara kandung sering menjadi saksi pertama dan pendukung yang paling dekat, tetapi mereka juga perlu tahu batas tanggung jawabnya dan tidak dibebani menjadi penjaga. Keseimbangan peran ini dibahas di artikel saudara kandung anak berkebutuhan khusus.
Jaga juga hubungan anak dengan teman sebayanya di luar jam sekolah. Satu atau dua teman yang benar-benar dekat memberi perlindungan sosial yang nyata. Mengundang teman ke rumah untuk kegiatan yang disukai anak sering lebih efektif daripada meminta anak berusaha populer di kelas. Pembahasan terkait ada di artikel empati pada anak berkebutuhan khusus.
Perhatikan pula beban orang tua sendiri. Menghadapi kasus perundungan menguras tenaga dan sering memunculkan rasa bersalah. Mencari dukungan bukan tanda lemah, dan kondisi orang tua yang terjaga membuat pendampingan lebih stabil. Topik ini dibahas terpisah di artikel mengelola stres orang tua anak ABK.
Apa yang dilakukan ketika perundungan sudah terjadi
Langkah pertama adalah menghentikan dan mengamankan. Pisahkan anak yang terlibat, pastikan tidak ada cedera, dan jangan menuntut penjelasan panjang saat emosi masih tinggi. Anak yang sedang kewalahan sering tidak dapat menyusun cerita yang runtut, dan memaksanya justru menghasilkan keterangan yang kacau.
Langkah kedua adalah mendengarkan tanpa menyela. Catat kalimat anak apa adanya, termasuk kata yang dipakainya. Hindari menambahkan tafsiran orang dewasa ke dalam catatan. Jika anak memakai alat bantu komunikasi, simpan juga catatan tentang simbol atau gambar yang dipilihnya.
Langkah ketiga adalah mencatat dan melaporkan. Tulis tanggal, waktu, tempat, siapa yang terlibat, siapa yang melihat, dan apa yang sudah dilakukan sekolah. Sampaikan secara tertulis, misalnya lewat pesan atau surat singkat, lalu minta konfirmasi penerimaan. Catatan tertulis memudahkan semua pihak melihat pola jika kejadian berulang.
Langkah keempat adalah memantau pemulihan. Periksa kembali setelah satu pekan dan dua pekan. Perhatikan tidur, nafsu makan, kemauan berangkat sekolah, dan minat pada kegiatan yang biasanya disukai. Bila tanda tekanan menetap atau memberat, hubungi tenaga kesehatan atau psikolog. Artikel ini bukan pengganti penilaian profesional.

Kalau anak kita yang melakukan perundungan
Kemungkinan ini perlu dibicarakan karena sering dihindari. Anak berkebutuhan khusus juga dapat menyakiti teman, kadang karena belum punya cara lain untuk menyampaikan kebutuhan, kadang karena meniru perlakuan yang pernah diterimanya. Menanggapi dengan menyangkal membuat anak kehilangan kesempatan belajar.
Mulailah dengan mencari fungsi perilakunya. Apa yang didapat anak setelah perilaku itu, apa yang dihindarinya, dan situasi apa yang mendahuluinya. Setelah itu ajarkan cara lain untuk mendapatkan hal yang sama, dan pastikan cara baru itu berhasil lebih cepat daripada cara lama. Proses ini sebaiknya disusun bersama guru dan terapis, bukan sendirian.
Konsekuensi tetap diperlukan, tetapi bentuknya perlu dapat dipahami anak dan berkaitan dengan perbuatannya. Hukuman yang tidak dimengerti hanya menimbulkan rasa takut tanpa pembelajaran. Permintaan maaf yang dipaksakan di depan kelas juga jarang memperbaiki hubungan, dan kadang menambah ketegangan baru.
Pastikan anak yang disakiti tetap menjadi perhatian utama dalam proses ini. Dukungan untuk anak yang melakukan perundungan dan perlindungan untuk anak yang dirundung bukan dua hal yang harus dipilih salah satu. Keduanya berjalan bersama, dengan penanggung jawab yang jelas di sekolah.
Pertanyaan umum orang tua dan guru
Apakah semua pertengkaran antar anak termasuk perundungan?
Tidak. CDC membatasi perundungan sebagai perilaku agresif yang tidak diinginkan, disertai ketimpangan kekuatan yang teramati atau dirasakan, dan berulang atau sangat mungkin berulang. Perselisihan sekali antara dua anak yang posisinya setara biasanya konflik biasa. Pembedaan ini penting karena penanganannya berbeda, bukan karena konflik biasa boleh dibiarkan.
Apakah anak berkebutuhan khusus pasti menjadi korban perundungan?
Tidak pasti, dan menakuti keluarga dengan kepastian semacam itu tidak membantu. Yang terdokumentasi WHO adalah bahwa penyandang disabilitas menghadapi stigma dan diskriminasi di hampir semua bidang kehidupan. Risiko itu nyata, tetapi besarnya berbeda tiap anak, tiap kelas, dan tiap sekolah. Pencegahan yang baik menurunkan risiko tersebut.
Bagaimana jika anak saya tidak bisa menceritakan kejadiannya?
Anak yang komunikasinya terbatas tetap dapat menyampaikan banyak hal lewat perubahan perilaku, tidur, nafsu makan, atau penolakan berangkat sekolah. Siapkan cara lapor yang tidak bergantung pada kalimat panjang, misalnya kartu bergambar, gerakan yang disepakati, atau aplikasi komunikasi. Orang dewasa juga perlu memeriksa situasi secara langsung, bukan menunggu laporan.
Apakah anak perlu dilatih membalas agar tidak diganggu?
Melatih anak membalas secara fisik menambah risiko cedera dan menggeser tanggung jawab orang dewasa kepada anak. Yang lebih berguna adalah melatih anak menjauh, mencari orang dewasa tepercaya, dan menyebut apa yang terjadi. Pengawasan serta aturan sekolah tetap menjadi lapisan utama pencegahan.
Bagaimana jika sekolah menganggap kejadiannya hanya bercanda?
Sampaikan catatan tertulis yang memuat tanggal, tempat, siapa yang terlibat, apa yang dikatakan atau dilakukan, dan siapa yang melihat. Minta rencana tindak lanjut beserta tenggat dan penanggung jawabnya. Catatan mengubah percakapan dari kesan menjadi kejadian, dan memudahkan sekolah menilai apakah ada pola yang berulang.
Apakah perundungan lewat gawai juga urusan sekolah?
CDC mencatat perundungan dapat terjadi melalui teknologi, yang disebut perundungan elektronik atau perundungan siber. Ketika pelaku dan korbannya teman sekelas, dampaknya terbawa ke ruang kelas, jadi sekolah berkepentingan. Simpan tangkapan layar sebelum melapor, lalu batasi akses sementara tanpa menjadikan anak merasa dihukum karena melapor.
Bagaimana jika anak saya yang melakukan perundungan?
Tanggapi dengan serius tanpa melabeli anak sebagai anak jahat. CDC mencatat anak yang melakukan perundungan berisiko lebih tinggi mengalami penyalahgunaan zat, masalah akademik, dan kekerasan pada masa remaja serta dewasa. Cari tahu fungsi perilakunya, ajarkan cara mendapatkan kebutuhan itu tanpa menyakiti, dan libatkan sekolah sejak awal.
Bacaan Terkait
Sumber dan Referensi
- CDC: Bullying (Youth Violence Prevention)
- CDC: Preventing Youth Violence
- WHO: Disability (fact sheet)
- UNESCO: Inclusion in education
Catatan: Artikel ini bersifat edukasi umum dan bukan pengganti konsultasi dengan psikolog, tenaga kesehatan, atau petugas layanan sosial resmi. Sumber diperiksa 31 Oktober 2026 melalui CDC, WHO, dan UNESCO. Angka perundungan yang dikutip berasal dari survei di Amerika Serikat dan tidak dapat dibaca sebagai angka Indonesia.