Singkatnya: obat ADHD nonstimulan yang disetujui FDA untuk ADHD ada empat zat aktif: atomoxetine (2002), guanfacine lepas lambat (2009), clonidine lepas lambat (2009), dan viloxazine (2021). Zat aktif nonstimulan paling baru adalah viloxazine, sedangkan produk paling baru adalah clonidine lepas lambat bentuk cair (Onyda XR, Mei 2024). Centanafadine yang disetujui Juli 2026 bukan nonstimulan, karena labelnya menyebut obat itu stimulan. Semua obat ini obat resep; konsultasikan ke dokter sebelum mengambil keputusan apa pun.

Catatan sebelum membaca

Artikel ini adalah rangkuman informasi resmi untuk orang tua, guru, dan pendamping, bukan saran medis. Kami sengaja tidak mencantumkan dosis dan tidak menganjurkan obat tertentu. Tanggal persetujuan diambil dari database Drugs@FDA, peringatan keamanan dari label resmi FDA, dan posisi obat dari pedoman NICE Inggris. Semua dicek pada 28 September 2026.

Apa Itu Obat ADHD Nonstimulan?

ADHD (attention deficit hyperactivity disorder) paling sering diobati dengan obat golongan stimulan, seperti methylphenidate dan lisdexamfetamine. Istilah non stimulant medication dipakai untuk obat ADHD yang bekerja dengan cara lain dan tidak digolongkan sebagai stimulan.

Secara garis besar ada dua kelompok:

Obat hanyalah salah satu bagian penanganan. Label FDA atomoxetine sendiri menyebut obat itu dipakai sebagai bagian dari program penanganan menyeluruh yang dapat mencakup langkah psikologis, pendidikan, dan sosial (label Strattera, DailyMed). Gambaran lengkap penanganan non-obat ada di artikel terapi ADHD pada anak.

Daftar Obat Nonstimulan dan Tanggal Persetujuannya

Tabel berikut memuat tanggal persetujuan awal setiap aplikasi obat (NDA) menurut database resmi Drugs@FDA. Setiap nama merek tertaut ke halaman FDA-nya.

Zat aktif (merek di AS)GolonganPersetujuan awal di Drugs@FDA
Atomoxetine (Strattera)Penghambat ambilan ulang norepinefrin26 November 2002, zat aktif baru
Guanfacine lepas lambat (Intuniv)Agonis alfa-2A adrenergik2 September 2009, bentuk sediaan baru
Clonidine lepas lambat, tablet (Kapvay)Agonis alfa-2 adrenergik29 September 2009, bentuk sediaan baru
Viloxazine lepas lambat (Qelbree)Penghambat ambilan ulang norepinefrin2 April 2021, zat aktif baru; perluasan tercatat 29 April 2022
Clonidine lepas lambat, suspensi cair (Onyda XR)Agonis alfa-2 adrenergik24 Mei 2024

Menurut label FDA terbaru, atomoxetine dan viloxazine sama-sama diindikasikan untuk ADHD pada dewasa dan anak usia 6 tahun ke atas (label Strattera; label Qelbree). Guanfacine lepas lambat dan clonidine lepas lambat diindikasikan sebagai obat tunggal maupun tambahan untuk obat stimulan (label Intuniv).

Mana yang Benar-Benar Terbaru?

Kata "terbaru" sering dipakai longgar di internet. Supaya tidak salah paham, bedakan dua hal:

Obat yang baru disetujui belum tentu lebih baik untuk anak Anda. Pilihan obat bergantung pada gejala, usia, kondisi penyerta, riwayat kesehatan keluarga, dan respons anak terhadap pengobatan sebelumnya. Itu sebabnya keputusan ada di tangan dokter.

Centanafadine: Baru, tetapi Bukan Nonstimulan

Pada 24 Juli 2026, FDA menyetujui centanafadine dengan nama Simtriyo sebagai zat aktif baru untuk ADHD (Drugs@FDA NDA 218145). Obat ini sering dibahas sebagai pilihan baru, tetapi perlu dicatat:

Jadi, kalau Anda membaca "obat ADHD nonstimulan terbaru 2026" yang menyebut centanafadine, informasinya kurang tepat. Menurut label FDA, obat ini bukan nonstimulan.

Kapan Dokter Mempertimbangkan Nonstimulan?

Pedoman NICE NG87 dari Inggris memberi gambaran urutan yang umum dipakai. Untuk anak usia 5 tahun ke atas dan remaja, methylphenidate ditawarkan sebagai pengobatan lini pertama. NICE menganjurkan atomoxetine atau guanfacine bila anak tidak dapat menoleransi methylphenidate atau lisdexamfetamine, atau gejalanya tidak membaik setelah percobaan masing-masing obat itu selama 6 minggu (NICE NG87, rekomendasi 1.7.10).

NICE juga menyebut clonidine untuk anak dengan ADHD disertai gangguan tidur, ledakan amarah, atau tic hanya boleh diberikan dengan saran layanan ADHD tersier, karena pemakaiannya di Inggris di luar izin edar (NICE NG87, rekomendasi 1.7.17). Masalah tidur pada anak ADHD kami bahas di artikel gangguan tidur anak ADHD.

Pedoman tiap negara bisa berbeda. Di Indonesia, proses penegakan diagnosis dan rujukannya dijelaskan di artikel diagnosis ADHD di Indonesia.

Peringatan Keamanan yang Perlu Diketahui

Nonstimulan bukan berarti tanpa risiko. Ringkasan dari label resmi FDA:

ObatPeringatan utama di label FDA
AtomoxetinePeringatan kotak: pikiran dan perilaku bunuh diri pada pasien anak usia 6 tahun ke atas, perlu dipantau ketat terutama di bulan-bulan awal dan saat dosis diubah. Efek samping yang sering pada anak antara lain mual, muntah, lelah, nafsu makan turun, nyeri perut, dan mengantuk (label Strattera).
ViloxazinePeringatan kotak: pikiran dan perilaku bunuh diri dilaporkan lebih sering dibanding plasebo dalam uji klinis, perlu dipantau ketat (label Qelbree).
Guanfacine lepas lambatEfek samping yang sering pada anak dan remaja: tekanan darah rendah, mengantuk, lelah, mual, dan lesu (label Intuniv).
Clonidine lepas lambatEfek samping yang sering: mengantuk, lelah, mudah marah, mimpi buruk, sulit tidur, sembelit, dan mulut kering (label clonidine lepas lambat, DailyMed).

Hal praktis untuk orang tua: jangan menghentikan atau mengubah obat sendiri, catat perubahan perilaku, suasana hati, tidur, dan nafsu makan anak, lalu sampaikan ke dokter saat kontrol. Segera hubungi dokter bila anak menunjukkan pikiran atau perilaku menyakiti diri.

Bagaimana dengan di Indonesia?

Persetujuan FDA berlaku di Amerika Serikat. Di Indonesia, obat hanya boleh beredar bila punya izin edar dari Badan POM. Kami tidak mengklaim obat mana yang tersedia di Indonesia. Untuk memastikannya:

  1. Buka Cek BPOM (cekbpom.pom.go.id) dan cari nama zat aktif atau nama dagang obat.
  2. Tanyakan kepada dokter spesialis anak, psikiater anak, atau apoteker di rumah sakit tempat anak berobat.
  3. Jangan membeli obat ADHD secara daring tanpa resep, dan jangan memakai obat milik anak lain.

Pertanyaan untuk Dibawa ke Dokter

Kalau dokter menyebut kemungkinan obat nonstimulan, pertanyaan berikut bisa membantu diskusi:

Guru juga berperan penting. Dokter sering meminta masukan tentang perilaku anak di kelas, dan strategi yang terbukti membantu tetap diperlukan walau anak minum obat. Lihat strategi mengajar anak ADHD di sekolah dan ciri-ciri anak ADHD berdasarkan usia.

Pendampingan di YUKA

YUKA tidak meresepkan obat. Kami mendampingi anak berkebutuhan khusus, termasuk anak dengan ADHD, melalui pendidikan inklusi dan layanan terapi di Sleman, berdampingan dengan dokter yang menangani anak. Hubungi tim YUKA melalui halaman kontak atau lihat program YUKA.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa itu non stimulant medication untuk ADHD?

Non stimulant medication adalah obat ADHD yang tidak termasuk golongan stimulan seperti methylphenidate atau amfetamin. Yang sudah disetujui FDA untuk ADHD adalah atomoxetine, viloxazine, serta guanfacine dan clonidine bentuk lepas lambat. Semuanya obat resep dan hanya boleh dipakai atas keputusan dokter.

Obat ADHD nonstimulan apa yang paling baru?

Menurut catatan Drugs@FDA, zat aktif nonstimulan paling baru untuk ADHD adalah viloxazine (Qelbree), disetujui 2 April 2021 dan diperluas untuk dewasa pada 29 April 2022. Produk paling baru adalah Onyda XR (24 Mei 2024), yaitu clonidine lepas lambat dalam bentuk suspensi cair, jadi zat aktifnya bukan baru.

Apakah centanafadine (Simtriyo) termasuk obat nonstimulan?

Tidak. Centanafadine disetujui FDA dengan nama Simtriyo pada 24 Juli 2026, tetapi label resminya menyebutnya sebagai stimulan sistem saraf pusat dan memuat peringatan risiko penyalahgunaan. Jadi obat ini tidak tepat disebut nonstimulan.

Apakah obat ADHD nonstimulan tersedia di Indonesia?

Artikel ini tidak mengklaim ketersediaan obat tertentu di Indonesia. Izin edar hanya bisa dipastikan lewat situs Cek BPOM (cekbpom.pom.go.id), dan pilihan obat untuk anak tetap ditentukan oleh dokter spesialis anak atau psikiater anak.

Apakah obat nonstimulan lebih aman dari stimulan?

Tidak bisa disimpulkan begitu. Atomoxetine dan viloxazine sama-sama memiliki peringatan kotak (boxed warning) FDA tentang pikiran dan perilaku bunuh diri, sedangkan guanfacine dan clonidine dapat menyebabkan kantuk dan tekanan darah turun. Setiap obat punya profil risiko sendiri yang perlu dibahas dengan dokter.

Artikel Terkait