Masalah penglihatan pada anak Down syndrome sangat umum dan sering tidak disadari keluarga. Yang paling sering ditemukan adalah kelainan refraksi (perlu kacamata), mata juling atau strabismus, dan lemahnya kemampuan mata memfokuskan benda dekat. Katarak bawaan, keratokonus, nistagmus, radang kelopak mata, dan mata berair juga lebih sering terjadi. Kabar baiknya, sebagian besar kondisi ini bisa ditangani, terutama bila ditemukan sejak dini lewat pemeriksaan mata rutin.

Artikel ini membahas jenis-jenis masalah mata yang perlu diketahui, tanda yang bisa diamati di rumah dan di kelas, jadwal pemeriksaan yang dianjurkan, dan cara guru serta orang tua membantu anak belajar dengan penglihatan terbaiknya. Pengenalan umum tentang kondisi ini ada di artikel Down syndrome adalah.

Catatan sebelum membaca

Artikel ini adalah informasi umum untuk keluarga dan pendidik, bukan alat diagnosis. Keputusan pemeriksaan, kacamata, obat, atau operasi hanya diambil oleh dokter mata, sebaiknya dokter spesialis mata anak. YUKA tidak menegakkan diagnosis.

Seberapa Sering Masalah Mata Terjadi

Anak dengan Down syndrome (trisomi 21) memiliki risiko lebih tinggi mengalami berbagai gangguan mata dan penglihatan. American Association for Pediatric Ophthalmology and Strabismus (AAPOS), perhimpunan dokter mata anak di Amerika Serikat, menyebut banyak dari masalah ini dapat diobati, terutama bila ditemukan pada usia dini.

Seberapa sering? Angkanya berbeda antarpenelitian karena usia anak dan cara pemeriksaannya tidak sama. Ensiklopedia klinis EyeWiki dari American Academy of Ophthalmology merangkum angka gangguan mata pada penyandang Down syndrome berkisar 46 sampai 100 persen. Salah satu penelitian yang sering dikutip adalah studi Roizen dan rekan (1994) terhadap 77 anak Down syndrome yang diperiksa dokter mata anak tanpa diseleksi berdasarkan keluhan mata. Hasilnya, 61 persen memiliki gangguan mata yang perlu diobati atau dipantau. Angkanya naik seiring usia, dari 38 persen pada kelompok usia 2 sampai 12 bulan menjadi 80 persen pada kelompok usia 5 sampai 12 tahun.

Artinya, mata anak yang tampak normal saat bayi belum tentu tetap normal saat usia sekolah. Itulah alasan pemeriksaan dilakukan berkala, bukan sekali saja.

Jenis Masalah Penglihatan yang Sering Ditemukan

Tinjauan Creavin dan Brown (2009) atas 23 penelitian pada anak usia 0 sampai 16 tahun menyimpulkan bahwa kelainan refraksi (terutama rabun dekat atau hipermetropia) dan strabismus sering dilaporkan. Temuan lain yang sering muncul adalah ketajaman penglihatan yang rendah, nistagmus, dan blefaritis. Katarak dan glaukoma lebih jarang, tetapi dampaknya bisa serius bagi penglihatan anak di masa depan.

1. Kelainan refraksi (butuh kacamata)

Kelainan refraksi berarti bayangan benda tidak jatuh tepat di retina sehingga penglihatan kabur. Bentuknya bisa rabun jauh (miopia), rabun dekat (hipermetropia), atau silinder (astigmatisma). AAPOS menyebut anak Down syndrome lebih mungkin membutuhkan kacamata dibanding anak lain, dan kelainan ini bisa muncul sejak awal kehidupan atau baru berkembang belakangan. Menurut EyeWiki, anak Down syndrome lebih sering mengalami hipermetropia dan astigmatisma dengan ukuran yang lebih besar dibanding anak seusianya.

2. Mata juling (strabismus)

Strabismus adalah kondisi saat kedua mata tidak lurus menatap ke arah yang sama. AAPOS menyebut 20 sampai 60 persen penyandang Down syndrome memiliki mata yang tidak lurus, dan yang lebih sering adalah esotropia (mata bergulir ke arah hidung) dibanding eksotropia (mata bergulir ke arah telinga). Penanganannya bisa berupa kacamata dan kadang operasi otot mata.

Strabismus perlu ditangani karena otak anak dapat "mengabaikan" gambar dari mata yang juling. Lama-kelamaan mata itu bisa menjadi mata malas (ambliopia), yang makin sulit diperbaiki bila terlambat ditangani.

3. Fokus dekat yang lemah (akomodasi kurang)

Ini masalah yang paling sering luput, padahal sangat berpengaruh pada belajar. Akomodasi adalah kemampuan mata mengubah fokus agar benda dekat, seperti buku dan lembar kerja, terlihat tajam. Penelitian di Cardiff University (Cregg dan rekan, 2001) menemukan anak Down syndrome mengalami akomodasi yang kurang secara substansial, bahkan ketika tidak ada kelainan refraksi atau kelainan itu sudah dikoreksi kacamata. Kacamata biasa untuk rabun dekat tidak memperbaiki respons fokusnya.

Penelitian lain dari tim yang sama (Woodhouse dan rekan, 2000) menegaskan bahwa guru dan tenaga kesehatan perlu tahu bahwa penglihatan dekat anak-anak ini sering tidak fokus. Stewart dan rekan (2007) juga menemukan anak dengan akomodasi kurang lebih mungkin memiliki hipermetropia sedang sampai tinggi dan strabismus.

Salah satu penanganannya adalah kacamata bifokal, yaitu lensa dengan bagian bawah khusus untuk melihat dekat. Studi Al-Bagdady dan rekan (2009) menyebut akomodasi berkurang pada sekitar 75 persen anak Down syndrome. Dari 40 anak yang memakai bifokal dalam studi itu, kemampuan akomodasi 26 anak (65 persen) membaik. Keputusan memakai bifokal tetap ditentukan dokter mata setelah pemeriksaan.

4. Katarak bawaan dan katarak yang berkembang

Katarak adalah kekeruhan lensa mata. AAPOS menyebut anak Down syndrome berisiko lebih tinggi mengalami katarak yang sudah ada sejak lahir maupun yang berkembang seiring waktu. Katarak bisa memburuk perlahan, sehingga perlu dipantau dan dioperasi bila dibutuhkan. EyeWiki mencatat satu penelitian besar di Brasil menemukan katarak bawaan pada sampai 2,2 persen bayi Down syndrome. Karena katarak bawaan yang tidak ditangani dapat mengganggu perkembangan penglihatan, EyeWiki menekankan agar bayi Down syndrome diperiksa pantulan merah mata (red reflex) oleh dokter anak segera setelah lahir.

5. Keratokonus

Keratokonus adalah kondisi kornea (lapisan bening terdepan mata) yang menipis dan menonjol menyerupai kerucut, sehingga penglihatan menjadi kabur dan ukuran silinder terus berubah. Menurut AAPOS, keratokonus lebih sering terjadi pada remaja dan dewasa dengan Down syndrome, biasanya terdiagnosis sekitar masa pubertas, dan diperburuk oleh kebiasaan mengucek mata. EyeWiki mencatat Down syndrome termasuk faktor risiko terkuat keratokonus, dengan satu studi di Norwegia menemukan risikonya sekitar 30 kali lebih tinggi dibanding populasi umum. Penanganannya bisa berupa kacamata, lensa kontak khusus, sampai tindakan bedah.

6. Nistagmus

Nistagmus adalah gerakan bola mata bolak-balik atau bergetar yang tidak disadari. AAPOS menyebut kondisi ini dapat memengaruhi penglihatan. EyeWiki merangkum nistagmus ditemukan pada 3 sampai 33 persen anak Down syndrome, lebih tinggi dibanding anak tanpa Down syndrome.

7. Radang kelopak mata dan mata berair

Blefaritis adalah radang tepi kelopak mata dengan kemerahan dan kerak di sekitar bulu mata, yang dapat terasa kering atau perih. Mata berair terus-menerus pada anak Down syndrome sering disebabkan saluran air mata yang tersumbat atau sempit (obstruksi duktus nasolakrimalis), dan menurut AAPOS kadang memerlukan tindakan bedah. Keduanya juga penting karena rasa gatal dan perih mendorong anak mengucek mata, kebiasaan yang berkaitan dengan keratokonus.

8. Glaukoma

Glaukoma adalah tekanan bola mata yang tinggi dan dapat merusak saraf mata. AAPOS menyebut risiko glaukoma meningkat pada bayi dengan Down syndrome, walaupun EyeWiki mencatat kasusnya pada anak tetap jarang. Mata bayi yang tampak sangat besar, keruh, atau sangat sensitif terhadap cahaya perlu segera diperiksakan.

Tabel Ringkas Kondisi Mata

KondisiApa yang terjadiContoh penanganan (oleh dokter mata)
Kelainan refraksiPenglihatan kabur jauh, dekat, atau keduanyaKacamata
StrabismusKedua mata tidak lurus, paling sering bergulir ke arah hidungKacamata, kadang operasi otot mata
Akomodasi kurangBenda dekat seperti buku tidak terlihat tajamKacamata bifokal bila dianjurkan
KatarakLensa mata keruh, sejak lahir atau berkembang kemudianPemantauan, operasi bila diperlukan
KeratokonusKornea menipis dan menonjol, biasanya muncul sekitar pubertasKacamata, lensa kontak khusus, tindakan bedah
NistagmusBola mata bergerak bolak-balik tanpa disadariPemeriksaan dan pemantauan dokter mata
Blefaritis dan mata berairKelopak meradang, saluran air mata tersumbatPerawatan kelopak, kadang tindakan pada saluran air mata

Sumber: AAPOS, Down Syndrome dan EyeWiki, Trisomy 21/Down Syndrome, dicek 25 September 2026. Tabel ini bukan panduan pengobatan mandiri.

Tanda yang Bisa Diamati Orang Tua dan Guru

Anak Down syndrome, terutama yang masih kecil atau memiliki hambatan komunikasi, sering tidak bisa mengatakan "mata saya kabur". Karena itu pengamatan orang dewasa di sekitarnya sangat berharga. Beberapa tanda yang layak dicatat dan disampaikan ke dokter:

Tanda-tanda ini bukan diagnosis. Satu tanda saja sudah cukup menjadi alasan untuk memeriksakan anak lebih awal dari jadwal rutinnya.

Jadwal Periksa Mata yang Dianjurkan

American Academy of Pediatrics (AAP) menerbitkan pedoman pemantauan kesehatan anak dan remaja dengan Down syndrome (Bull dan rekan, Pediatrics 2022). Rangkuman bagian matanya, sebagaimana dikutip EyeWiki, adalah sebagai berikut:

UsiaAnjuran pemeriksaan
Segera setelah lahirDokter anak memeriksa pantulan merah mata (red reflex) untuk menapis katarak bawaan
Dalam 6 bulan pertamaDirujuk ke dokter mata anak, atau dokter mata yang berpengalaman menangani anak dengan disabilitas, untuk memeriksa strabismus, katarak, sumbatan saluran air mata, kelainan refraksi, glaukoma, dan nistagmus
1 sampai 5 tahunPenglihatan dicek di setiap kunjungan rutin, termasuk photoscreening bila tersedia. Dirujuk ke dokter mata bila ada temuan, atau setiap tahun bila photoscreening tidak tersedia
5 sampai 12 tahunPhotoscreening di setiap kunjungan rutin. Dirujuk bila ada temuan, atau setiap 2 tahun bila photoscreening tidak tersedia
12 sampai 21 tahunTes ketajaman penglihatan atau photoscreening, atau tetap dalam pemantauan dokter mata untuk menilai munculnya katarak, kelainan refraksi, atau keratokonus

Photoscreening adalah pemeriksaan penapisan dengan kamera khusus yang tidak membutuhkan jawaban dari anak. Di Indonesia, alat ini belum tentu tersedia di setiap fasilitas kesehatan. Bila tidak tersedia, cara paling aman adalah mengikuti jadwal pemeriksaan langsung ke dokter mata sesuai saran dokter yang merawat anak. Bawa catatan hasil pemeriksaan sebelumnya setiap kali kontrol.

Seperti Apa Pemeriksaannya

Banyak orang tua ragu membawa anak ke dokter mata karena mengira anak harus bisa membaca huruf di papan. Kenyataannya, dokter mata anak punya cara memeriksa yang tidak membutuhkan jawaban lisan, misalnya:

Beberapa hal kecil membuat kunjungan lebih lancar: pilih jam saat anak tidak mengantuk, ceritakan urutan kegiatannya dengan gambar sederhana sebelum berangkat (mirip jadwal visual), bawa mainan kesukaan, dan sampaikan kepada dokter cara anak paling mudah diajak bekerja sama.

Dukungan di Rumah dan di Kelas

Pemeriksaan mata baru separuh jalan. Separuh lainnya adalah memastikan anak benar-benar mendapat manfaat dari penglihatannya dalam kegiatan sehari-hari.

  1. Biasakan memakai kacamata. Mulai dari waktu singkat saat kegiatan menyenangkan, lalu perpanjang bertahap. Pastikan bingkainya pas dan tidak melorot, karena kacamata yang turun membuat anak melihat dari atas lensa. Tanyakan kepada optik tentang bingkai dan tali pengikat yang sesuai untuk anak.
  2. Perbesar dan pertegas materi dekat. Karena fokus dekat sering lemah, gunakan huruf yang lebih besar, garis tebal, dan kontras yang jelas (hitam di atas putih). Kurangi lembar kerja yang padat.
  3. Atur posisi duduk. Dudukkan anak dekat papan tulis dengan cahaya yang cukup dan tidak menyilaukan. Beri jeda bagi mata setelah tugas melihat dekat yang panjang.
  4. Cegah kebiasaan mengucek mata. Alihkan tangan anak dengan kegiatan lain dan periksakan bila mata tampak gatal atau meradang.
  5. Catat di program belajar anak. Kebutuhan penglihatan sebaiknya dimasukkan ke program pembelajaran individual agar semua guru dan pendamping memakai penyesuaian yang sama.
  6. Libatkan terapis. Terapis okupasi dapat membantu kegiatan yang melibatkan koordinasi mata dan tangan. Informasinya ada di artikel terapi okupasi.

Masalah penglihatan dan pendengaran yang tidak terdeteksi kadang disalahartikan sebagai kurang perhatian atau kesulitan belajar. Karena itu pemeriksaan mata dan pendengaran rutin adalah bagian penting dari intervensi dini dan penilaian kemampuan belajar anak. Bila penglihatan anak tetap sangat terbatas walau sudah dikoreksi, informasi tentang layanan untuk tunanetra dan low vision bisa membantu.

Pendampingan di YUKA

YUKA mendampingi anak berkebutuhan khusus, termasuk anak dengan Down syndrome, lewat pendidikan inklusi di Sekolah Inklusi Taruna Imani Sleman. Guru dan pendamping membantu keluarga mengamati tanda-tanda sehari-hari dan menyesuaikan materi belajar, sementara pemeriksaan dan pengobatan mata tetap dilakukan oleh dokter mata. Bacaan terkait kesehatan anak berkebutuhan khusus lainnya: perawatan gigi anak berkebutuhan khusus.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah semua anak Down syndrome pasti punya masalah mata?

Tidak semua, tetapi risikonya jauh lebih tinggi daripada anak lain. EyeWiki dari American Academy of Ophthalmology merangkum bahwa angka gangguan mata pada penyandang Down syndrome yang dilaporkan penelitian berkisar 46 sampai 100 persen, tergantung usia dan cara pemeriksaan. Karena itu setiap anak Down syndrome dianjurkan diperiksa dokter mata sejak bayi, bukan menunggu ada keluhan.

Kapan anak Down syndrome pertama kali perlu diperiksa dokter mata?

American Academy of Pediatrics (AAP) menganjurkan pemeriksaan oleh dokter mata anak, atau dokter mata yang berpengalaman menangani anak dengan disabilitas, dalam 6 bulan pertama kehidupan. Setelah itu penglihatan anak dipantau rutin sepanjang masa kanak-kanak dan remaja.

Mengapa anak Down syndrome sering kesulitan melihat benda dekat walau sudah berkacamata?

Banyak anak Down syndrome mengalami akomodasi yang lemah, yaitu kemampuan mata memfokuskan benda dekat kurang optimal. Penelitian Cregg dan rekan (2001) menemukan akomodasi tetap lemah walaupun kelainan refraksinya tidak ada atau sudah dikoreksi kacamata biasa. Pada sebagian anak, dokter mata dapat meresepkan kacamata bifokal untuk membantu penglihatan dekat.

Apakah mata juling pada anak Down syndrome bisa sembuh sendiri?

Mata juling (strabismus) sebaiknya tidak ditunggu sembuh sendiri. Menurut AAPOS, strabismus pada anak Down syndrome dapat ditangani dengan kacamata dan kadang operasi otot mata. Pemeriksaan dini penting karena mata yang juling berisiko mengalami mata malas (ambliopia) bila tidak ditangani.

Mengapa anak Down syndrome sebaiknya tidak sering mengucek mata?

AAPOS menjelaskan bahwa keratokonus, yaitu kornea yang menipis dan menonjol seperti kerucut, lebih sering terjadi pada remaja dan dewasa dengan Down syndrome, dan kondisi ini diperburuk oleh kebiasaan mengucek mata. Bila anak sering mengucek mata karena gatal atau kelopak meradang, periksakan ke dokter agar penyebabnya ditangani.

Artikel Terkait