Perawatan gigi anak berkebutuhan khusus pada dasarnya sama dengan anak lain: sikat gigi dua kali sehari dengan pasta gigi berfluoride, batasi gula, dan periksa ke dokter gigi secara rutin. Bedanya ada pada caranya. Anak mungkin belum bisa memegang sikat, tidak tahan rasa busa di mulut, sulit membuka mulut lama, atau sedang minum obat yang memengaruhi gusi. Karena itu alat, posisi, urutan, dan persiapan ke dokter gigi perlu disesuaikan dengan kemampuan anak.

Kesehatan mulut bukan urusan kecil. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan penyakit mulut dialami hampir 3,7 miliar orang, padahal sebagian besar bisa dicegah. Pada anak yang kesulitan menyampaikan rasa sakit, gigi berlubang bisa lama tidak ketahuan dan baru terlihat saat anak rewel, menolak makan, atau sulit tidur. Artikel ini merangkum langkah praktis yang bisa dilakukan orang tua dan pendamping di rumah.

Catatan sebelum membaca

Artikel ini berisi informasi umum. Kondisi mulut tiap anak berbeda, jadi rencana perawatannya sebaiknya disusun bersama dokter gigi, terutama dokter gigi spesialis kedokteran gigi anak, serta dokter anak yang menangani kondisi medisnya.

Kenapa Gigi Anak ABK Lebih Rentan

Pedoman American Academy of Pediatric Dentistry (AAPD) tentang pasien dengan kebutuhan kesehatan khusus menjelaskan bahwa kelompok ini berisiko lebih tinggi mengalami kesehatan mulut yang buruk karena kondisi medis, masalah sensorik, tantangan perilaku, dan hambatan besar dalam mengakses layanan gigi. AAPD juga mencatat bahwa makin berat kondisi kesehatan anak, makin besar kemungkinan kebutuhan perawatan giginya tidak terpenuhi.

National Institute of Dental and Craniofacial Research (NIDCR) di Amerika Serikat merinci penyebabnya. Gigi berlubang sering dijumpai pada penyandang disabilitas perkembangan, antara lain karena kebersihan mulut kurang terjaga dan gigi yang berjejal atau bentuknya tidak biasa sehingga lebih sulit dibersihkan. Penyakit gusi juga muncul lebih sering dan pada usia lebih muda. Kebiasaan seperti menggeretakkan gigi, menyimpan makanan di pipi, bernapas lewat mulut, dan mendorong lidah ke depan ikut memperberat masalah.

Penelitian gabungan memberi gambaran yang lebih spesifik:

Artinya, risiko tidak datang dari diagnosisnya saja, tetapi dari kombinasi kebiasaan, kemampuan motorik, pola makan, obat, dan akses ke dokter gigi. Kabar baiknya, sebagian besar faktor itu bisa diperbaiki di rumah.

Memilih Sikat Gigi dan Pasta Gigi

Kementerian Kesehatan dalam panduan pencegahan radang gusi pada anak menganjurkan sikat gigi berbulu lembut yang sesuai usia anak. Untuk anak berkebutuhan khusus, beberapa penyesuaian berikut sering membantu:

Pasta gigi berfluoride dipilih karena, menurut ADA, fluoride membantu memperbaiki kerusakan awal lapisan email akibat asam dari bakteri. Bila anak belum bisa meludah dan sering menelan pasta gigi, diskusikan pilihan dan takarannya dengan dokter gigi anak, jangan langsung beralih ke pasta tanpa fluoride.

Posisi dan Langkah Menyikat Gigi

Kemenkes melalui halaman pencegahan karies gigi pada anak menganjurkan anak menyikat gigi dua kali sehari, pagi dan malam sebelum tidur, dengan pasta gigi berfluoride. CDC menambahkan agar orang tua membantu menyikat sampai anak punya keterampilan yang baik, dan mengawasi anak di bawah 6 tahun supaya pasta gigi diludahkan, bukan ditelan. ADA menyebut durasi sekitar dua menit untuk anak usia 3 sampai 6 tahun.

NIDCR mengingatkan bahwa, tergantung kemampuan anak, pendamping mungkin perlu mengambil alih tugas menyikat. Urutan yang biasa kami anjurkan kepada orang tua di YUKA:

  1. Pilih tempat yang tenang dan terang. Tidak harus di kamar mandi. Anak yang tegang di wastafel bisa disikat sambil duduk di sofa atau berbaring di pangkuan.
  2. Stabilkan posisi. Untuk anak kecil atau anak yang sulit duduk tegak, pendamping duduk di belakang atau di samping anak sehingga kepala anak bersandar di dada atau lengan pendamping. Posisi ini membuat pendamping bisa melihat ke dalam mulut dan menahan kepala dengan lembut.
  3. Mulai dari bagian yang paling mudah diterima anak. Biasanya gigi depan bagian luar, lalu perlahan ke gigi belakang dan permukaan dalam.
  4. Gunakan hitungan atau lagu pendek. Anak lebih tenang bila tahu kapan kegiatan selesai. Hitung sampai sepuluh untuk tiap bagian mulut, lalu pindah.
  5. Akhiri dengan pujian yang spesifik. Misalnya, "Tadi Adik membuka mulut lebar sekali." Pujian yang jelas lebih mudah dipahami daripada "pintar".

Anak yang mampu menyikat sendiri tetap perlu diperiksa hasilnya, terutama gigi geraham belakang yang sering terlewat. Cara melatih kemandirian bertahap bisa dibaca di artikel mengajarkan kemandirian kepada anak berkebutuhan khusus.

Bila Anak Menolak karena Sensitif Sensorik

Bagi sebagian anak, terutama anak autis, bulu sikat, rasa mint, busa, dan suara air bisa terasa sangat mengganggu. Penolakan keras saat sikat gigi sering bukan soal nakal, melainkan cara anak menghadapi rangsangan yang berlebihan. Penjelasan tentang pengolahan sensorik ada di artikel sensori integrasi.

Beberapa strategi yang bisa dicoba di rumah:

Strategi serupa terbukti membantu di klinik. Tinjauan sistematis sembilan uji acak terkontrol tahun 2024 menemukan bahwa pada anak autis, strategi adaptasi seperti alat bantu visual, video modeling, dan ruang praktik yang disesuaikan secara sensorik memperbaiki kebersihan mulut, menurunkan kecemasan, dan meningkatkan kerja sama. Penulisnya mencatat video modeling dan lingkungan yang disesuaikan secara sensorik paling efektif mengurangi rasa tertekan saat ke dokter gigi.

Perhatian untuk Kondisi Tertentu

NIDCR mencatat beberapa kondisi yang memengaruhi perawatan mulut. Tabel berikut merangkumnya bersama hal yang bisa dilakukan keluarga.

KondisiYang perlu diperhatikan (menurut NIDCR)Yang bisa dilakukan keluarga
Sindrom DownGigi bisa tumbuh terlambat, bahkan gigi susu pertama baru muncul sekitar usia 2 tahun. Gangguan jantung juga sering menyertai.Tetap bersihkan gusi sejak bayi. Sampaikan riwayat jantung kepada dokter gigi, karena NIDCR menganjurkan konsultasi dengan dokter jantung soal perlu tidaknya antibiotik sebelum tindakan.
Cerebral palsyOtot pengunyah bisa kaku atau lemah, ada air liur berlebih, mudah tersedak atau muntah. Refluks asam lambung dapat membuat gigi sensitif atau terkikis.Pakai sedikit pasta gigi dan kepala sikat kecil. Tanyakan ke dokter posisi yang aman bila anak sulit berbaring telentang.
EpilepsiSaat kejang, gigi bisa patah atau lidah dan pipi tergigit.Periksakan gigi setelah kejang disertai benturan di wajah atau mulut.
Anak yang rutin minum obatSebagian obat resep dapat menyebabkan mulut kering, pembengkakan gusi, atau perubahan lain.Jangan menghentikan obat sendiri. Bawa daftar obat saat ke dokter gigi.

Ringkasan disusun tim YUKA dari halaman NIDCR tentang disabilitas perkembangan dan kesehatan mulut, bukan pengganti pemeriksaan dokter.

Untuk memahami kondisi-kondisi tersebut lebih jauh, baca artikel down syndrome adalah dan cerebral palsy adalah. Anak dengan kesulitan mengunyah dan menelan juga bisa terbantu latihan otot mulut yang dibahas di artikel latihan oral motor dalam terapi wicara.

Makanan, Minuman, dan Hadiah

Sikat gigi yang rajin bisa kalah oleh kebiasaan ngemil manis sepanjang hari. Kemenkes menyebut konsumsi gula berlebihan dari permen, biskuit, minuman manis, dan camilan lain sebagai penyebab utama karies pada anak. Pencegahannya adalah mengurangi makanan manis, membatasi camilan di antara waktu makan, dan membiasakan minum air putih setelah makan. Kemenkes juga mengingatkan bahaya tertidur dengan botol susu di mulut, karena sisa susu menempel di gigi dan menjadi makanan bakteri.

Anak laki-laki bertopi koki biru dan celemek cokelat memejamkan mata sambil tertawa lebar, memegang bakpao bergaris cokelat di atas piring kecil di teras
Seorang murid YUKA menikmati bakpao buatannya sendiri di kelas memasak. Kudapan manis tidak harus dilarang, cukup diberikan bersama waktu makan lalu diikuti minum air putih. Foto: dokumentasi YUKA.

Tantangannya, banyak anak berkebutuhan khusus pemilih makanan dan hanya mau beberapa jenis camilan. Strategi memperluas pilihan makanan dibahas di artikel cara mengatasi picky eater pada anak autis. Satu hal lagi yang sering terlewat: permen dan cokelat kerap dipakai sebagai hadiah dalam latihan perilaku. Pertimbangkan hadiah lain seperti stiker, waktu bermain, atau kegiatan favorit. Idenya ada di artikel sistem hadiah yang efektif untuk anak autis.

Menyiapkan Kunjungan ke Dokter Gigi

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebut usia 0 sampai 1 tahun, terutama menjelang 12 bulan, sebagai usia awal kontrol pertama ke dokter gigi. Setelah itu, Kemenkes menganjurkan pemeriksaan setiap 6 bulan sekali meskipun tidak ada keluhan. Untuk anak berkebutuhan khusus, pilih dokter gigi spesialis kedokteran gigi anak atau dokter gigi yang terbiasa menangani pasien berkebutuhan khusus. Kunjungan rutin sejak dini membuat anak mengenal suasana klinik sebelum ada keluhan yang menyakitkan.

Beberapa persiapan yang membantu:

  1. Kunjungan perkenalan tanpa tindakan. NIDCR menyarankan orang tua menghubungi dokter gigi untuk mengatur kunjungan perkenalan tanpa perawatan, agar anak mengenal ruangan dan urutan pemeriksaan sebelum kunjungan sebenarnya.
  2. Cerita sosial bergambar. Foto pintu klinik, kursi periksa, lampu, dan cermin kecil, lalu ceritakan urutannya beberapa hari sebelumnya.
  3. Informasi lengkap untuk dokter. Diagnosis, obat yang diminum, alergi (NIDCR menyebut alergi lateks mungkin lebih sering pada penyandang disabilitas perkembangan), cara anak berkomunikasi, dan hal yang membuat anak tenang atau panik.
  4. Jadwal yang tepat. Pilih jam ketika anak biasanya segar dan tidak lapar. NIDCR mencatat bahwa anak dengan keterbatasan gerak mungkin butuh waktu kunjungan lebih panjang dan bantuan saat pindah ke kursi periksa.

Klinik yang menyesuaikan lingkungannya juga memberi hasil. Dalam uji coba acak Cermak dan tim (2015) terhadap 44 anak usia 6 sampai 12 tahun, pembersihan gigi profesional di ruang praktik yang disesuaikan secara sensorik menurunkan kecemasan fisiologis serta rasa sakit dan ketidaknyamanan sensorik, baik pada anak autis maupun anak tanpa autisme. Orang tua boleh menanyakan apakah klinik bisa meredupkan lampu atau mengurangi suara.

Tanyakan juga tindakan pencegahan. Menurut CDC, sealant (lapisan pelindung) pada gigi belakang mencegah 80% gigi berlubang, dan varnish fluoride dapat mencegah sepertiga gigi berlubang pada gigi susu. NIDCR menegaskan sealant efektif mencegah karies pada anak maupun dewasa dengan disabilitas perkembangan.

Kapan Harus Segera ke Dokter Gigi

Jangan menunggu jadwal kontrol bila muncul tanda berikut

  • Gusi atau pipi bengkak, bernanah, atau anak demam disertai sakit di mulut.
  • Gigi patah, goyang, atau berdarah setelah jatuh atau kejang.
  • Gusi terus berdarah saat disikat selama lebih dari beberapa hari.
  • Anak yang sulit berbicara tiba-tiba menolak makan, sering memegang atau memukul pipi, menggigit tangan, atau sulit tidur tanpa sebab lain yang jelas. Perubahan perilaku seperti ini bisa menjadi cara anak menunjukkan rasa sakit, dan dokter gigi perlu memeriksa untuk memastikan penyebabnya.

Bila pembengkakan disertai sulit bernapas atau sulit menelan, segera bawa anak ke IGD rumah sakit terdekat.

Latihan kebersihan diri di YUKA

Di Sekolah Inklusi Taruna Imani, kebiasaan menjaga kebersihan diri dilatih lewat rutinitas harian dan kegiatan praktik, lalu dikomunikasikan kepada orang tua agar bisa dilanjutkan di rumah. YUKA bukan fasilitas kesehatan dan tidak melakukan pemeriksaan atau perawatan gigi; untuk itu kami mengarahkan keluarga ke dokter gigi anak, puskesmas, atau rumah sakit. Ingin berdiskusi tentang pendampingan anak? Hubungi tim YUKA atau lihat program YUKA. Bila Ayah dan Bunda merasa kewalahan mengurus semua kebutuhan anak, artikel dukungan keluarga anak ABK membahas cara membagi peran di rumah.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Berapa kali sehari gigi anak berkebutuhan khusus harus disikat?

Sama seperti anak lain, yaitu dua kali sehari: pagi dan malam sebelum tidur, memakai pasta gigi berfluoride. Anjuran ini disampaikan Kementerian Kesehatan. Bila anak belum mampu menyikat sendiri, orang tua atau pendamping yang menyikatkan, lalu anak dilatih mengambil alih langkah demi langkah.

Berapa banyak pasta gigi yang boleh dipakai anak?

Menurut American Dental Association, anak di bawah 3 tahun cukup memakai pasta gigi berfluoride seukuran butir beras, sedangkan anak usia 3 sampai 6 tahun seukuran biji kacang polong. Untuk anak yang belum bisa meludah atau cenderung menelan pasta gigi, tanyakan takaran yang aman kepada dokter gigi anak.

Anak saya menolak keras saat disikat giginya. Apa yang harus dilakukan?

Mulailah dari langkah yang bisa diterima anak, misalnya hanya memegang sikat atau menyentuhkan sikat ke bibir, lalu tambah sedikit demi sedikit. Jadwal bergambar, posisi yang stabil, dan waktu yang sama setiap hari membantu anak tahu apa yang akan terjadi. Bila penolakan terkait sensitivitas sensorik, terapis okupasi bisa membantu menyusun latihannya.

Kapan anak berkebutuhan khusus pertama kali dibawa ke dokter gigi?

Ikatan Dokter Anak Indonesia menyebut usia 0 sampai 1 tahun, terutama menjelang 12 bulan, sebagai usia awal kontrol pertama ke dokter gigi. Setelah itu Kemenkes menganjurkan pemeriksaan setiap 6 bulan meskipun tidak ada keluhan. Untuk anak dengan kebutuhan khusus, dokter gigi spesialis kedokteran gigi anak umumnya paling siap menangani.

Apakah obat yang rutin diminum anak bisa memengaruhi giginya?

Bisa. NIDCR menyebut sebagian obat resep dapat menyebabkan mulut kering, pembengkakan gusi, atau perubahan lain yang menyulitkan perawatan mulut. Jangan menghentikan atau mengganti obat sendiri. Sampaikan daftar obat anak kepada dokter gigi dan dokter yang meresepkan agar perawatannya bisa disesuaikan.

Artikel Terkait