Singkatnya: skoliosis pada anak cerebral palsy adalah kelengkungan tulang belakang ke samping yang muncul akibat gangguan kendali otot dan postur, bukan karena posisi duduk yang "salah". Risikonya sangat bergantung pada kemampuan motorik anak: anak yang tidak bisa berjalan (GMFCS level IV dan V) memiliki risiko sekitar 50 persen mengalami skoliosis sedang atau berat sebelum usia 18 tahun, sedangkan anak yang berjalan mandiri hampir tidak berisiko. Kurvanya bisa terus bertambah bahkan setelah masa pertumbuhan, sehingga pemeriksaan rutin sejak dini adalah langkah terpenting.
Catatan sebelum membaca
Artikel ini adalah rangkuman informasi untuk orang tua, guru, dan pendamping, bukan alat diagnosis dan bukan saran medis. Diagnosis skoliosis dan keputusan penanganannya, termasuk korset dan operasi, hanya bisa ditetapkan oleh dokter spesialis ortopedi atau rehabilitasi medik yang memeriksa anak secara langsung.
Daftar Isi
- Apa itu skoliosis pada anak cerebral palsy?
- Seberapa sering terjadi?
- Siapa yang paling berisiko?
- Bagaimana perjalanan skoliosisnya?
- Tanda awal yang bisa diamati orang tua dan guru
- Pemantauan rutin: kapan dan bagaimana
- Pilihan penanganan
- Dukungan sehari-hari di rumah dan sekolah
- Pertanyaan yang sering diajukan
Apa Itu Skoliosis pada Anak Cerebral Palsy?
Skoliosis adalah kondisi ketika tulang belakang melengkung ke samping sehingga dari belakang tampak seperti huruf C atau S. Besarnya lengkungan diukur dari foto rontgen dengan sudut Cobb. Dalam penelitian cerebral palsy, skoliosis umumnya didefinisikan sebagai sudut Cobb lebih dari 10 derajat, dan kurva di atas 40 derajat dianggap berat (Willoughby dkk., 2022).
Cerebral palsy (CP) adalah gangguan gerak dan postur akibat kerusakan otak yang terjadi saat otak masih berkembang. Pada anak CP, otot di sekitar tulang belakang bisa terlalu kaku (spastik), terlalu lemah, atau bergerak tidak terkendali. Ketidakseimbangan tarikan otot inilah yang membuat tulang belakang pelan-pelan melengkung. Karena penyebabnya adalah gangguan saraf dan otot, dokter menyebutnya skoliosis neuromuskular, berbeda dengan skoliosis idiopatik yang penyebabnya tidak diketahui dan biasa ditemukan pada remaja yang sehat.
Seberapa Sering Skoliosis Terjadi pada Anak CP?
Beberapa studi populasi besar memberi gambaran yang cukup jelas:
| Studi | Peserta | Temuan utama |
|---|---|---|
| Persson-Bunke dkk., 2012 (Swedia) | 666 anak CP usia 4 sampai 18 tahun | 17% skoliosis ringan dan 11% skoliosis sedang atau berat berdasarkan pemeriksaan klinis; sebagian besar terdiagnosis setelah usia 8 tahun |
| Hägglund dkk., 2018 (Swedia) | 962 individu CP yang dipantau sejak kecil | Jumlah penderita skoliosis terus bertambah sampai usia 20 sampai 25 tahun |
| Willoughby dkk., 2022 (Australia) | 292 dewasa muda CP, rata-rata usia 21 tahun | 41% mengalami skoliosis; 13% memiliki kurva berat di atas 40 derajat |
Angkanya berbeda antarstudi karena usia peserta dan definisi skoliosis yang dipakai tidak sama. Pesan utamanya tetap sama: skoliosis adalah salah satu masalah ortopedi yang paling sering menyertai cerebral palsy, dan jumlahnya meningkat seiring bertambahnya usia.
Siapa yang Paling Berisiko?
1. Tingkat kemampuan motorik kasar (GMFCS)
Faktor terkuat adalah tingkat kemampuan motorik kasar anak, yang diukur dengan GMFCS (Gross Motor Function Classification System), sistem klasifikasi lima level yang dikembangkan khusus untuk anak cerebral palsy (Palisano dkk., 1997). Level I berarti anak bisa berjalan tanpa keterbatasan berarti, sedangkan level V berarti anak sangat bergantung pada orang lain untuk berpindah dan duduk.
- Anak GMFCS IV atau V memiliki risiko sekitar 50 persen mengalami skoliosis sedang atau berat pada usia 18 tahun, sementara anak GMFCS I atau II hampir tidak berisiko (Persson-Bunke dkk., 2012).
- Pada kelompok GMFCS V, 75 persen sudah memiliki kurva 40 derajat atau lebih pada usia 20 tahun. Tidak satu pun peserta GMFCS I mencapai kurva sebesar itu (Hägglund dkk., 2018).
- Individu GMFCS V 23,4 kali lebih mungkin mengalami skoliosis dibanding GMFCS I, dan kurva berat hampir hanya ditemukan pada GMFCS IV dan V (Willoughby dkk., 2022).
2. Jenis gangguan gerak
Studi yang sama menemukan kurva berat 18,2 kali lebih mungkin terjadi pada individu dengan distonia (gerakan dan postur yang terpelintir tidak terkendali) dibanding tipe spastik (Willoughby dkk., 2022). Kemampuan tangan (MACS) yang lebih terbatas juga berkaitan dengan skoliosis.
3. Usia dan besar kurva saat masih tumbuh
Penelitian jangka panjang Saito dkk. mencatat faktor risiko bertambah beratnya skoliosis pada CP spastik: kurva sudah mencapai 40 derajat sebelum usia 15 tahun, keterlibatan seluruh tubuh, anak yang lebih banyak berbaring, dan kurva di area peralihan dada dan pinggang (torakolumbal) (Saito dkk., 1998).
Bagaimana Perjalanan Skoliosis pada Anak CP?
Studi Saito mengikuti 37 pasien CP spastik berat rata-rata selama 17 tahun. Hasilnya, skoliosis biasanya mulai sebelum usia 10 tahun, bertambah cepat selama masa pertumbuhan, dan pada banyak pasien terus bertambah setelah pertumbuhan selesai. Dari 13 pasien yang kurvanya lebih dari 40 derajat sebelum usia 15 tahun, 11 orang (85 persen) akhirnya mencapai lebih dari 60 derajat. Sebaliknya, hanya 3 dari 24 pasien (13 persen) dengan kurva di bawah 40 derajat pada usia 15 tahun yang berkembang sejauh itu (Saito dkk., 1998).
Inilah perbedaan penting dengan skoliosis pada remaja yang sehat. Orang tua anak CP tidak bisa berasumsi kurvanya akan "berhenti sendiri" setelah anak berhenti tumbuh. Kurva yang besar dapat mengganggu keseimbangan duduk, menimbulkan nyeri, membuat panggul miring, dan menekan rongga dada.
Tanda Awal yang Bisa Diamati Orang Tua dan Guru
Karena anak CP sering belum bisa menyampaikan keluhan dengan jelas, pengamatan orang di sekitarnya sangat berharga. Perhatikan hal-hal berikut:
- Anak selalu miring ke satu sisi saat duduk, di kursi roda maupun di kursi biasa, dan perlu terus dibetulkan posisinya.
- Bahu atau pinggang tampak tidak sama tinggi, atau satu sisi punggung tampak lebih menonjol saat anak dibungkukkan.
- Anak mulai sulit duduk lama, lebih cepat lelah, atau tampak tidak nyaman di posisi yang sebelumnya baik-baik saja.
- Satu sisi pinggul lebih sering tertekan, atau muncul kemerahan kulit di area bokong dan punggung.
- Pakaian atau sabuk kursi roda terasa tidak lagi pas di satu sisi.
Penting: tanda di atas bukan diagnosis. Anak bisa miring karena banyak sebab lain, misalnya masalah panggul atau kursi yang tidak sesuai. Catat apa yang Anda lihat, bila perlu foto punggung anak dari belakang untuk dokumentasi pribadi, lalu sampaikan ke dokter saat kontrol.
Pemantauan Rutin: Kapan dan Bagaimana?
Para peneliti dari program pemantauan CP di Swedia menyimpulkan bahwa pemantauan skoliosis sebaiknya disesuaikan dengan usia dan level GMFCS, dimulai sejak usia muda, dan dilanjutkan sampai dewasa (Hägglund dkk., 2018). Program tersebut memakai pemeriksaan klinis tahunan untuk semua anak CP, lalu foto rontgen untuk anak yang tampak memiliki skoliosis sedang atau berat.
Studi di Australia memberi rekomendasi serupa: semua anak CP sebaiknya diperiksa klinis, sedangkan pemantauan dengan rontgen difokuskan pada anak GMFCS IV dan V yang risikonya paling tinggi (Willoughby dkk., 2022).
Dalam praktik, pemeriksaan tulang belakang biasanya dilakukan bersamaan dengan kontrol rutin ke dokter rehabilitasi medik atau ortopedi, yang juga memantau panggul dan kekakuan sendi. Tanyakan kepada dokter anak Anda seberapa sering pemeriksaan perlu dilakukan sesuai kondisinya.
Pilihan Penanganan
Tujuan penanganan skoliosis pada anak CP bukan sekadar meluruskan tulang belakang, melainkan menjaga anak tetap bisa duduk nyaman dan stabil, bernapas dengan baik, dan menjalani aktivitas sehari-hari. Pilihannya ditentukan dokter berdasarkan besar kurva, usia, dan kondisi umum anak.
1. Pengaturan posisi dan kursi (seating)
Kursi atau kursi roda yang disesuaikan dengan bantalan samping, sabuk panggul, dan sandaran yang tepat membantu anak duduk tegak dengan lebih sedikit usaha. Terapis okupasi dan fisioterapis biasanya terlibat menilai kebutuhan ini. Pelajari lebih lanjut peran terapi okupasi dan macam-macam terapi pada anak.
2. Korset (brace)
Korset dapat membuat posisi duduk lebih stabil, tetapi bukti menunjukkan korset tidak menghentikan bertambahnya kurva pada anak CP berat. Studi pada 86 pasien CP spastik kuadriplegia yang memakai korset menemukan kurva tetap bertambah rata-rata 4,2 derajat per tahun. Meski begitu, sebagian besar keluarga dan pengasuh merasa puas karena korset membuat anak lebih stabil saat duduk sehingga fungsi sehari-hari lebih baik (Terjesen dkk., 2000).
3. Operasi fusi tulang belakang
Untuk kurva yang besar dan terus bertambah, dokter ortopedi tulang belakang dapat mempertimbangkan operasi fusi, yaitu menyatukan ruas tulang belakang dengan batang dan sekrup logam. Saito dkk. menilai pasien dengan faktor risiko progresi mungkin mendapat manfaat dari operasi yang lebih awal, sebelum kurvanya menjadi sangat berat (Saito dkk., 1998).
Apa kata penelitian tentang hasilnya?
- Dalam studi 5 tahun pada anak CP GMFCS IV dan V, kualitas hidup terkait kesehatan membaik rata-rata 7,6 poin setelah operasi panggul atau tulang belakang, terutama dalam hal posisi, pemindahan, kenyamanan, dan kesehatan. Namun beban pengasuh tidak berubah karena anak tetap membutuhkan bantuan penuh (DiFazio dkk., 2022).
- Studi multisenter pada 157 anak CP yang tidak bisa berjalan menemukan 36,3 persen mengalami perbaikan kualitas hidup yang bermakna dua tahun setelah operasi (Miller dkk., 2020). Artinya tidak semua anak merasakan manfaat yang sama besar.
- Operasi ini adalah tindakan besar. Dalam satu seri 93 pasien, komplikasi dini terjadi pada 58 persen pasien, meski tidak ada kematian atau komplikasi saraf selama operasi (Lonstein dkk., 2012).
Karena itu keputusan operasi perlu dibicarakan terbuka bersama tim dokter: apa tujuan yang realistis untuk anak, apa risikonya, dan bagaimana persiapan serta pemulihannya.
Dukungan Sehari-hari di Rumah dan Sekolah
- Variasikan posisi. Hindari anak berada di satu posisi terlalu lama. Selingi duduk dengan posisi lain yang dianjurkan terapis.
- Periksa kursi secara berkala. Anak terus tumbuh, sehingga kursi dan bantalan yang dulu pas bisa menjadi tidak sesuai.
- Jaga kulit. Perhatikan area yang sering tertekan dan laporkan kemerahan yang tidak hilang.
- Libatkan guru. Di kelas inklusi, guru dapat membantu mengatur posisi duduk, meja dengan ketinggian yang sesuai, dan jeda untuk berganti posisi.
- Simpan catatan. Catat hasil pemeriksaan, sudut Cobb bila ada, dan perubahan yang Anda amati. Catatan ini memudahkan dokter menilai perkembangan kurva.
Anak dengan hambatan gerak termasuk kelompok tunadaksa, dan hak mereka atas pendidikan dan layanan dibahas di artikel disabilitas. Bagi yang membutuhkan informasi administrasi layanan kesehatan, lihat juga kode ICD-10 cerebral palsy.
Pendampingan di YUKA
YUKA mendampingi anak berkebutuhan khusus melalui pendidikan inklusi dan layanan terapi di Sleman. YUKA tidak menangani skoliosis secara medis; untuk pemeriksaan tulang belakang, silakan berkonsultasi ke dokter ortopedi atau rehabilitasi medik. Untuk mengetahui layanan pendidikan dan terapi yang tersedia, hubungi tim YUKA melalui halaman kontak atau lihat program YUKA.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Seberapa sering skoliosis terjadi pada anak cerebral palsy?
Cukup sering. Dalam studi populasi di Swedia atas 666 anak cerebral palsy usia 4 sampai 18 tahun, 17 persen memiliki skoliosis ringan dan 11 persen skoliosis sedang atau berat berdasarkan pemeriksaan klinis. Studi di Australia pada usia dewasa muda menemukan skoliosis (sudut Cobb lebih dari 10 derajat) pada 41 persen peserta.
Anak cerebral palsy mana yang paling berisiko mengalami skoliosis?
Risiko paling tinggi ada pada anak dengan kemampuan motorik kasar paling terbatas, yaitu GMFCS level IV dan V. Anak GMFCS IV atau V memiliki risiko sekitar 50 persen mengalami skoliosis sedang atau berat pada usia 18 tahun, sedangkan anak GMFCS I atau II hampir tidak berisiko. Gangguan gerak tipe distonia juga dikaitkan dengan kurva yang lebih berat.
Apakah skoliosis pada anak cerebral palsy berhenti setelah masa pertumbuhan?
Tidak selalu. Berbeda dengan banyak kasus skoliosis lain, penelitian jangka panjang menemukan kurva tulang belakang pada cerebral palsy bisa terus bertambah setelah pertumbuhan selesai. Karena itu pemantauan dianjurkan dimulai sejak usia dini dan dilanjutkan sampai dewasa.
Apakah korset bisa menyembuhkan skoliosis pada anak cerebral palsy?
Tidak. Studi pada 86 pasien menemukan kurva tetap bertambah rata-rata 4,2 derajat per tahun meski memakai korset. Namun keluarga dan pengasuh merasa terbantu karena korset membuat posisi duduk anak lebih stabil. Keputusan memakai korset ditentukan dokter ortopedi.
Kapan anak cerebral palsy dengan skoliosis perlu dioperasi?
Keputusan operasi selalu ditetapkan dokter ortopedi tulang belakang berdasarkan besar kurva, kecepatan bertambahnya, usia, dan dampaknya pada duduk, pernapasan, serta kenyamanan anak. Operasi fusi tulang belakang adalah tindakan besar dengan risiko komplikasi, sehingga manfaat dan risikonya perlu dibicarakan terbuka dengan tim dokter.
Artikel Terkait
Sumber dan Referensi
- Persson-Bunke M, Hägglund G, dkk. Scoliosis in a total population of children with cerebral palsy. Spine. 2012;37(12):E708-13
- Hägglund G, Pettersson K, dkk. Incidence of scoliosis in cerebral palsy. Acta Orthop. 2018;89(4):443-447
- Willoughby KL, dkk. Epidemiology of scoliosis in cerebral palsy: A population-based study at skeletal maturity. J Paediatr Child Health. 2022;58(2):295-301
- Saito N, dkk. Natural history of scoliosis in spastic cerebral palsy. Lancet. 1998;351(9117):1687-92
- Terjesen T, Lange JE, Steen H. Treatment of scoliosis with spinal bracing in quadriplegic cerebral palsy. Dev Med Child Neurol. 2000;42(7):448-54
- DiFazio RL, dkk. Health-related quality of life and caregiver burden after hip reconstruction and spinal fusion in children with spastic cerebral palsy. Dev Med Child Neurol. 2022;64(1):80-87
- Miller DJ, dkk. Improving Health-related Quality of Life for Patients With Nonambulatory Cerebral Palsy: Who Stands to Gain From Scoliosis Surgery? J Pediatr Orthop. 2020;40(3):e186-e192
- Lonstein JE, dkk. Results and complications after spinal fusion for neuromuscular scoliosis in cerebral palsy and static encephalopathy. Spine. 2012;37(7):583-91
- Palisano R, dkk. Development and reliability of a system to classify gross motor function in children with cerebral palsy. Dev Med Child Neurol. 1997;39(4):214-23
Disclaimer: Artikel ini bersifat edukasi umum dan bukan nasihat medis. Diagnosis skoliosis serta keputusan pemakaian korset atau operasi harus ditetapkan oleh dokter spesialis yang memeriksa anak secara langsung. Sumber dicek pada 28 September 2026.