Sensory over responsivity (SOR) adalah pola ketika anak bereaksi terhadap rangsangan sehari-hari, seperti suara, sentuhan, cahaya, atau bau, jauh lebih cepat, lebih kuat, atau lebih lama dari anak seusianya, sampai mengganggu aktivitas harian. SOR bukan diagnosis tunggal yang diakui semua pihak, tetapi pola yang perlu dikenali, dicatat, dan dibantu.

Ada anak yang menangis setiap kali rambutnya dikeramas, menutup telinga saat blender menyala, menolak baju berlabel, atau panik di keramaian pasar. Sering kali orang dewasa menyebutnya manja, rewel, atau sulit diatur. Padahal pada sebagian anak, reaksi itu muncul karena otaknya menangkap rangsangan biasa sebagai sesuatu yang mengganggu atau bahkan mengancam. Pola inilah yang dalam literatur terapi okupasi disebut sensory over responsivity.

Artikel ini menjelaskan pengertian sensory over responsivity pada anak, tanda per indra, bedanya dengan sekadar tidak suka, hubungannya dengan autisme, ADHD, dan kecemasan, serta langkah praktis yang bisa dilakukan orang tua dan guru. Untuk gambaran yang lebih luas tentang cara otak mengolah rangsangan, baca juga panduan sensori integrasi.

Penting sebelum membaca

Artikel ini informasi umum untuk orang tua dan guru, bukan alat diagnosis dan bukan resep. Pola sensorik anak perlu dinilai oleh dokter spesialis anak, psikolog atau psikiater anak, dan terapis okupasi, karena reaksi sensorik berlebih bisa menyertai berbagai kondisi. Jangan memulai atau menghentikan terapi tanpa berbicara dengan tenaga profesional yang menangani anak.

Apa Itu Sensory Over Responsivity?

Istilah sensory over responsivity dipopulerkan oleh Miller dan rekan dalam usulan klasifikasi gangguan pemrosesan sensorik yang terbit di American Journal of Occupational Therapy tahun 2007. Dalam kerangka itu, SOR adalah salah satu bentuk gangguan modulasi sensorik, bersama pola kurang responsif (under responsivity) dan pola mencari rangsangan (sensory seeking). Anak dengan SOR merespons rangsangan lebih cepat, lebih kuat, atau lebih lama daripada yang diharapkan, dan bisa terjadi pada satu indra saja (misalnya sentuhan) atau beberapa indra sekaligus.

Ada satu hal penting yang perlu diketahui orang tua. American Academy of Pediatrics (AAP) dalam pernyataan kebijakan tahun 2012 menyatakan bahwa karena belum ada kerangka diagnosis yang diterima secara universal, "sensory processing disorder" umumnya tidak didiagnosis sebagai gangguan tersendiri. AAP menekankan bahwa kesulitan mengolah rangsangan sensorik adalah ciri yang dapat muncul pada banyak kondisi, termasuk gangguan spektrum autisme, ADHD, gangguan koordinasi perkembangan, dan gangguan kecemasan anak. Karena itu, evaluasi menyeluruh tetap diperlukan.

Artinya, SOR sebaiknya dipahami sebagai pola yang nyata dan bisa diamati, bukan label akhir. Tujuannya membantu anak berpartisipasi lebih nyaman, sambil memastikan tidak ada kondisi lain yang terlewat.

Tanda Sensory Over Responsivity pada Anak, Dilihat per Indra

Tanda SOR berbeda pada tiap anak. Tabel berikut merangkum contoh yang sering dilaporkan orang tua dan guru. Satu atau dua tanda saja belum tentu bermakna; yang perlu diperhatikan adalah pola yang menetap dan berdampak.

IndraContoh reaksi berlebih
PendengaranMenutup telinga, menangis, membeku, atau lari saat mendengar blender, pengering tangan, bel sekolah, sirene, atau keramaian kelas
Sentuhan (taktil)Sangat terganggu saat keramas, potong rambut, potong kuku, sikat gigi, memakai baju berlabel atau berjahitan kasar, menyentuh benda lengket, atau tersenggol teman
PenglihatanSilau dan gelisah di ruangan terang, lampu berkedip, dinding kelas yang terlalu ramai hiasan, atau gerakan cepat di sekitarnya
PenciumanMual, muntah, atau menolak masuk ruangan karena bau parfum, masakan, sabun, atau toilet
Rasa dan tekstur mulutHanya mau makanan dengan tekstur tertentu, menolak makanan campur, panas, atau berbumbu kuat
Gerak (vestibular)Takut berlebihan saat diayun, naik eskalator, lift, atau saat kakinya tidak menapak tanah

Instrumen penelitian khusus SOR, yaitu SensOR Inventory, memakai kategori yang mirip: tekstur sentuhan, sentuhan dalam aktivitas sehari-hari, suasana bising, suara tertentu, penglihatan, penciuman, gerak, dan tekstur makanan. Kesulitan makan karena tekstur dibahas lebih rinci di artikel cara mengatasi picky eater pada anak autis dan gangguan makan pada anak berkebutuhan khusus.

Bedanya SOR dengan Anak yang Sekadar Tidak Suka

Semua anak punya hal yang tidak disukai. Yang membedakan SOR adalah intensitas, durasi, dan dampaknya. Beberapa pertanyaan yang bisa membantu:

Bila jawabannya banyak yang "ya", catat pola itu selama satu sampai dua minggu: apa pemicunya, di mana, jam berapa, seberapa lama, dan apa yang membantu anak tenang. Catatan ini sangat berguna saat berkonsultasi dengan tenaga profesional.

Seberapa Umum Sensory Over Responsivity?

Penelitian Ben-Sasson, Carter, dan Briggs-Gowan (2009) terhadap 925 anak usia 7 sampai 11 tahun yang diikuti sejak bayi menemukan bahwa 16 persen orang tua melaporkan anaknya terganggu oleh sedikitnya empat jenis sensasi sentuhan atau suara. Dalam studi yang sama, anak dengan SOR tinggi lebih sering menunjukkan masalah emosi, perilaku, dan regulasi diri, serta keterampilan sosial adaptif yang lebih rendah.

Angka ini adalah hasil skrining berdasarkan laporan orang tua di satu kelompok anak di Amerika Serikat, bukan angka diagnosis. Belum ada data prevalensi SOR yang representatif untuk anak Indonesia. Pesannya sederhana: anak yang sangat sensitif terhadap rangsangan bukan hal langka, dan reaksi mereka layak ditanggapi serius, bukan dimarahi.

Kaitan SOR dengan Autisme, ADHD, dan Kecemasan

Autisme

Dalam kriteria DSM-5 untuk gangguan spektrum autisme yang dirangkum CDC, salah satu ciri pola perilaku terbatas dan berulang adalah hiper atau hiporeaktivitas terhadap input sensorik, misalnya respons negatif terhadap suara atau tekstur tertentu. Namun, reaksi sensorik berlebih saja tidak berarti anak autis. Diagnosis autisme membutuhkan penilaian komunikasi sosial dan pola perilaku secara lengkap oleh tenaga ahli. Pelajari lebih lanjut di artikel autisme adalah.

ADHD

Penelitian Lane, Reynolds, dan Thacker (2010) pada anak usia 6 sampai 12 tahun menemukan bahwa sebagian anak ADHD juga menunjukkan SOR, dan studi itu memperkuat kaitan antara SOR dan kecemasan, baik pada anak ADHD maupun anak dengan perkembangan khas. Artinya, anak yang tampak gelisah dan sulit fokus di kelas bisa jadi sedang terganggu oleh suara atau sentuhan di sekitarnya. Baca juga ADHD adalah untuk memahami gejala inti ADHD.

Kecemasan

Studi prospektif Carpenter dan rekan (2019) dari Duke University terhadap 917 anak usia 2 sampai 5 tahun menemukan bahwa 43 persen anak prasekolah dengan SOR juga memiliki gangguan kecemasan yang mengganggu fungsi pada saat yang sama. Gejala SOR di usia prasekolah juga memprediksi gejala kecemasan di usia 6 tahun (data lanjutan pada 191 anak), dan kecemasan itu berkaitan dengan iritabilitas serta masalah tidur di usia sekolah. Karena itu, bila anak dengan SOR banyak menghindar, takut, atau sulit tidur, kemungkinan kecemasan perlu ikut diperiksa.

SOR atau Kecemasan? Petunjuk Pengamatan untuk Orang Tua

Karena SOR dan kecemasan sering muncul bersamaan, orang tua kerap bingung mana yang sedang terjadi. Pengamatan berikut bukan alat diagnosis, tetapi membantu Anda membawa catatan yang lebih jelas ke tenaga profesional:

Lebih mengarah ke reaksi sensorikLebih mengarah ke kecemasan
Reaksi dipicu rangsangan yang sedang ada saat itu: bunyi blender, label baju, bau tertentuRasa takut muncul jauh sebelum kejadian, misalnya sudah gelisah sejak malam sebelum ke sekolah
Anak cenderung tenang kembali setelah rangsangan dihentikan atau dijauhkanAnak tetap khawatir walau pemicunya sudah tidak ada, dan sering bertanya "nanti bagaimana kalau..."
Yang dihindari terkait indra tertentu: suara, sentuhan, cahaya, teksturYang dikhawatirkan juga hal non-sensorik: berpisah dari orang tua, dimarahi, gagal, atau sakit

Pada banyak anak keduanya saling menguatkan: pengalaman sensorik yang tidak nyaman membuat anak cemas menghadapi situasi serupa, lalu kecemasan membuat ambang toleransinya makin rendah. Temuan Carpenter dan rekan (2019) bahwa SOR di usia prasekolah memprediksi gejala kecemasan di usia 6 tahun sejalan dengan pola ini. Bila kolom kanan banyak cocok, sampaikan kepada dokter anak atau psikolog anak.

Contoh Penerapan: Menyiapkan Anak yang Sensitif untuk Potong Rambut

Potong rambut menggabungkan banyak pemicu sekaligus: bunyi gunting dan mesin cukur, potongan rambut yang gatal di leher, kain penutup, dan sentuhan orang asing. Berikut contoh menerapkan prinsip di atas:

  1. Beberapa hari sebelumnya, tunjukkan foto atau video singkat tempat potong rambut dan ceritakan urutannya.
  2. Latihan di rumah dengan sisir dan gunting mainan, saat anak sedang tenang dan boleh berhenti kapan saja.
  3. Pilih waktu sepi agar ruangan tidak bising, dan minta tukang cukur memakai gunting bila bunyi mesin cukur terlalu mengganggu.
  4. Kurangi sensasi gatal: pakaikan kaus berkerah tinggi atau handuk lembut di leher, siapkan baju ganti.
  5. Beri kendali dan jeda: anak boleh memegang cermin, menghitung mundur, atau meminta istirahat sebentar.
  6. Akhiri dengan hal menyenangkan dan catat apa yang membantu untuk kunjungan berikutnya.

Prinsip yang sama berlaku untuk pemeriksaan gigi. Panduan langkah demi langkahnya ada di artikel cara membawa anak autis ke dokter gigi.

Kapan Perlu ke Profesional dan Seperti Apa Asesmennya?

Pertimbangkan konsultasi bila reaksi sensorik anak:

Titik awal yang baik adalah dokter spesialis anak, terutama yang mendalami tumbuh kembang. Dokter dapat memeriksa pendengaran, penglihatan, kesehatan umum, dan merujuk ke psikolog anak atau psikiater anak bila ada dugaan autisme, ADHD, atau kecemasan, serta ke terapis okupasi untuk menilai dampak sensorik pada aktivitas sehari-hari.

Terapis okupasi biasanya memakai wawancara, observasi, dan kuesioner baku. Tinjauan di jurnal Brain Sciences (2022) merangkum beberapa alat yang umum dipakai, antara lain Child Sensory Profile 2 (86 butir, usia 3 sampai 15 tahun, diisi pengasuh), Sensory Processing Measure untuk perilaku sensorik di rumah dan sekolah, serta SensOR Inventory (76 butir) yang khusus mengenali SOR. Kuesioner ini membantu memetakan pola, tetapi bukan tes tunggal untuk menegakkan diagnosis. Bila di Yogyakarta dan sekitarnya, daftar layanan dapat dilihat di tempat terapi anak di Jogja.

Cara Membantu Anak dengan SOR di Rumah

Strategi di bawah ini bersifat umum dan berisiko rendah. Sesuaikan dengan anak Anda, dan diskusikan dengan terapis bila sudah ada program terapi.

  1. Buat hari lebih bisa ditebak. Jadwal visual sederhana dan pemberitahuan sebelum kegiatan yang berat secara sensorik (misalnya "lima menit lagi kita keramas") mengurangi kejutan.
  2. Kurangi pemicu yang tidak perlu. Potong label baju, pilih kain yang lembut, redupkan lampu yang terlalu terang, dan kecilkan suara televisi saat anak belajar atau makan.
  3. Beri kendali kepada anak. Biarkan anak memilih urutan mandi, menuang air sendiri, atau memegang sikat giginya. Rasa memegang kendali sering menurunkan kepanikan.
  4. Sediakan sudut tenang. Satu tempat yang sepi dan nyaman untuk menenangkan diri, bukan sebagai hukuman.
  5. Pakai pelindung telinga secara bijak. Penutup telinga membantu di tempat yang benar-benar bising seperti acara keluarga besar atau pasar, tetapi sebaiknya tidak dipakai sepanjang hari tanpa arahan profesional.
  6. Paparan bertahap, bukan paksaan. Kenalkan tekstur atau suara baru sedikit demi sedikit saat anak sedang tenang. Memaksa anak "membiasakan diri" justru bisa memperkuat rasa takutnya.
  7. Validasi perasaan anak. Kalimat seperti "Suaranya keras ya, kamu kaget" membantu anak belajar menamai perasaannya, langkah awal untuk meregulasi diri.

Beberapa keluarga memakai rangkaian aktivitas terjadwal yang disebut sensory diet. Bila ingin mencobanya, susun bersama terapis okupasi agar aktivitasnya sesuai kebutuhan anak. Ide kegiatan dan bukti ilmiahnya ada di artikel terapi integrasi sensorik di rumah.

Strategi untuk Guru di Kelas Inklusi

Kelas adalah lingkungan yang penuh rangsangan: bel, suara teman, kipas, bau kantin, dan antre bersentuhan. Beberapa penyesuaian sederhana bisa sangat membantu:

Penyesuaian ini dapat dicantumkan dalam program pembelajaran individual anak sehingga semua pendamping memahaminya.

Apa Kata Riset tentang Terapi untuk SOR?

Terapi okupasi dengan pendekatan sensorik sering ditawarkan untuk anak dengan SOR. Bagaimana buktinya?

Kesimpulan praktisnya: pilih terapis okupasi yang menetapkan tujuan fungsional yang terukur (misalnya "anak bisa mengikuti upacara sekolah dengan strategi yang disepakati"), meninjau kemajuan secara berkala, dan terbuka soal batasan bukti. Waspadai layanan yang menjanjikan "menyembuhkan" atau memakai alat mahal tanpa evaluasi. Bila kecemasan menonjol, libatkan psikolog anak agar kecemasan itu ditangani tersendiri. Gambaran tahapan terapi sensorik bisa dibaca di piramida sensori integrasi.

Kesalahan yang Sebaiknya Dihindari

Pendampingan di YUKA

Di Sekolah Inklusi Taruna Imani, YUKA mendampingi anak dengan beragam kebutuhan, termasuk anak yang mudah kewalahan oleh rangsangan sensorik, lewat rutinitas kelas yang terstruktur dan komunikasi rutin dengan orang tua. YUKA adalah lembaga pendidikan, bukan fasilitas medis: kami tidak mendiagnosis dan tidak memberikan terapi medis. Untuk pemeriksaan dan terapi, kami mengarahkan keluarga ke dokter anak, psikolog atau psikiater anak, dan terapis okupasi. Ingin berdiskusi soal pendampingan belajar? Hubungi tim YUKA.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah sensory over responsivity sama dengan autisme?

Tidak. Reaksi berlebih terhadap rangsangan sensorik memang termasuk salah satu ciri dalam kriteria DSM-5 untuk autisme, tetapi banyak anak dengan SOR tidak autis. SOR juga bisa menyertai ADHD, kecemasan, atau muncul tanpa kondisi lain. Diagnosis autisme membutuhkan penilaian lengkap oleh tenaga ahli.

Apakah sensory over responsivity bisa disembuhkan atau hilang?

Perjalanannya berbeda pada tiap anak. Dengan lingkungan yang lebih ramah sensorik, strategi menenangkan diri, dan dukungan profesional bila perlu, banyak anak menjadi lebih mampu berpartisipasi. Tujuannya bukan menghapus semua sensitivitas, melainkan membantu anak berfungsi dan merasa aman.

Apakah anak dengan SOR berisiko mengalami kecemasan?

Riset Carpenter dan rekan (2019) menemukan 43 persen anak prasekolah dengan SOR juga memiliki gangguan kecemasan, dan gejala SOR di usia prasekolah memprediksi gejala kecemasan di usia 6 tahun. Karena itu, kecemasan sebaiknya ikut diperhatikan dan diperiksa.

Ke mana sebaiknya membawa anak yang diduga mengalami SOR?

Mulailah dari dokter spesialis anak, terutama yang mendalami tumbuh kembang. Dokter dapat merujuk ke terapis okupasi untuk asesmen sensorik dan ke psikolog atau psikiater anak bila ada dugaan autisme, ADHD, atau kecemasan.

Apakah penutup telinga baik untuk anak yang sensitif suara?

Penutup telinga bisa membantu di tempat yang benar-benar bising, misalnya acara ramai. Sebaiknya tidak dipakai sepanjang hari tanpa arahan, karena anak juga perlu kesempatan bertahap untuk terbiasa dengan suara sehari-hari bersama strategi menenangkan diri.

Bacaan Terkait

Lanjutkan ke panduan YUKA lain tentang pengolahan sensorik dan dukungan untuk anak berkebutuhan khusus.