Untuk orang tua baru terima diagnosis anak ABK, langkah awalnya ada empat: pahami isi diagnosis dan minta laporan tertulis, kumpulkan dokumen anak dalam satu map, mulai jalur terapi lewat rujukan berjenjang JKN, lalu bicarakan akomodasi yang layak dengan sekolah. Di sela itu, orang tua juga berhak mendapat dukungan psikologis.

Hari ketika dokter atau psikolog menyebut nama sebuah kondisi biasanya terasa sangat panjang. Banyak orang tua pulang dengan selembar kertas, beberapa istilah asing, dan satu pertanyaan besar: besok saya harus mulai dari mana?

Artikel ini tidak membahas cara berdamai dengan perasaan secara panjang, karena topik itu sudah ada di panduan menerima diagnosis anak ABK. Di sini kami menyusun peta kerja yang praktis untuk tiga bulan pertama: apa yang ditanyakan ke dokter, dokumen apa yang disimpan, bagaimana terapi bisa diakses lewat Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), hak apa saja yang dijamin undang-undang, dan ke mana orang tua bisa mencari dukungan. Untuk pembagian peran di rumah setelah fase awal lewat, lanjutkan ke panduan dukungan keluarga anak ABK.

Penting sebelum membaca

YUKA adalah lembaga pendidikan, bukan fasilitas kesehatan atau kantor hukum. Ketentuan layanan JKN dan aturan sekolah bisa berubah dan berbeda antardaerah. Pastikan detailnya ke Puskesmas tempat anak terdaftar, BPJS Kesehatan, atau dinas pendidikan setempat sebelum mengambil keputusan.

Minggu Pertama: Tidak Harus Langsung Tahu Semuanya

Kaget, sedih, lega karena akhirnya ada penjelasan, atau marah karena merasa terlambat: semua reaksi itu muncul pada banyak orang tua, sering bergantian dalam satu hari. Tidak ada keharusan untuk "kuat" di minggu pertama. Yang perlu dijaga hanya dua hal: anak tetap menjalani rutinitas hariannya, dan orang tua tidak memutuskan hal besar (misalnya pindah sekolah atau membeli paket terapi mahal) dalam keadaan panik.

Kalau rasa cemas terus menetap sampai mengganggu tidur atau pekerjaan, itu tanda untuk mencari bantuan, bukan tanda gagal sebagai orang tua. Kiat mengelola tekanan sehari-hari ada di artikel mengelola stres orang tua anak ABK, dan tempat konseling yang bisa diakses dibahas di bagian akhir artikel ini.

Pahami Isi Diagnosis, Bukan Hanya Namanya

Nama diagnosis jarang cukup untuk menyusun rencana. Dua anak dengan diagnosis yang sama bisa punya kebutuhan yang sangat berbeda. Karena itu, pada pertemuan berikutnya dengan dokter spesialis anak, psikiater anak, atau psikolog, bawa daftar pertanyaan berikut:

Laporan tertulis itu penting. Dokumen ini akan diminta lagi oleh terapis, sekolah, dan kadang oleh petugas layanan sosial. Kalau prosedur pemeriksaannya belum jelas, artikel asesmen anak berkebutuhan khusus menjelaskan tahapan yang lazim. Meminta pendapat kedua dari profesional lain juga hal yang wajar, terutama bila rekomendasi terasa tidak sesuai dengan apa yang orang tua lihat di rumah.

Siapkan Satu Map Dokumen Anak

Tiga bulan pertama biasanya penuh dengan antrean, formulir, dan pertemuan. Satu map (fisik atau folder di ponsel) menghemat banyak tenaga. Isinya:

Pemantauan tumbuh kembang anak sendiri sudah menjadi program rutin pemerintah. Permenkes Nomor 66 Tahun 2014 mengatur pemantauan pertumbuhan, perkembangan, dan gangguan tumbuh kembang anak, jadi Puskesmas adalah titik awal yang sah untuk pemeriksaan lanjutan maupun rujukan.

Mengakses Terapi Lewat JKN: Alur Rujukan Berjenjang

Banyak orang tua mengira terapi untuk anak berkebutuhan khusus selalu harus dibayar sendiri. Dasar hukumnya berkata lain. Perpres Nomor 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan Pasal 47 ayat (1) huruf b mencantumkan rehabilitasi medis sebagai salah satu pelayanan kesehatan rujukan tingkat lanjutan yang dijamin. Di rumah sakit, layanan seperti fisioterapi, terapi okupasi, dan terapi wicara umumnya berada di bawah unit rehabilitasi medik.

Syaratnya, Pasal 55 ayat (1) Perpres yang sama menyebut pelayanan dilaksanakan secara berjenjang sesuai kebutuhan medis, dimulai dari fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) tempat peserta terdaftar, kecuali keadaan gawat darurat. Dalam praktik, alurnya seperti ini:

  1. Datang ke FKTP tempat anak terdaftar (Puskesmas, klinik, atau dokter keluarga) dengan membawa kartu JKN dan laporan diagnosis.
  2. Dokter FKTP memeriksa dan, bila ada indikasi medis, membuat surat rujukan ke rumah sakit.
  3. Di rumah sakit, dokter spesialis (sering kali dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi) menyusun program terapi.
  4. Sesi terapi berjalan sesuai program. Simpan setiap catatan dan perhatikan masa berlaku surat rujukan.

Perlu jujur juga: jumlah sesi, jadwal, dan ketersediaan terapis berbeda di tiap rumah sakit. Pada Juni 2024, Kontan melaporkan keresahan orang tua setelah pihak rumah sakit menyampaikan rencana pembatasan layanan terapi bagi anak berkebutuhan khusus, menyusul surat pernyataan perhimpunan dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi (Perdosri) tentang standardisasi pelayanan. Jadi tanyakan langsung ke rumah sakit rujukan berapa sesi yang bisa diberikan dan bagaimana kelanjutannya, lalu catat jawabannya.

Mengenal Jenis Terapi yang Mungkin Disarankan

Rekomendasi terapi bergantung pada kebutuhan anak, bukan pada nama diagnosis saja. Sebagai gambaran, halaman CDC tentang penanganan autisme menyebut terapi wicara dan bahasa sebagai terapi perkembangan yang paling umum, terapi okupasi untuk melatih kemandirian seperti berpakaian, makan, dan mandi, serta fisioterapi untuk keterampilan gerak halus maupun kasar. Penjelasan lebih rinci ada di artikel:

Berhati-hatilah dengan tawaran yang menjanjikan "sembuh total" dalam waktu singkat atau meminta pembayaran paket besar di muka. Terapi yang baik selalu punya tujuan yang bisa diukur dan jadwal evaluasi.

Hak Anak yang Dijamin UU Nomor 8 Tahun 2016

Diagnosis tidak mengurangi hak anak sedikit pun. Sebaliknya, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas memberi perlindungan tambahan. Pasal 5 ayat (3) menyebut anak penyandang disabilitas berhak atas:

BidangIsi pokok dalam UU 8/2016Artinya bagi orang tua
Pendidikan (Pasal 10)Pendidikan bermutu di semua jenis, jalur, dan jenjang secara inklusif dan khusus, serta akomodasi yang layak sebagai peserta didik.Anak boleh memilih sekolah inklusi maupun SLB, dan berhak atas penyesuaian belajar.
Kesehatan (Pasal 12)Informasi yang mudah diakses, pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau, serta alat bantu kesehatan sesuai kebutuhan.Orang tua berhak meminta penjelasan yang dimengerti dan menanyakan alat bantu yang dibutuhkan anak.
Wajib belajar (Pasal 40)Pemerintah wajib mengikutsertakan anak penyandang disabilitas dalam wajib belajar 12 tahun, dan pemerintah daerah wajib mengutamakan sekolah yang dekat tempat tinggal.Sekolah dekat rumah adalah hak, bukan kebaikan hati.

Rangkuman hak lain yang lebih lengkap ada di artikel apa saja hak anak berkebutuhan khusus.

Sekolah: Inklusi atau SLB, dan Apa Itu Akomodasi yang Layak

Pasal 40 ayat (2) UU 8/2016 menyebut pendidikan untuk penyandang disabilitas diselenggarakan melalui pendidikan inklusif dan pendidikan khusus. Tidak ada jalur yang otomatis lebih baik. Pertimbangannya adalah kebutuhan belajar anak, kesiapan sekolah, dan jarak dari rumah. Perbandingan keduanya kami bahas di perbedaan sekolah inklusi dan SLB.

Apa pun pilihannya, ada satu istilah yang perlu dikenal orang tua: akomodasi yang layak. PP Nomor 13 Tahun 2020 mengatur bahwa akomodasi ini disediakan di semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan, baik inklusif maupun khusus (Pasal 2), pemerintah pusat dan daerah wajib memfasilitasi lembaga pendidikan untuk menyediakannya (Pasal 3), dan lembaga pendidikan yang sudah difasilitasi wajib menyediakannya (Pasal 8). Aturan teknisnya diturunkan dalam Permendikbudristek Nomor 48 Tahun 2023.

UU 8/2016 Pasal 42 juga mewajibkan pemerintah daerah memfasilitasi pembentukan Unit Layanan Disabilitas untuk mendukung pendidikan inklusif tingkat dasar dan menengah. Fungsinya antara lain menyediakan pendampingan bagi peserta didik, melakukan deteksi dan intervensi dini, serta menyediakan layanan konsultasi. Saat bertemu sekolah, pertanyaan berikut membantu:

Dukungan Psikologis untuk Orang Tua, Bukan Hanya untuk Anak

Anak paling terbantu oleh orang tua yang cukup tenang untuk konsisten. Karena itu, kesehatan jiwa orang tua termasuk bagian dari rencana, bukan tambahan. Beberapa jalur yang bisa dicoba:

Merawat diri sendiri bukan egois. Ide-ide sederhana untuk itu ada di artikel self-care untuk orang tua anak disabilitas.

Rencana 90 Hari Pertama dalam Satu Tabel

WaktuFokusHasil yang dituju
Minggu 1Jaga rutinitas anak, catat pertanyaan untuk dokter, cek status kartu JKN.Daftar pertanyaan siap, kartu JKN aktif.
Minggu 2 sampai 4Konsultasi lanjutan, minta laporan tertulis, susun map dokumen, datangi FKTP untuk rujukan.Laporan diagnosis di tangan, surat rujukan terbit.
Bulan 2Mulai terapi, bertemu sekolah atau calon sekolah, tanyakan akomodasi yang layak.Jadwal terapi berjalan, sekolah memahami kebutuhan anak.
Bulan 3Evaluasi kecil bersama terapis dan guru, cari dukungan untuk orang tua bila diperlukan.Tujuan terapi dan belajar untuk tiga bulan berikutnya.

Tabel ini hanya kerangka. Ada keluarga yang butuh lebih lama di satu tahap, dan itu tidak apa-apa. Yang penting setiap langkah tercatat, sehingga ketika bertemu profesional baru, orang tua tidak perlu mengulang cerita dari nol.

Pendampingan di YUKA

Di Sekolah Inklusi Taruna Imani, YUKA mendampingi anak dengan beragam kebutuhan belajar lewat kegiatan kelas yang terstruktur, latihan kemandirian seperti kelas memasak, dan komunikasi rutin dengan orang tua. Kami bukan fasilitas medis, jadi tidak menegakkan diagnosis. Yang bisa kami bantu adalah menerjemahkan laporan diagnosis menjadi rencana belajar di kelas dan mendengarkan orang tua yang baru memulai perjalanan ini. Ingin berdiskusi? Hubungi tim YUKA.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah BPJS Kesehatan menanggung terapi anak berkebutuhan khusus?

Perpres Nomor 82 Tahun 2018 Pasal 47 mencantumkan rehabilitasi medis sebagai layanan rujukan tingkat lanjutan yang dijamin JKN. Aksesnya lewat rujukan berjenjang dari FKTP dan harus ada indikasi medis. Jumlah sesi dan ketersediaan terapis berbeda di tiap rumah sakit, jadi tanyakan langsung ke rumah sakit rujukan.

Apakah anak yang baru didiagnosis harus masuk SLB?

Tidak harus. UU Nomor 8 Tahun 2016 menjamin hak pendidikan secara inklusif maupun khusus. Pilihan sebaiknya didasarkan pada kebutuhan belajar anak, kesiapan sekolah memberi akomodasi yang layak, dan jarak dari rumah.

Dokumen apa yang perlu disiapkan setelah anak didiagnosis?

Minimal Kartu Keluarga, akta kelahiran, kartu JKN yang aktif, laporan tertulis hasil pemeriksaan, surat rujukan, dan catatan perkembangan harian dari orang tua. Simpan semuanya dalam satu map agar mudah dibawa ke dokter, terapis, dan sekolah.

Ke mana orang tua bisa mencari konseling?

Pilihannya antara lain psikolog di Puskesmas (tersedia di sebagian daerah), PUSPAGA yang dikelola dinas PPPA setempat, dan layanan Healing119 dari Kementerian Kesehatan lewat 119 ekstensi 8 untuk kondisi krisis.

Apakah boleh meminta pendapat kedua atas diagnosis anak?

Boleh dan wajar, terutama jika rekomendasi terasa tidak sesuai dengan kondisi anak di rumah. Bawa laporan tertulis dari pemeriksaan pertama supaya profesional kedua bisa membandingkan.

Bacaan Terkait

Lanjutkan ke panduan YUKA lain untuk orang tua di masa awal setelah diagnosis.