Metode prompt dalam terapi wicara punya dua arti. Pertama, PROMPT (Prompts for Restructuring Oral Muscular Phonetic Targets), yaitu teknik terapi berbasis sentuhan pada wajah dan rahang untuk anak dengan gangguan motorik bicara. Kedua, prompting, yaitu bantuan bertahap (verbal, isyarat, contoh, atau fisik) yang diberikan terapis agar anak berhasil merespons, lalu dikurangi pelan-pelan sampai anak mandiri.

Catatan sebelum membaca

Artikel ini menjelaskan cara kerja metode dan ringkasan penelitian, bukan panduan terapi mandiri. Pemilihan metode untuk anak ditentukan terapis wicara setelah asesmen. Hasil penelitian yang dikutip berasal dari kelompok anak tertentu dan tidak menjamin hasil yang sama pada setiap anak.

Dua Arti "Prompt" dalam Terapi Wicara

Orang tua yang mencari "metode prompt" sering menemukan dua hal berbeda dengan nama yang mirip. Keduanya dipakai terapis, tetapi tujuannya tidak sama:

Karena itu, bila terapis menyebut "anak ini akan dilatih dengan prompt", tanyakan dengan sopan maksudnya: apakah metode PROMPT dengan sentuhan, atau bantuan bertahap yang nanti dikurangi. Jawabannya menentukan apa yang bisa Ayah dan Bunda bantu di rumah.

Metode PROMPT: Terapi Berbasis Sentuhan

PROMPT dikembangkan oleh Deborah Hayden. Menurut Dale dan Hayden (2013), pendekatan ini memakai isyarat taktil, kinestetik, dan proprioseptif (sering disingkat TKP), yaitu isyarat sentuhan, gerak, dan posisi, untuk mendukung dan membentuk gerakan organ artikulasi di mulut.

Practice Portal milik American Speech-Language-Hearing Association (ASHA) menggolongkan PROMPT sebagai salah satu metode fasilitasi taktil. Dalam metode seperti ini, terapis memberi tekanan atau menyentuh wajah, leher, dan kepala anak sebagai isyarat untuk menghasilkan bunyi atau gerakan bicara yang benar.

Seperti apa dalam sesi terapi

Bayangkan anak kesulitan mengucapkan "ma" karena bibirnya belum menutup dengan tepat. Dengan PROMPT, terapis tidak hanya mencontohkan bunyi dan menunggu anak meniru. Terapis juga memberi isyarat sentuhan di area bibir atau rahang pada waktu yang tepat, sehingga anak "merasakan" gerakan yang dibutuhkan sambil mendengar dan melihat contohnya. Gambaran ini penyederhanaan; posisi dan tekanan sentuhan yang sebenarnya ditentukan terapis berdasarkan asesmen.

Hierarki motorik bicara

Terapis PROMPT menyusun sasaran latihan berdasarkan hierarki motorik bicara, yaitu urutan kendali gerak dari yang lebih dasar (misalnya kestabilan rahang) ke yang lebih rumit. Dalam studi Ward, Leitão, dan Strauss (2014), sasaran pertama tiap anak diambil dari prioritas terendah yang belum dikuasai pada hierarki ini, lalu dinaikkan satu tingkat di fase berikutnya.

Untuk kondisi apa PROMPT dipakai

Penelitian tentang PROMPT paling banyak dilakukan pada anak dengan childhood apraxia of speech (apraksia bicara pada anak), anak dengan cerebral palsy, anak dengan keterlambatan motorik bicara berat, dan sebagian anak autis yang belum berbicara. Ringkasan buktinya ada di bagian berikut.

Apa Kata Penelitian tentang PROMPT

Cara membaca bukti ini: sebagian besar studi berukuran kecil (4 sampai 10 anak) dengan desain subjek tunggal. Uji acak terkontrol baru ada untuk kelompok keterlambatan motorik bicara. Artinya, PROMPT punya dasar penelitian yang menjanjikan, tetapi bukan satu-satunya pilihan dan tidak cocok untuk semua penyebab keterlambatan bicara. Anak yang kesulitan bicaranya bersumber dari pendengaran atau pemahaman bahasa, misalnya, membutuhkan pendekatan lain.

Prompting: Jenis Bantuan dari Ringan sampai Penuh

Arti kedua "prompt" jauh lebih luas. Hampir semua terapis wicara, guru pendamping, dan terapis ABA memakai prompting. Hume dan rekan (2021) memasukkan prompting ke dalam 28 praktik yang memenuhi kriteria praktik berbasis bukti untuk anak dan remaja autis. Bentuk bantuan yang umum dipakai, diurutkan dari yang paling ringan:

  1. Prompt visual. Gambar, kartu kata, atau simbol yang mengingatkan anak apa yang harus diucapkan. Anak yang memakai alat bantu komunikasi AAC sering dibantu dengan prompt jenis ini.
  2. Prompt gestur. Isyarat tubuh seperti menunjuk benda, mengangguk, atau membentuk mulut tanpa bersuara.
  3. Prompt verbal. Petunjuk lisan, misalnya "Bilang apa kalau mau minum?" atau memberi bunyi awal kata ("mi...").
  4. Prompt model. Terapis mengucapkan kata utuh untuk ditiru, misalnya "minum".
  5. Prompt fisik sebagian. Sentuhan ringan untuk mengarahkan gerakan, misalnya menyentuh dagu sebagai pengingat membuka mulut.
  6. Prompt fisik penuh. Bantuan fisik yang menuntun seluruh gerakan. Dalam terapi wicara, bantuan fisik pada area mulut dilakukan oleh terapis terlatih.

ASHA juga menjelaskan pendekatan Dynamic Temporal and Tactile Cueing (DTTC) untuk apraksia bicara. Di sini terapis terus menambah atau mengurangi isyarat pendengaran, penglihatan, dan sentuhan setelah setiap percobaan, sesuai kebutuhan anak (ASHA). Prinsipnya sama: bantuan secukupnya, lalu dikurangi.

Most-to-Least atau Least-to-Most

Ada dua cara umum menyusun urutan bantuan:

Studi Libby dan rekan (2008) pada anak autis membandingkan keduanya. Semua peserta berhasil belajar dengan MTL, dan MTL menghasilkan lebih sedikit kesalahan, tetapi tiga peserta justru belajar lebih cepat dengan LTM. Versi MTL yang diberi jeda waktu sebelum bantuan (memberi kesempatan anak mencoba sendiri) menghasilkan kecepatan belajar hampir setara LTM dengan kesalahan lebih sedikit. Pesannya, tidak ada satu urutan yang paling benar untuk semua anak. Terapis memilih berdasarkan respons anak.

Prompt Fading dan Risiko Ketergantungan

Bantuan yang terus diberikan tanpa dikurangi bisa membuat anak hanya berbicara saat dibantu. Karena itu, setiap rencana prompting perlu disertai prompt fading, yaitu pengurangan bantuan secara bertahap. Caranya bisa dengan menurunkan jenis bantuan (dari model ke verbal, lalu ke gestur), mengurangi kekuatan sentuhan, atau memberi jeda waktu lebih lama sebelum bantuan datang.

Tinjauan sistematis Cengher dan rekan (2018) atas 45 artikel penelitian menemukan bahwa berbagai prosedur pengurangan prompt umumnya efektif membantu anak menguasai keterampilan, walau efisiensinya berbeda antar anak. Tanda anak mulai siap bantuannya dikurangi, antara lain, ia mulai merespons sebelum bantuan datang.

Tabel Perbandingan

AspekMetode PROMPTPrompting (bantuan bertahap)
Apa ituPendekatan terapi khusus berbasis sentuhan pada wajah, rahang, dan area mulutStrategi umum memberi bantuan lalu menguranginya
Sasaran utamaGerakan bicara (motorik bicara)Keterampilan apa saja: bicara, komunikasi, bina diri, akademik
Siapa yang melakukanTerapis wicara terlatihTerapis, guru, dan orang tua yang sudah diajari terapis
Contoh kondisiApraksia bicara, cerebral palsy, keterlambatan motorik bicaraAutisme, speech delay, disabilitas intelektual, dan lainnya
BuktiStudi kecil dan satu uji acak terkontrol (Dale 2013, Ward 2013 dan 2014, Rogers 2006, Namasivayam 2021)Termasuk praktik berbasis bukti untuk autisme (Hume 2021)

Peran Orang Tua dan Guru

Terapi di ruang terapi biasanya hanya berlangsung beberapa jam per minggu. Latihan di rumah dan di sekolah membantu keterampilan anak berpindah ke kehidupan sehari-hari. Beberapa hal yang bisa dilakukan:

  1. Tanyakan tingkat bantuan saat ini. Minta terapis menyebut jenis prompt yang sedang dipakai dan tahap pengurangannya, supaya bantuan di rumah tidak lebih besar atau lebih kecil dari di ruang terapi.
  2. Beri kesempatan anak mencoba dulu. Tunggu beberapa detik sebelum membantu. Jeda kecil ini memberi ruang anak untuk merespons sendiri.
  3. Pakai bantuan yang aman di rumah. Contoh ucapan, gambar, dan isyarat tangan bisa dilakukan siapa saja. Sentuhan pada area mulut sebaiknya hanya dilakukan bila terapis sudah mencontohkan dan mengizinkannya.
  4. Catat kemajuan sederhana. Misalnya, berapa kali anak meminta minum tanpa bantuan dalam sehari. Catatan ini membantu terapis menentukan kapan bantuan dikurangi.
  5. Libatkan guru. Guru pendamping di sekolah inklusi bisa memakai urutan bantuan yang sama agar anak tidak bingung.

Bila Ayah dan Bunda belum yakin apakah anak membutuhkan terapi, artikel terapi wicara dan perbedaan terapi okupasi dan terapi wicara bisa membantu memahami langkah awalnya. Untuk latihan otot mulut, lihat juga oral motor exercises dalam terapi wicara.

Pendampingan di YUKA

YUKA mendampingi anak berkebutuhan khusus dan keluarganya lewat pendidikan inklusi di Sleman. Pemilihan metode terapi wicara, termasuk PROMPT, tetap perlu asesmen oleh terapis wicara. Ayah dan Bunda bisa berdiskusi dengan tim YUKA tentang pendampingan belajar anak melalui halaman kontak.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa kepanjangan PROMPT dalam terapi wicara?

PROMPT adalah singkatan dari Prompts for Restructuring Oral Muscular Phonetic Targets. Ini pendekatan terapi wicara berbasis sentuhan: terapis memberi isyarat sentuhan, tekanan, dan gerak pada wajah, rahang, dan area mulut anak untuk membantu membentuk gerakan bicara, sebagaimana dijelaskan ASHA dan Dale serta Hayden (2013).

Apa bedanya metode PROMPT dengan prompt biasa dalam terapi?

PROMPT adalah satu metode khusus untuk gangguan motorik bicara yang memakai sentuhan pada otot bicara. Prompt dalam arti umum adalah bantuan apa pun (verbal, isyarat, contoh, atau fisik) yang diberikan terapis agar anak bisa merespons dengan benar, lalu dikurangi bertahap. Prompt umum dipakai di banyak jenis terapi, termasuk terapi wicara dan ABA.

Apakah metode PROMPT cocok untuk anak autis?

Ada penelitian awal. Rogers dan rekan (2006) membandingkan PROMPT dengan Denver Model pada 10 anak autis nonverbal, dan 8 dari 10 anak memakai lima kata fungsional baru atau lebih di akhir program, tanpa perbedaan antara kedua kelompok. Sampelnya kecil, jadi keputusan metode tetap ditentukan terapis wicara setelah asesmen.

Apakah orang tua boleh melakukan teknik sentuhan PROMPT di rumah?

Teknik sentuhan PROMPT dirancang untuk dilakukan terapis wicara yang terlatih, karena posisi dan tekanan sentuhan disesuaikan dengan hasil asesmen tiap anak. Yang bisa dilakukan orang tua adalah meminta terapis menunjukkan bantuan sederhana yang aman untuk latihan di rumah, misalnya contoh ucapan atau isyarat visual.

Mengapa bantuan (prompt) harus dikurangi bertahap?

Tujuan prompt adalah membantu anak berhasil, lalu memindahkan kendali dari bantuan ke situasi aslinya. Kalau bantuan tidak pernah dikurangi, anak bisa hanya merespons saat dibantu. Tinjauan Cengher dan rekan (2018) atas 45 artikel menemukan berbagai cara pengurangan prompt umumnya efektif membantu anak menguasai keterampilan.

Artikel Terkait