Jawaban singkat: deteksi dini tumbuh kembang anak di Indonesia mengikuti program Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) dari Kementerian Kesehatan. Langkahnya: pantau pertumbuhan fisik anak di Buku KIA, isi ceklis perkembangan sesuai usia, datang rutin ke Posyandu atau Puskesmas, ikuti skrining perkembangan bersama tenaga kesehatan (termasuk KPSP), kenali tanda bahaya, lalu tindak lanjuti hasilnya dengan stimulasi atau rujukan. Kuesioner dan ceklis membantu orang tua menemukan hal yang perlu dicek, tetapi tidak menetapkan diagnosis. Keputusan itu ada di tangan tenaga kesehatan.

Apa itu deteksi dini tumbuh kembang anak (SDIDTK)

Tumbuh kembang terdiri dari dua hal yang berbeda. Pertumbuhan berkaitan dengan ukuran tubuh, seperti berat badan, panjang atau tinggi badan, dan lingkar kepala. Perkembangan berkaitan dengan kemampuan. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan perkembangan sebagai bertambahnya kemampuan anak dalam gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa, serta sosialisasi dan kemandirian.

Deteksi dini adalah upaya menemukan penyimpangan sejak awal. Menurut IDAI, pemantauan tumbuh kembang bertujuan menemukan secara dini tiga jenis penyimpangan: penyimpangan pertumbuhan (misalnya gizi kurang atau anak pendek), penyimpangan perkembangan (misalnya terlambat bicara), dan penyimpangan mental emosional (misalnya gangguan konsentrasi dan hiperaktif). Artikel IDAI tersebut merujuk pada Pedoman Pelaksanaan SDIDTK di Tingkat Pelayanan Kesehatan Dasar dari Kemenkes RI tahun 2014.

Di tingkat aturan, pemantauan ini diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 66 Tahun 2014 tentang Pemantauan Pertumbuhan, Perkembangan, dan Gangguan Tumbuh Kembang Anak. Saat kami periksa di JDIH BPK pada 11 Oktober 2026, peraturan ini masih berstatus berlaku. Bagi orang tua, yang penting dipahami adalah alurnya: stimulasi di rumah, deteksi berkala bersama kader dan tenaga kesehatan, lalu intervensi atau rujukan bila ditemukan masalah.

IDAI juga mengingatkan bahwa semakin terlambat gangguan dideteksi, semakin sulit penanganannya. Itulah alasan deteksi dini tidak perlu menunggu anak "kelihatan bermasalah". Pemantauan dilakukan pada semua anak, termasuk anak yang tampak sehat.

Meja lipat kecil di lantai dengan kertas, buku, dan alat tulis, tangan seseorang sedang menulis di samping tumpukan buku
Meja belajar lipat dengan buku dan alat tulis saat kegiatan belajar di rumah bersama pendamping YUKA. Catatan sederhana seperti ini membantu orang tua menyiapkan bahan saat bertemu kader atau tenaga kesehatan. Foto suasana kegiatan, bukan gambaran kondisi anak tertentu.Foto: Dokumentasi YUKA (Yayasan Ukhuwah Kaffah Amanatullah).

Langkah 1: Pantau pertumbuhan fisik di Buku KIA

Langkah pertama adalah memantau ukuran tubuh anak. IDAI menjelaskan bahwa skrining pertumbuhan dilakukan dengan menimbang berat badan, mengukur panjang atau tinggi badan, dan mengukur lingkar kepala. Hasilnya lalu diplotkan ke kurva pertumbuhan sesuai umur dan jenis kelamin di buku kesehatan anak.

Kurva itu dibuat berdasarkan standar antropometri yang dipakai Kemenkes. Dokumentasi SATUSEHAT Kemenkes untuk modul tumbuh kembang menyebut rujukannya, yaitu Permenkes Nomor 2 Tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak (berstatus berlaku di JDIH BPK saat kami periksa). Orang tua tidak perlu menghitung sendiri. Cukup pastikan setiap penimbangan dan pengukuran tercatat, lalu tanyakan kepada kader atau bidan apakah garis pertumbuhan anak naik sesuai kurvanya.

Langkah 2: Isi ceklis perkembangan sesuai usia

Buku KIA tidak hanya berisi grafik berat badan. Kemenkes melalui laman Ayo Sehat menjelaskan bahwa Buku KIA juga memuat ceklis perkembangan anak sesuai usia, yang bisa dipakai orang tua untuk memantau perkembangan sekaligus melakukan stimulasi sesuai usia.

Laman yang sama memberi petunjuk yang jelas: bila orang tua ragu saat mengisi ceklis, minta bantuan kader kesehatan di hari buka Posyandu. Bila ada isian yang terjawab "Tidak", segera beri tahu kader. Kader akan membantu agar anak segera mendapat bantuan dari tenaga kesehatan di Puskesmas.

Satu jawaban "Tidak" bukan vonis

Ceklis di Buku KIA adalah alat pantau, bukan alat diagnosis. Anak berkembang dengan kecepatan berbeda. IDAI mencontohkan bahwa anak masih dianggap normal bila mulai berjalan pada rentang usia 10 sampai 18 bulan. Jawaban "Tidak" berarti hal itu perlu dicek bersama tenaga kesehatan, bukan berarti anak pasti mengalami gangguan.

Untuk gambaran tahapan kemampuan per usia, baca juga apa itu milestone perkembangan anak dan milestone motorik kasar anak 0 sampai 12 bulan.

Langkah 3: Datang rutin ke Posyandu atau Puskesmas

Pemantauan yang baik dilakukan berkala, bukan sekali. IDAI, merujuk pedoman SDIDTK Kemenkes, menyebut semua anak usia 0 sampai 6 tahun dapat dipantau di tingkat Puskesmas, dengan jadwal anjuran berikut.

Usia anakAnjuran pemantauan tumbuh kembang
Bayi (di bawah 12 bulan)Tiap bulan
12 sampai 24 bulanTiap 3 bulan
24 sampai 72 bulanTiap 6 bulan

Sumber: IDAI, Pentingnya Pemantauan Tumbuh Kembang 1000 Hari Pertama Kehidupan Anak. Selain jadwal skrining itu, Kemenkes mengajak orang tua datang rutin setiap bulan ke Posyandu. Jadwal tetap di Posyandu setempat bisa berbeda, jadi tanyakan langsung kepada kader.

IDAI menambahkan bahwa anak yang dinyatakan normal tetap perlu skrining berikutnya, karena tumbuh kembang terus berlangsung dan gangguan bisa muncul di kemudian hari. Satu hasil baik tidak berarti pemantauan boleh berhenti.

Langkah 4: Skrining perkembangan dengan KPSP bersama tenaga kesehatan

Salah satu alat utama dalam SDIDTK adalah Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP). Menurut IDAI, KPSP adalah instrumen pemeriksaan perkembangan yang disusun Kementerian Kesehatan RI, berisi 9 sampai 10 pertanyaan tentang kemampuan yang sudah dicapai anak sesuai kelompok usianya. IDAI juga menyebut skrining perkembangan dapat dilakukan lewat pengamatan langsung oleh petugas kesehatan, kuesioner yang dijawab orang tua, atau Buku KIA.

Hasil KPSP dikelompokkan menjadi tiga kategori. Dokumentasi SATUSEHAT Kemenkes mencatatnya sebagai berikut.

Kategori hasil KPSPArtinya bagi orang tua
Perkembangan sesuai usiaLanjutkan stimulasi sesuai usia dan datang lagi pada jadwal pemantauan berikutnya.
Perkembangan meragukanAda kemampuan yang belum tercapai. Ikuti arahan tenaga kesehatan soal stimulasi dan kapan anak perlu diperiksa ulang.
Perkembangan curiga adanya penyimpanganAnak perlu pemeriksaan lebih lanjut. Ikuti arahan rujukan dari tenaga kesehatan.

Kolom "artinya bagi orang tua" di atas adalah ringkasan kami untuk memudahkan pembaca. Tindak lanjut yang tepat untuk tiap anak ditentukan oleh tenaga kesehatan yang memeriksanya. IDAI menyatakan bahwa bila perkembangan meragukan atau ada penyimpangan, orang tua perlu segera berkonsultasi ke dokter.

Penting: KPSP adalah pra skrining, bukan alat diagnosis. Kami sengaja tidak menyalin daftar pertanyaan dan cara skornya di sini, karena kuesioner yang dikerjakan sendiri tanpa pendampingan mudah disalahartikan. IDAI memang menyediakan KPSP lewat aplikasi PRIMA untuk Orangtua agar orang tua bisa memantau secara mandiri, tetapi hasil apa pun sebaiknya dibicarakan dengan kader, bidan, atau dokter. Hasil "sesuai" tidak menghapus kekhawatiran yang Anda rasakan, dan hasil "meragukan" tidak berarti anak pasti mengalami gangguan.
Dua tangan anak membentuk adonan bulat di atas alas silikon biru di meja kayu
Tangan peserta membentuk adonan di atas alas silikon saat kelas memasak YUKA. Kegiatan seperti ini melatih gerak halus, salah satu ranah yang dinilai dalam pemantauan perkembangan. Foto suasana kegiatan, bukan gambaran kondisi anak tertentu.Foto: Dokumentasi YUKA (Yayasan Ukhuwah Kaffah Amanatullah).

Langkah 5: Pemeriksaan pendengaran, penglihatan, dan perilaku

Deteksi dini tidak berhenti pada KPSP. Dokumentasi SATUSEHAT Kemenkes untuk pencatatan SDIDTK memuat beberapa jenis pemeriksaan selain KPSP:

Pemeriksaan ini dilakukan tenaga kesehatan sesuai usia dan indikasi anak, jadi tidak semua anak menjalani semuanya pada setiap kunjungan. Orang tua cukup menyampaikan hal yang diamati di rumah, misalnya anak tidak menoleh saat dipanggil, sering memicingkan mata, atau sangat sulit diajak berinteraksi. Hasil skrining risiko autisme atau GPPH yang positif pun belum merupakan diagnosis, melainkan alasan untuk pemeriksaan lanjutan. Untuk memahami bedanya, baca apakah GDD sama dengan autis dan autisme adalah.

Tangan orang dewasa dan tangan anak bersama-sama memeras jeruk lemon di atas teko plastik di lantai
Tangan pendamping dan anak memeras lemon bersama dalam kegiatan YUKA. Kegiatan sehari-hari seperti ini memberi kesempatan orang tua mengamati kemampuan gerak halus dan cara anak mengikuti instruksi. Foto suasana kegiatan, bukan gambaran kondisi anak tertentu.Foto: Dokumentasi YUKA (Yayasan Ukhuwah Kaffah Amanatullah).

Langkah 6: Kenali tanda bahaya perkembangan

Di sela jadwal pemeriksaan, orang tua adalah pengamat terbaik. IDAI menuliskan sejumlah tanda bahaya (red flag) perkembangan yang perlu dikenali. Beberapa di antaranya:

RanahContoh tanda bahaya menurut IDAI
Gerak kasarGerakan tidak seimbang antara tubuh kiri dan kanan; refleks bayi yang masih menetap setelah usia 6 bulan; otot terlalu kaku atau terlalu lemas; gerakan yang tidak terkontrol
Gerak halusBayi masih menggenggam setelah usia 4 bulan; dominan memakai satu tangan sebelum usia 1 tahun; masih sangat sering memasukkan mainan ke mulut setelah usia 14 bulan; perhatian penglihatan yang tidak konsisten
Bicara dan bahasa (ekspresif)Belum menunjuk untuk memperlihatkan ketertarikan pada benda di usia 20 bulan; belum bisa membuat frasa bermakna setelah 24 bulan; ucapan anak masih belum dimengerti orang tua di usia 30 bulan
Bicara dan bahasa (reseptif)Respons terhadap suara tidak konsisten, misalnya tidak selalu menoleh saat dipanggil; belum mampu berbagi perhatian dengan orang lain di usia 20 bulan; sering membeo setelah usia 30 bulan

Tabel ini membantu Anda tahu kapan perlu bertanya, bukan untuk menyimpulkan sendiri. IDAI juga menjelaskan bahwa keterlambatan bisa terjadi di satu ranah saja atau di dua ranah atau lebih. Keterlambatan bermakna di dua ranah atau lebih disebut keterlambatan perkembangan umum (global developmental delay), dan penilaiannya dilakukan dokter.

Pendekatan serupa dipakai di luar negeri. Program Learn the Signs. Act Early. dari CDC memakai ceklis tonggak perkembangan yang dicapai sebagian besar anak (75 persen atau lebih) pada usia tertentu. CDC menegaskan tujuannya adalah menghindari sikap "tunggu saja", sehingga setiap tonggak yang terlewat atau setiap kekhawatiran sebaiknya dibicarakan atau ditindaklanjuti. Artikel tanda keterlambatan motorik kasar, tanda keterlambatan motorik halus, dan speech delay adalah membahas tiap ranah lebih rinci.

Langkah 7: Tindak lanjut, stimulasi, dan rujukan

Deteksi dini baru bermanfaat bila ditindaklanjuti. Ada tiga kemungkinan tindak lanjut yang umum.

Pertama, stimulasi di rumah. Kemenkes menyebut bermain dengan anak, mengobrol, dan membacakan cerita atau mendongeng sebagai upaya stimulasi perkembangan yang perlu dilakukan orang tua secara langsung, rutin, dan terus-menerus sesuai tahapan anak. Laman itu juga mengingatkan bahwa makanan bergizi dan imunisasi saja belum cukup menjamin tumbuh kembang optimal tanpa stimulasi. IDAI merangkum kebutuhan dasar anak menjadi asuh (kebutuhan fisik), asih (kasih sayang), dan asah (stimulasi mental).

Kedua, pemeriksaan ulang. Bila hasil skrining meragukan, tenaga kesehatan biasanya memberi arahan stimulasi dan menjadwalkan pemeriksaan ulang. Catat tanggalnya dan datang sesuai jadwal.

Ketiga, rujukan. Bila ada kecurigaan penyimpangan, anak dirujuk untuk pemeriksaan lebih lanjut, misalnya ke dokter anak di rumah sakit. IDAI juga menyebut bayi berisiko tinggi perlu dipantau dokter anak di rumah sakit, misalnya bayi dengan riwayat lahir kurang bulan, berat lahir rendah, infeksi pada masa bayi baru lahir, kadar gula darah rendah, sindroma sesak napas, atau kejang.

Bila anak memerlukan terapi atau layanan khusus, penanganan sejak usia dini dikenal sebagai intervensi dini. Penjelasannya ada di artikel intervensi dini untuk anak berkebutuhan khusus. Untuk ide kegiatan di rumah, lihat stimulasi motorik halus.

Tangan beberapa orang memotong dan memilah sayuran hijau di atas piring dan baskom di lantai
Siswa dan pendamping memotong serta memilah sayuran bersama dalam kegiatan memasak di Sekolah Inklusi Taruna Imani. Kegiatan sehari-hari seperti ini bisa menjadi bentuk stimulasi. Foto suasana kegiatan, bukan gambaran kondisi anak tertentu.Foto: Dokumentasi YUKA (Yayasan Ukhuwah Kaffah Amanatullah).

Kesalahan yang sering terjadi saat memantau tumbuh kembang

Bila Anda ingin mengenal ciri anak yang mungkin memerlukan layanan khusus secara umum, baca ciri-ciri anak berkebutuhan khusus. Untuk kekhawatiran pada kemampuan belajar dan berpikir, ada artikel identifikasi dini disabilitas intelektual.

Peran guru dan sekolah dalam deteksi dini

Guru PAUD dan TK sering menjadi orang dewasa kedua yang paling lama mengamati anak. Guru tidak menetapkan diagnosis, tetapi pengamatannya berharga: bagaimana anak bermain dengan teman, mengikuti instruksi, memegang alat tulis, atau berbicara di kelas. Ajak guru berbagi catatan, lalu bawa catatan itu saat ke Posyandu, Puskesmas, atau dokter.

Bila anak sudah mendapat diagnosis dan memerlukan layanan pendidikan yang menyesuaikan kebutuhannya, sekolah inklusi bisa menjadi salah satu pilihan. Informasi tentang layanan pendidikan YUKA ada di halaman Sekolah Inklusi Taruna Imani di Sleman. Untuk bertanya soal pendampingan pendidikan anak berkebutuhan khusus di Sleman dan Yogyakarta, lihat halaman konsultasi ABK di Sleman. Untuk pemeriksaan tumbuh kembang dan diagnosis, tetap rujuklah ke tenaga kesehatan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa saja langkah deteksi dini tumbuh kembang anak yang bisa dilakukan orang tua?

Orang tua bisa memantau berat badan, panjang atau tinggi badan, dan lingkar kepala anak di Buku KIA, mengisi ceklis perkembangan sesuai usia di Buku KIA, datang rutin ke Posyandu atau Puskesmas, dan mengenali tanda bahaya perkembangan. Penilaian lanjutan seperti KPSP, tes daya dengar, dan tes daya lihat dilakukan bersama tenaga kesehatan.

Apakah KPSP bisa dipakai orang tua untuk mendiagnosis anak di rumah?

Tidak. KPSP adalah kuesioner pra skrining yang disusun Kementerian Kesehatan, berisi 9 sampai 10 pertanyaan sesuai kelompok usia. Hasilnya hanya mengelompokkan perkembangan menjadi sesuai usia, meragukan, atau curiga ada penyimpangan. IDAI menganjurkan orang tua segera berkonsultasi ke dokter bila hasilnya meragukan atau ada penyimpangan. Diagnosis hanya ditetapkan tenaga kesehatan setelah pemeriksaan.

Seberapa sering tumbuh kembang anak perlu diperiksa?

IDAI, merujuk pedoman SDIDTK Kemenkes, menganjurkan pemantauan tiap bulan untuk bayi, tiap 3 bulan untuk anak usia 12 sampai 24 bulan, dan tiap 6 bulan untuk anak usia 24 sampai 72 bulan. Kemenkes juga mengajak orang tua datang rutin setiap bulan ke Posyandu. Bila ada kekhawatiran, jangan menunggu jadwal berikutnya.

Apa yang harus dilakukan bila ada jawaban Tidak di ceklis Buku KIA?

Kemenkes melalui laman Ayo Sehat menganjurkan orang tua segera memberi tahu kader Posyandu bila ada isian ceklis perkembangan yang terjawab Tidak. Kader akan membantu agar anak segera mendapat bantuan tenaga kesehatan di Puskesmas. Satu jawaban Tidak belum berarti anak mengalami gangguan, tetapi perlu dicek.

Anak siapa saja yang perlu dipantau lebih ketat?

IDAI menyebut bayi berisiko tinggi, misalnya bayi dengan riwayat lahir kurang bulan, berat lahir rendah, infeksi pada masa bayi baru lahir, kadar gula darah rendah, sindroma sesak napas, atau kejang, perlu dipantau dokter anak di rumah sakit. Bayi seperti ini bisa saja berkembang normal, tetapi peluang gangguannya lebih besar.

Pemeriksaan apa saja selain KPSP dalam deteksi dini tumbuh kembang?

Dokumentasi SATUSEHAT Kemenkes untuk pencatatan SDIDTK memuat Tes Daya Dengar (TDD), Tes Daya Lihat (TDL), Kuesioner Masalah Perilaku dan Emosional (KMPE), M-CHAT-Revised untuk skrining risiko autisme, dan skrining GPPH. Pemeriksaan ini dilakukan tenaga kesehatan sesuai usia dan indikasi, jadi tidak semua anak menjalani semuanya di setiap kunjungan. Hasil skrining yang positif pun belum merupakan diagnosis.

Apa contoh tanda bahaya perkembangan bicara menurut IDAI?

IDAI mencontohkan antara lain anak belum menunjuk untuk memperlihatkan ketertarikan pada benda di usia 20 bulan, belum bisa membuat frasa bermakna setelah 24 bulan, ucapannya belum dimengerti orang tua di usia 30 bulan, atau tidak selalu menoleh saat dipanggil. Tanda seperti ini adalah alasan untuk bertanya kepada tenaga kesehatan, bukan untuk menyimpulkan sendiri.

Bacaan Terkait