BISINDO adalah Bahasa Isyarat Indonesia, yaitu bahasa isyarat alami yang berkembang secara organis di kalangan komunitas Tuli Indonesia. Berbeda dari bahasa isyarat buatan, BISINDO tumbuh dari interaksi sehari-hari antar penyandang tuna rungu dan memiliki tata bahasa, kosakata, serta struktur linguistik yang khas dan mandiri. Bagi jutaan orang Tuli di Indonesia, BISINDO bukan sekadar alat komunikasi, melainkan identitas budaya dan jembatan utama untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat sekitar 7,03 juta penyandang disabilitas di Indonesia, dan sebagian besar dari mereka adalah penyandang tuna rungu yang mengandalkan bahasa isyarat sebagai sarana komunikasi utama. Sayangnya, hingga saat ini masih banyak masyarakat umum yang belum mengenal BISINDO, atau bahkan mengira bahwa bahasa isyarat di seluruh dunia itu sama.

Di Yayasan Ukhuwah Kaffah Amanatullah (YUKA), kami mendampingi anak berkebutuhan khusus termasuk anak tuna rungu melalui Sekolah Inklusi Taruna Imani di Sleman, Yogyakarta. Artikel ini kami susun untuk membantu masyarakat memahami BISINDO secara menyeluruh, mulai dari pengertian, sejarah, perbedaan dengan SIBI, hingga cara belajar.

Pengertian BISINDO (Bahasa Isyarat Indonesia)

BISINDO adalah singkatan dari Bahasa Isyarat Indonesia, yaitu bahasa isyarat alami (natural sign language) yang digunakan oleh komunitas Tuli di Indonesia untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari. BISINDO berkembang secara natural dari interaksi antar individu Tuli, sama seperti bahasa lisan yang berkembang secara alami di komunitas pendengar.

Sebagai bahasa alami, BISINDO memiliki karakteristik linguistik yang lengkap dan mandiri. BISINDO bukan sekadar terjemahan visual dari bahasa Indonesia lisan, melainkan sebuah bahasa tersendiri dengan tata bahasa (grammar), sintaksis, morfologi, dan fonologi (dalam konteks bahasa isyarat disebut cherologi) yang unik. Dengan kata lain, BISINDO memiliki aturan kebahasaan sendiri yang tidak bergantung pada bahasa Indonesia tulis maupun lisan.

Beberapa karakteristik utama BISINDO adalah sebagai berikut:

Tahukah Anda?

Istilah "tuli" (dengan huruf kecil) mengacu pada kondisi medis kehilangan pendengaran, sedangkan "Tuli" (dengan huruf kapital) mengacu pada identitas budaya dan linguistik seseorang yang menggunakan bahasa isyarat sebagai bahasa utama. Komunitas Tuli Indonesia memilih menggunakan istilah "Tuli" daripada "tuna rungu" karena dianggap lebih menghargai dan tidak menunjukkan kekurangan.

Sejarah dan Perkembangan BISINDO di Indonesia

Untuk memahami BISINDO secara menyeluruh, penting untuk mengetahui bagaimana bahasa isyarat ini berkembang di Indonesia. Sejarah Bahasa Isyarat Indonesia berkaitan erat dengan sejarah pendidikan bagi orang Tuli di Tanah Air.

Era Kolonial dan Awal Kemerdekaan

Pendidikan formal untuk orang Tuli di Indonesia dimulai pada era kolonial Belanda dengan didirikannya sekolah-sekolah untuk anak tuna rungu. Pada masa ini, metode pengajaran yang digunakan cenderung mengikuti pendekatan oral (lisan) yang populer di Eropa, yaitu mengajarkan anak Tuli untuk membaca gerak bibir dan berbicara secara verbal. Meskipun demikian, di luar kelas, anak-anak Tuli tetap berkomunikasi menggunakan isyarat alami yang mereka kembangkan sendiri.

Era SIBI (1994)

Pada tahun 1994, pemerintah Indonesia melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan secara resmi memperkenalkan SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia) sebagai bahasa isyarat standar yang digunakan di Sekolah Luar Biasa (SLB). SIBI dirancang dengan mengadaptasi bahasa isyarat Amerika (ASL) dan disesuaikan dengan tata bahasa Indonesia. Namun, SIBI mendapat banyak kritik dari komunitas Tuli karena dianggap kaku, tidak alami, dan sulit digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Kebangkitan BISINDO (2000-an)

Memasuki tahun 2000-an, gerakan untuk mengakui BISINDO sebagai bahasa isyarat yang sah mulai menguat. Gerkatin (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia) menjadi organisasi yang paling vokal memperjuangkan pengakuan BISINDO. Mereka berargumen bahwa BISINDO adalah bahasa alami komunitas Tuli Indonesia yang sudah ada jauh sebelum SIBI diciptakan, dan bahwa menggunakan bahasa alami lebih efektif untuk perkembangan kognitif dan pendidikan anak Tuli.

Pengakuan dalam UU Penyandang Disabilitas (2016)

Tonggak penting bagi BISINDO terjadi pada tahun 2016 dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. UU ini mengakui hak penyandang disabilitas untuk menggunakan bahasa isyarat, termasuk BISINDO, dalam berkomunikasi. Meskipun belum secara eksplisit menetapkan BISINDO sebagai bahasa isyarat resmi nasional, UU ini menjadi langkah maju yang signifikan.

Anak-anak berkebutuhan khusus belajar bersama guru di lingkungan sekolah inklusi, menciptakan suasana komunikasi yang inklusif
Kegiatan belajar bersama guru di lingkungan Sekolah Inklusi Taruna Imani YUKA. Komunikasi yang efektif, termasuk melalui bahasa isyarat, menjadi kunci keberhasilan pendidikan inklusi.

Perbedaan BISINDO dan SIBI

Salah satu pertanyaan yang paling sering diajukan tentang bahasa isyarat di Indonesia adalah: apa perbedaan BISINDO dan SIBI? Meskipun keduanya merupakan sistem komunikasi visual yang digunakan oleh komunitas Tuli, keduanya memiliki perbedaan fundamental yang sangat signifikan.

Aspek BISINDO SIBI
Asal Berkembang alami di komunitas Tuli Indonesia Diciptakan oleh pemerintah (1994), diadaptasi dari ASL
Tata bahasa Memiliki tata bahasa sendiri, berbeda dari bahasa Indonesia Mengikuti tata bahasa Indonesia lisan (Subjek-Predikat-Objek)
Penggunaan Digunakan sehari-hari oleh komunitas Tuli Digunakan di lingkungan pendidikan formal (SLB)
Kecepatan Lebih cepat dan efisien karena menggunakan banyak isyarat simultan Lebih lambat karena mengisyaratkan kata per kata sesuai urutan bahasa Indonesia
Ekspresi wajah Sangat penting, merupakan bagian integral dari tata bahasa Kurang ditekankan
Variasi Memiliki variasi dialek antar daerah Seragam di seluruh Indonesia
Preferensi komunitas Tuli Sangat disukai dan digunakan secara luas Kurang populer di kalangan komunitas Tuli
Status linguistik Diakui sebagai bahasa alami oleh linguist Dianggap sebagai kode manual (manual code), bukan bahasa alami

Mengapa Perbedaan Ini Penting?

Perbedaan BISINDO dan SIBI bukan sekadar masalah teknis linguistik, melainkan memiliki implikasi besar terhadap pendidikan dan kehidupan sehari-hari orang Tuli. Ketika seorang anak tuna rungu di SLB hanya diajarkan SIBI, mereka sering kali kesulitan berkomunikasi dengan komunitas Tuli yang sehari-hari menggunakan BISINDO. Sebaliknya, anak yang menguasai BISINDO sejak dini cenderung memiliki perkembangan bahasa dan kognitif yang lebih baik karena mereka menggunakan bahasa yang alami dan ekspresif.

Para ahli linguistik dan pendidik khusus kini semakin menganjurkan pendekatan bilingual-bimodal, yaitu mengajarkan anak Tuli menggunakan BISINDO sebagai bahasa pertama (B1) dan bahasa Indonesia tulis sebagai bahasa kedua (B2). Pendekatan ini dinilai lebih efektif dibandingkan memaksa anak Tuli berkomunikasi hanya dengan SIBI atau metode oral.

"BISINDO bagi orang Tuli ibarat bahasa ibu bagi orang dengar. Ini adalah bahasa yang paling natural, paling ekspresif, dan paling mudah dipahami. Memaksakan SIBI kepada anak Tuli sama saja dengan memaksakan bahasa asing sebagai bahasa pertama." - Aktivis Komunitas Tuli Indonesia

Struktur dan Komponen BISINDO

Sebagai bahasa alami yang lengkap, BISINDO memiliki komponen-komponen linguistik yang kompleks. Memahami struktur ini penting bagi siapa pun yang ingin belajar BISINDO dengan serius.

Parameter Isyarat dalam BISINDO

Setiap isyarat dalam Bahasa Isyarat Indonesia terdiri dari beberapa parameter yang bekerja secara simultan:

  1. Bentuk tangan (handshape): Bentuk jari dan telapak tangan saat membuat isyarat. BISINDO memiliki puluhan bentuk tangan yang berbeda, masing-masing mempengaruhi makna isyarat.
  2. Orientasi telapak tangan (palm orientation): Arah telapak tangan (ke atas, ke bawah, ke samping, ke depan, ke belakang) yang ikut menentukan makna.
  3. Lokasi (location): Posisi tangan terhadap tubuh saat melakukan isyarat, misalnya di depan dada, di samping kepala, atau di depan wajah.
  4. Gerakan (movement): Arah dan jenis gerakan tangan, apakah lurus, melingkar, naik-turun, atau berulang.
  5. Ekspresi wajah dan gerakan non-manual (non-manual signals): Ekspresi wajah, gerakan bibir, posisi alis, anggukan kepala, dan gerakan tubuh yang menjadi bagian integral dari tata bahasa BISINDO.

Tata Bahasa BISINDO

Berbeda dengan bahasa Indonesia lisan yang mengikuti urutan Subjek-Predikat-Objek (SPO), BISINDO memiliki urutan kata yang lebih fleksibel dan sering menggunakan struktur topik-komentar. Misalnya:

Selain itu, BISINDO menggunakan ruang di depan tubuh penanda isyarat (signing space) untuk menunjukkan hubungan antar konsep, urutan waktu, dan referensi. Misalnya, untuk bercerita tentang dua orang yang sedang bercakap-cakap, penanda isyarat akan "menempatkan" kedua orang tersebut di posisi berbeda dalam ruang isyarat dan bergantian mengambil peran masing-masing.

Peran Ekspresi Wajah dalam BISINDO

Dalam BISINDO, ekspresi wajah bukan sekadar hiasan emosional, melainkan komponen tata bahasa yang esensial. Beberapa fungsi ekspresi wajah dalam BISINDO antara lain:

Siswa berkebutuhan khusus belajar di ruang kelas tradisional yang hangat dan inklusif di Sekolah Inklusi Taruna Imani
Suasana belajar di Sekolah Inklusi Taruna Imani YUKA yang mendorong komunikasi aktif dan inklusif bagi semua siswa, termasuk yang menggunakan bahasa isyarat.

Manfaat BISINDO untuk Anak Berkebutuhan Khusus

BISINDO memiliki manfaat yang sangat luas, tidak hanya untuk anak tuna rungu tetapi juga untuk anak berkebutuhan khusus (ABK) lainnya. Berikut adalah berbagai manfaat bahasa isyarat Indonesia dalam konteks pendidikan inklusi.

Manfaat untuk Anak Tuna Rungu

Manfaat untuk ABK Lainnya

Menariknya, BISINDO dan bahasa isyarat secara umum juga memberikan manfaat bagi anak berkebutuhan khusus dengan kondisi lain:

Penelitian Penting

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of Deaf Studies and Deaf Education menunjukkan bahwa anak Tuli yang terpapar bahasa isyarat sejak lahir mencapai tonggak perkembangan bahasa (babbling manual, kata pertama, kombinasi dua kata) pada usia yang sama dengan anak dengar yang terpapar bahasa lisan. Ini membuktikan bahwa keterlambatan bahasa pada anak Tuli bukan disebabkan oleh ketulian itu sendiri, melainkan oleh kurangnya akses terhadap bahasa isyarat yang dini dan konsisten.

Cara Belajar BISINDO untuk Pemula

Bagi Anda yang ingin belajar BISINDO, berikut panduan langkah demi langkah yang bisa Anda ikuti. Menguasai bahasa isyarat Indonesia memerlukan komitmen dan praktik yang konsisten, tetapi prosesnya sangat menyenangkan dan bermanfaat.

Langkah 1: Pelajari Alfabet Isyarat

Langkah pertama dalam belajar BISINDO adalah menghafal alfabet isyarat (finger spelling). Alfabet ini digunakan untuk mengeja nama, istilah khusus, atau kata-kata yang belum memiliki isyarat tersendiri. BISINDO menggunakan sistem alfabet dua tangan (two-handed alphabet) yang berbeda dari alfabet satu tangan ASL.

Langkah 2: Pelajari Kosakata Dasar

Setelah menguasai alfabet, pelajari kosakata dasar yang sering digunakan dalam percakapan sehari-hari:

Langkah 3: Bergabung dengan Komunitas Tuli

Cara paling efektif untuk belajar BISINDO adalah dengan berinteraksi langsung dengan penutur aslinya, yaitu komunitas Tuli. Beberapa cara untuk terhubung:

Langkah 4: Gunakan Sumber Belajar Online

Beberapa sumber belajar BISINDO yang bisa diakses secara online:

Langkah 5: Praktik Secara Konsisten

Kunci keberhasilan belajar BISINDO adalah konsistensi. Tips untuk menjaga konsistensi:

Dua perempuan berhijab belajar bersama, menunjukkan semangat pendidikan inklusif dan kolaboratif
Belajar bersama dengan semangat kolaboratif. Kemampuan berkomunikasi melalui berbagai modalitas, termasuk bahasa isyarat, memperkaya interaksi sosial di lingkungan inklusif.

Variasi Dialek BISINDO di Indonesia

Sama seperti bahasa lisan yang memiliki dialek regional, BISINDO juga memiliki variasi antar daerah di Indonesia. Variasi ini mencerminkan kekayaan budaya dan sejarah lokal komunitas Tuli di berbagai wilayah.

Faktor yang Mempengaruhi Variasi Dialek

Contoh Variasi Dialek BISINDO

Beberapa contoh variasi dialek BISINDO yang dikenal:

Meskipun terdapat variasi, komunitas Tuli dari berbagai daerah umumnya masih bisa saling memahami satu sama lain. Ketika bertemu, mereka biasanya melakukan penyesuaian dan klarifikasi untuk isyarat yang berbeda. Fenomena ini mirip dengan penutur bahasa daerah yang berbeda tetapi masih bisa berkomunikasi dalam bahasa Indonesia.

Perjuangan Pengakuan BISINDO sebagai Bahasa Resmi

Meskipun BISINDO telah digunakan oleh jutaan orang Tuli di Indonesia selama puluhan tahun, perjuangan untuk pengakuan resmi BISINDO sebagai bahasa nasional masih terus berlangsung. Berikut kronologi perjuangan tersebut dan posisi BISINDO saat ini.

Hambatan yang Dihadapi

Langkah Maju yang Sudah Dicapai

Peran YUKA dalam Mendukung Komunikasi ABK

Di Yayasan Ukhuwah Kaffah Amanatullah (YUKA), kami memahami bahwa komunikasi efektif adalah fondasi dari pendidikan yang berkualitas. Melalui Sekolah Inklusi Taruna Imani di Sleman, Yogyakarta, YUKA menerapkan pendekatan komunikasi yang fleksibel dan adaptif untuk setiap anak berkebutuhan khusus.

Pendekatan Komunikasi di YUKA

Di Sekolah Inklusi Taruna Imani, kami menggunakan pendekatan komunikasi total (total communication) yang mengkombinasikan berbagai modalitas komunikasi sesuai kebutuhan masing-masing anak. Untuk anak tuna rungu, kami mendukung penggunaan bahasa isyarat sebagai alat komunikasi utama, dilengkapi dengan media visual, tulisan, dan teknologi bantu. Kami percaya bahwa setiap anak berhak berkomunikasi dengan cara yang paling nyaman dan efektif bagi mereka.

Beberapa program YUKA yang mendukung komunikasi ABK:

Dalam perspektif Islam yang menjadi landasan YUKA, setiap individu memiliki hak untuk didengar dan dipahami. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran Surat Abasa (80): 1-10, yang mengingatkan kita untuk tidak mengabaikan siapa pun yang ingin belajar dan berkembang, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan fisik. BISINDO dan bahasa isyarat lainnya merupakan sarana yang Allah berikan agar setiap hamba-Nya bisa berkomunikasi dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial.

FAQ Seputar BISINDO

Apa itu BISINDO?

BISINDO (Bahasa Isyarat Indonesia) adalah bahasa isyarat alami yang berkembang secara organis di komunitas Tuli Indonesia. BISINDO memiliki tata bahasa sendiri yang berbeda dari bahasa Indonesia lisan dan menggunakan gerakan tangan, ekspresi wajah, serta gerakan tubuh untuk menyampaikan makna.

Apa perbedaan BISINDO dan SIBI?

BISINDO adalah bahasa isyarat alami yang tumbuh dari komunitas Tuli dengan tata bahasa sendiri, sedangkan SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia) adalah sistem isyarat buatan yang mengikuti struktur tata bahasa Indonesia lisan. BISINDO lebih ekspresif dan digunakan sehari-hari oleh komunitas Tuli, sementara SIBI umumnya digunakan di lingkungan pendidikan formal seperti SLB.

Bagaimana cara belajar BISINDO?

Cara belajar BISINDO yang efektif adalah: bergabung dengan komunitas Tuli lokal, mengikuti kursus dari Gerkatin, belajar dari video tutorial di YouTube, menggunakan aplikasi belajar bahasa isyarat, serta mempraktikkan langsung dengan teman Tuli. Konsistensi dan interaksi langsung adalah kunci utama.

Apakah BISINDO sama di seluruh Indonesia?

Tidak, BISINDO memiliki variasi dialek di berbagai daerah di Indonesia, mirip dengan bahasa daerah lisan. BISINDO Jakarta berbeda dengan BISINDO Yogyakarta atau BISINDO Makassar. Namun, komunitas Tuli dari berbagai daerah umumnya tetap bisa saling memahami dengan penyesuaian.

Mengapa BISINDO penting untuk anak tuna rungu?

BISINDO penting bagi anak tuna rungu karena merupakan bahasa alami yang memungkinkan mereka berkomunikasi secara penuh dan ekspresif. Penelitian menunjukkan bahwa anak tuna rungu yang terpapar bahasa isyarat sejak dini memiliki perkembangan kognitif, sosial, dan emosional yang lebih baik dibanding yang hanya diajarkan metode oral.

Apakah orang dengar perlu belajar BISINDO?

Sangat dianjurkan. Dengan belajar BISINDO, orang dengar bisa berkomunikasi langsung dengan orang Tuli tanpa perantara, menciptakan lingkungan yang lebih inklusif, dan menunjukkan penghargaan terhadap budaya Tuli. Di banyak negara maju, bahasa isyarat sudah menjadi bagian dari kurikulum pendidikan umum.

Di mana saya bisa belajar BISINDO di Yogyakarta?

Di Yogyakarta, Anda bisa belajar BISINDO melalui Gerkatin DIY, komunitas Tuli lokal, beberapa universitas yang menawarkan kursus bahasa isyarat, dan organisasi seperti YUKA yang mendukung pendidikan inklusi. Hubungi YUKA di +62 812-2991-2332 untuk informasi lebih lanjut.

Kesimpulan

BISINDO adalah bahasa isyarat alami yang menjadi identitas dan sarana komunikasi utama bagi komunitas Tuli Indonesia. Sebagai bahasa yang tumbuh secara organis dari komunitas penggunanya, BISINDO memiliki kekayaan linguistik yang setara dengan bahasa lisan manapun. Perbedaan BISINDO dan SIBI bukan sekadar masalah teknis, melainkan menyangkut hak dasar orang Tuli untuk berkomunikasi dalam bahasa yang paling alami dan efektif bagi mereka.

Memahami dan menghargai BISINDO adalah langkah penting dalam menciptakan masyarakat yang benar-benar inklusif. Dengan belajar BISINDO, kita membuka jembatan komunikasi dengan jutaan saudara Tuli kita dan berkontribusi pada terwujudnya inklusi sosial yang sejati.

Jika Anda tertarik untuk mendukung pendidikan dan pemberdayaan anak berkebutuhan khusus, termasuk anak tuna rungu, jangan ragu untuk menghubungi YUKA. Bersama-sama, kita bisa menciptakan lingkungan yang lebih ramah dan inklusif bagi semua anak Indonesia.

Baca Juga Artikel Terkait: