Cooing dan babbling adalah dua tahap awal perkembangan bahasa bayi, jauh sebelum kata pertama muncul. Cooing adalah bunyi vokal seperti "aaa" dan "uuu" yang biasanya mulai terdengar pada usia 2 sampai 3 bulan. Babbling atau mengoceh adalah rangkaian suku kata seperti "ba-ba-ba" dan "ma-ma-ma" yang berkembang sejak mendekati usia 6 bulan dan umumnya sudah jelas pada usia 9 bulan. Keduanya adalah latihan otot bicara sekaligus latihan bergiliran "mengobrol" dengan orang tua.

Artikel ini membahas urutan tahapnya dari lahir sampai usia 12 bulan, cara menstimulasi di rumah, dan tanda waspada kapan perlu memeriksakan bayi ke dokter anak. Untuk keterlambatan bicara pada anak yang lebih besar, bacaan lanjutannya ada di artikel speech delay.

Catatan sebelum membaca

Rentang usia di artikel ini adalah patokan umum dari lembaga kesehatan, bukan alat diagnosis. Setiap bayi berkembang dengan kecepatan sedikit berbeda. Bila Ayah dan Bunda khawatir, bicarakan dengan dokter anak atau tenaga kesehatan di posyandu dan puskesmas. YUKA tidak menegakkan diagnosis.

Apa Itu Cooing dan Babbling

Masa sebelum bayi mengucapkan kata bermakna sering disebut tahap pralinguistik. Pada masa ini bayi belum berbicara, tetapi terus berkomunikasi lewat tangisan, bunyi, ekspresi wajah, dan gerak tubuh. Dua istilah yang paling sering dipakai untuk menggambarkan bunyi bayi pada masa ini adalah cooing dan babbling.

Para peneliti membedakan lagi babbling menjadi beberapa jenis. Yang paling sering dijadikan patokan adalah babbling kanonik, yaitu suku kata utuh dengan konsonan dan vokal yang tersambung mulus, seperti "ba" atau "da", yang sering diulang menjadi "bababa". Suku kata jenis inilah yang nanti dipakai untuk membentuk kata.

Tahapan dari Lahir sampai 12 Bulan

Usia 0 sampai 2 bulan: menangis dan bunyi pertama

Saat lahir, bayi hanya bisa menangis untuk menyatakan keinginannya. Seiring waktu, tangisan itu mulai berbeda tergantung kebutuhannya. Checklist NIDCD (lembaga riset gangguan pendengaran dan komunikasi di bawah National Institutes of Health Amerika Serikat) untuk usia lahir sampai 3 bulan mencantumkan bayi punya cara menangis yang khas untuk kebutuhan yang berbeda, tenang atau tersenyum saat diajak bicara, dan bereaksi terhadap suara keras. Pada usia 2 bulan, CDC mencatat sebagian besar bayi sudah membuat bunyi selain menangis.

Usia 2 sampai 4 bulan: cooing

Inilah masa cooing. Bayi bereksperimen dengan bunyi vokal, dan IDAI menyebut bayi juga senang mencoba bunyi yang menyerupai berkumur. Hal yang paling menarik: bayi mulai bereaksi terhadap orang lain dengan mengeluarkan suara. Daftar CDC usia 4 bulan mencantumkan tiga kemampuan bahasa dan komunikasi: membuat bunyi cooing, membalas dengan bunyi saat diajak bicara, dan menoleh ke arah suara orang tuanya.

Usia 4 sampai 6 bulan: bermain bunyi

Suara bayi makin beragam. Checklist NIDCD untuk usia 4 sampai 6 bulan menyebut bayi mengoceh dengan cara yang mirip bicara dan memakai banyak bunyi berbeda, termasuk bunyi yang diawali p, b, dan m, tertawa, serta mengoceh saat senang atau tidak senang. Pada usia 6 bulan, CDC mencatat sebagian besar bayi bergantian membuat bunyi dengan orang tuanya, meniup bunyi "prrr" dengan lidah menjulur, dan memekik.

IDAI menambahkan, mendekati usia 6 bulan bayi dapat berespons terhadap namanya sendiri, mengenali emosi dalam nada bicara, dan cooing berangsur menjadi babbling.

Usia 6 sampai 9 bulan: babbling kanonik

Ocehan bayi kini berisi suku kata utuh yang diulang. Pada usia 9 bulan, CDC mencatat sebagian besar bayi membuat banyak bunyi berbeda seperti "mamamama" dan "bababababa", serta mengangkat kedua tangan minta digendong. IDAI menjelaskan pada usia 6 sampai 9 bulan bayi mengoceh dengan intonasi yang mirip bahasa ibunya dan dapat mengucapkan "mama" dan "papa" tanpa arti. Jadi ocehan "mama" pada usia ini belum tentu panggilan untuk ibu.

Penelitian D. Kimbrough Oller dan rekan, yang mengamati lebih dari 3.400 bayi berisiko, menyebut hampir semua bayi dengan pendengaran normal sudah masuk tahap babbling kanonik sebelum usia 10 bulan (Oller dkk., 1999).

Usia 9 sampai 12 bulan: menuju kata pertama

Ocehan makin panjang dan bervariasi. Checklist NIDCD untuk usia 7 bulan sampai 1 tahun mencantumkan mengoceh dengan rangkaian bunyi pendek dan panjang ("tata, upup, bibibi"), mengoceh untuk menarik dan mempertahankan perhatian, meniru berbagai bunyi bicara, berkomunikasi dengan isyarat seperti melambai atau mengangkat tangan, dan punya satu atau dua kata menjelang ulang tahun pertama.

Pada usia 1 tahun, CDC mencatat sebagian besar bayi melambai "dadah", memanggil orang tua dengan "mama", "dada", atau panggilan khusus lain, dan memahami kata "jangan" (berhenti sejenak saat mendengarnya). IDAI menyebut pada usia 9 sampai 12 bulan bayi sudah dapat mengucapkan mama dan papa dengan arti, menoleh saat dipanggil, dan menunjuk atau merentangkan tangan untuk menyatakan keinginannya.

Tabel Ringkas Milestone Bahasa Bayi

Daftar CDC direvisi pada 2022 bersama American Academy of Pediatrics. Menurut makalah revisinya (Zubler dkk., Pediatrics 2022), setiap milestone dipilih dari kemampuan yang diharapkan sudah dicapai oleh sebagian besar anak, yaitu 75 persen atau lebih, pada usia tersebut. Artinya, bila bayi belum mencapainya, itu alasan untuk memantau dan berdiskusi dengan dokter, bukan untuk menunggu saja.

UsiaYang dilakukan sebagian besar bayi (CDC)Tahap bunyi
2 bulanMembuat bunyi selain menangis, bereaksi terhadap suara kerasTangisan dan bunyi awal
4 bulanMembuat bunyi "oooo", "aahh" (cooing), membalas dengan bunyi saat diajak bicara, menoleh ke arah suara orang tuaCooing
6 bulanBergantian membuat bunyi dengan orang tua, meniup bunyi "prrr", memekikBermain bunyi, awal babbling
9 bulanMembuat banyak bunyi berbeda seperti "mamamama" dan "bababababa", mengangkat tangan minta digendongBabbling kanonik
12 bulanMelambai "dadah", memanggil orang tua "mama" atau "dada" atau panggilan khusus, memahami "jangan"Kata pertama dan isyarat

Sumber: halaman milestone CDC usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, 9 bulan, dan 1 tahun, dicek 25 September 2026. Bila bayi lahir prematur, sampaikan hal itu saat konsultasi, karena CDC memasukkan kelahiran prematur ke daftar hal yang perlu diceritakan kepada dokter.

Mengapa Babbling Penting

Babbling bukan sekadar lucu. Suku kata yang diulang-ulang adalah bahan mentah kata pertama. Saat mengoceh, bayi melatih koordinasi bibir, lidah, rahang, dan napas, sekaligus mencocokkan bunyi yang ia buat dengan bunyi yang ia dengar.

Karena itu pendengaran sangat berperan. Penelitian Oller dan Eilers (1988) yang membandingkan bayi tuli dan bayi yang mendengar menemukan bayi yang mendengar sudah memproduksi suku kata utuh dalam 10 bulan pertama, sedangkan bayi tuli dalam penelitian itu belum. Temuan ini membantah anggapan lama bahwa pendengaran hanya berperan kecil dalam ocehan bayi.

Waktu munculnya babbling kanonik juga diteliti sebagai tanda awal. Studi pada 1.536 bayi berisiko (Oller dkk., 1998) menemukan keterlambatan babbling kanonik jarang terjadi, tetapi sering berkaitan dengan kondisi genetik, saraf, anatomi, atau fisiologis, dan lebih dari separuh kasusnya belum punya diagnosis medis saat keterlambatan itu ditemukan. Studi lanjutannya (Oller dkk., 1999) menunjukkan bayi dengan babbling kanonik terlambat memiliki kosakata lebih sedikit pada usia 18, 24, dan 30 bulan dibanding kelompok pembanding.

NIDCD menyebut tiga tahun pertama kehidupan sebagai masa paling intensif untuk memperoleh kemampuan bicara dan bahasa, dan kemampuan itu berkembang paling baik di lingkungan yang kaya bunyi dan paparan bahasa dari orang lain. Itulah sebabnya pengamatan pada tahun pertama berguna: masalah yang ketahuan lebih awal bisa ditangani lebih awal lewat intervensi dini.

Cara Menstimulasi Cooing dan Babbling

CDC menyebut orang tua sebagai guru pertama bayi dan memberi beberapa saran aktivitas sederhana di setiap halaman milestone. Berikut yang berkaitan dengan bahasa:

  1. Balas setiap bunyi bayi. Pada usia 2 bulan, CDC menganjurkan orang tua merespons dengan senang, tersenyum, dan berbicara saat bayi mengeluarkan bunyi. Ini mengajarkan bayi bergiliran "mengobrol".
  2. Main tiru-tiruan bunyi. Untuk usia 6 bulan, CDC menyarankan permainan bolak-balik: saat bayi tersenyum, orang tua ikut tersenyum; saat bayi membuat bunyi, orang tua menirukannya.
  3. Bicara, bacakan, dan nyanyikan. CDC menganjurkan berbicara, membaca, dan bernyanyi untuk bayi sejak usia 2 bulan agar ia belajar memahami bahasa. Buku bergambar sederhana sudah cukup. Tanggapi ocehan bayi seolah ia ikut "membaca", misalnya "Iya, itu kucing!"
  4. Beri nama pada benda di sekitar. Saat jalan-jalan, tunjuk dan sebutkan mobil, pohon, atau hewan yang dilihat.
  5. Batasi layar. CDC tidak menganjurkan waktu layar untuk anak di bawah 2 tahun, kecuali panggilan video dengan keluarga, karena bayi belajar lewat bicara, bermain, dan berinteraksi dengan orang lain. Pembahasan lebih lengkap ada di artikel batasan screen time.
  6. Kurangi gawai orang tua saat bersama bayi. CDC mengingatkan bahwa membatasi layar orang tua saat bersama bayi membantu orang tua lebih responsif terhadap sinyal bayi.

Pendekatan yang menempatkan orang tua sebagai mitra bicara utama anak juga dipakai dalam program terapi bahasa berbasis keluarga, misalnya Hanen approach.

Tanda Waspada: Kapan Perlu ke Dokter

IDAI memberi daftar "waspada bila" untuk setiap rentang usia. Yang berkaitan dengan tahun pertama:

CDC memakai prinsip serupa: bila anak belum mencapai satu atau lebih milestone, kehilangan kemampuan yang sebelumnya sudah ada, atau orang tua punya kekhawatiran lain, jangan menunggu. Bicarakan dengan dokter anak dan tanyakan tentang skrining perkembangan. Di Indonesia, pemantauan perkembangan rutin bisa dilakukan di posyandu, puskesmas, atau dokter anak, termasuk mencatat perkembangan di Buku KIA.

Satu tanda saja tidak berarti bayi pasti mengalami gangguan. Tanda waspada adalah alasan untuk diperiksa, bukan diagnosis. Dokter yang akan menilai apakah perlu pemeriksaan lanjutan, misalnya tes pendengaran.

Hal yang Bisa Membuat Babbling Terlambat

IDAI menyebut keterlambatan bicara dapat disebabkan gangguan pendengaran, gangguan pada otak (misalnya disabilitas intelektual atau gangguan bahasa spesifik), autisme, atau gangguan pada organ mulut yang membuat anak sulit melafalkan kata. Menentukan penyebabnya perlu pemeriksaan teliti oleh dokter, kadang dengan pendekatan multidisiplin dari dokter anak, dokter THT, dan psikolog atau psikiater anak.

Bila dokter menyarankan terapi, terapi wicara biasanya menjadi salah satu pilihan. Cara memilih terapisnya dibahas di artikel terapis speech delay.

Mitos yang Sering Terdengar

Pendampingan di YUKA

YUKA mendampingi anak berkebutuhan khusus dan keluarganya lewat pendidikan inklusi di Sleman. Bila Ayah dan Bunda menemukan tanda waspada, langkah pertama tetap pemeriksaan ke dokter anak. Setelah itu, informasi tentang jenis terapi anak berkebutuhan khusus dan peluang anak speech delay mengejar ketertinggalan bisa membantu merencanakan langkah berikutnya.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa bedanya cooing dan babbling?

Cooing adalah bunyi vokal panjang seperti "aaa" dan "uuu" yang biasanya muncul sekitar usia 2 sampai 3 bulan. Babbling atau mengoceh adalah rangkaian suku kata yang menggabungkan konsonan dan vokal, misalnya "ba-ba-ba" atau "ma-ma-ma". IDAI menyebut cooing berangsur menjadi babbling mendekati usia 6 bulan.

Umur berapa bayi mulai mengoceh "mamama" atau "bababa"?

Menurut daftar milestone CDC, sebagian besar bayi membuat banyak bunyi berbeda seperti "mamamama" dan "bababababa" pada usia 9 bulan. Penelitian Oller dan rekan menyebut hampir semua bayi dengan pendengaran normal sudah masuk tahap babbling kanonik (suku kata utuh yang diulang) sebelum usia 10 bulan.

Apakah bayi yang mengoceh "mama" berarti sudah memanggil ibunya?

Belum tentu. IDAI menjelaskan pada usia 6 sampai 9 bulan bayi dapat mengucapkan "mama" dan "papa" tanpa arti, sebagai bagian dari babbling. Baru sekitar usia 9 sampai 12 bulan kata itu dipakai dengan arti untuk memanggil orang tua atau pengasuhnya.

Kapan orang tua perlu membawa bayi ke dokter karena belum mengoceh?

IDAI menyarankan waspada bila mendekati usia 6 bulan bayi belum babbling atau tidak menoleh saat dipanggil namanya dari belakang. CDC juga menganjurkan orang tua tidak menunggu bila anak belum mencapai satu atau lebih milestone atau kehilangan kemampuan yang sebelumnya sudah ada. Pada usia berapa pun, kemunduran kemampuan bicara atau sosial perlu segera diperiksakan.

Apakah bayi tuli tetap bisa mengoceh?

Bayi dengan gangguan pendengaran tetap bisa bersuara dan membuat bunyi awal. Namun penelitian Oller dan Eilers (1988) menemukan bayi yang mendengar sudah memproduksi suku kata utuh dalam 10 bulan pertama, sedangkan bayi tuli dalam penelitian itu belum. Karena itu babbling yang tidak muncul atau berkurang menjadi alasan untuk memeriksakan pendengaran.

Artikel Terkait