Asesmen akademik anak berkebutuhan khusus adalah proses mengumpulkan informasi tentang kemampuan anak dalam membaca, menulis, dan berhitung, termasuk keterampilan prasyarat seperti memegang buku atau alat tulis, untuk mengetahui apa yang sudah dikuasai, di mana hambatannya, dan pada kondisi apa anak paling mudah belajar. Hasilnya bukan untuk memberi label, melainkan menjadi dasar menyusun tujuan belajar, memilih cara mengajar, dan menentukan akomodasi yang layak di sekolah.

Artikel ini fokus pada asesmen akademik saja: apa yang dinilai, metode yang dipakai, langkah pelaksanaannya, dan bagaimana hasilnya berubah menjadi program belajar. Gambaran asesmen ABK secara umum, termasuk asesmen perilaku, perkembangan, dan psikologis, sudah kami bahas di artikel asesmen ABK: pengertian, jenis, dan prosesnya.

Catatan sebelum membaca

Artikel ini berisi informasi umum untuk orang tua dan guru, bukan pengganti pemeriksaan oleh tenaga profesional. Bila ada dugaan gangguan belajar spesifik, hambatan penglihatan atau pendengaran, atau keterlambatan perkembangan, konsultasikan dengan psikolog, dokter spesialis anak, atau tim tumbuh kembang. YUKA tidak menegakkan diagnosis.

Apa Itu Asesmen Akademik dan Bedanya dengan Tes Lain

Panduan Pelaksanaan Pendidikan Inklusif yang diterbitkan Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kemendikbudristek (2022) mendefinisikan asesmen sebagai proses yang sistematis dan komprehensif untuk menggali permasalahan lebih lanjut, sehingga diketahui masalah, hambatan, keunggulan, dan kebutuhan individu. Panduan itu menyebut empat area asesmen: belajar (learning), sosial emosi, komunikasi, dan neuromotor. Asesmen akademik adalah bagian dari area belajar.

Orang tua sering bingung membedakan asesmen akademik dengan pemeriksaan lain yang pernah dijalani anak. Tabel berikut membantu memilahnya.

JenisPertanyaan yang dijawabUmumnya dilakukan olehDipakai untuk
Asesmen akademikApa yang sudah dan belum dikuasai anak dalam membaca, menulis, dan berhitung? Kesalahan apa yang berulang?Guru kelas, guru pembimbing khusus, atau ahli pendidikan khususMenentukan titik awal materi, tujuan belajar, dan cara mengajar
Tes kecerdasanBagaimana kemampuan berpikir umum anak dibanding anak seusianya?PsikologBagian dari pemeriksaan psikologis; penjelasannya ada di artikel berapa IQ anak yang normal
Asesmen fungsional (Permendikbudristek 48/2023)Apa kondisi, hambatan, dan kebutuhan anak atas bentuk akomodasi yang layak?Satuan pendidikan, difasilitasi Unit Layanan DisabilitasMenentukan bentuk akomodasi di sekolah

Ketiganya saling melengkapi. Hasil tes kecerdasan yang rendah, misalnya, tidak memberi tahu guru huruf mana yang sudah dikenal anak. Sebaliknya, asesmen akademik tidak bisa dipakai untuk menyimpulkan diagnosis.

Kedudukannya dalam Aturan dan Panduan Resmi

Beberapa ketentuan dalam Permendikbudristek Nomor 48 Tahun 2023 tentang Akomodasi yang Layak untuk Peserta Didik Penyandang Disabilitas membuat asesmen menjadi pintu masuk layanan di sekolah:

Panduan Pendidikan Inklusif menggambarkan alurnya secara berurutan: penerimaan peserta didik baru, identifikasi, asesmen, penyusunan profil belajar, perencanaan pembelajaran, pelaksanaan, lalu penilaian dan laporan hasil belajar. Profil belajar itu sekurang-kurangnya memuat identitas, kemampuan akademik, kemampuan sosial emosi, kemampuan motorik, kondisi kesehatan, dan kemandirian anak.

Catatan: sebagian tulisan di internet masih merujuk Permendiknas Nomor 70 Tahun 2009 tentang pendidikan inklusif. JDIH Kemendikdasmen mencatat peraturan itu berstatus "Tidak Berlaku", dan ketentuannya tentang peserta didik yang memiliki kelainan dicabut oleh Pasal 43 Permendikbudristek 48/2023. Karena itu artikel ini tidak memakainya sebagai rujukan.

Aspek yang Dinilai dalam Asesmen Akademik

Asesmen akademik untuk anak berkebutuhan khusus sebaiknya dimulai dari tingkat kemampuan anak saat ini, bukan dari target kelasnya. Karena itu keterampilan prasyarat ikut dinilai. Contoh dalam Panduan Pendidikan Inklusif sendiri memasukkan kegiatan pramembaca, seperti cara memegang buku, jarak mata dengan buku, cara membalik halaman, dan memilih pencahayaan.

AspekContoh kemampuan yang diamatiContoh tugas asesmen
Prasyarat belajarDuduk dan memperhatikan tugas, mengikuti instruksi sederhana, memegang buku dan alat tulis, koordinasi mata dan tanganMengamati anak saat mengerjakan satu tugas singkat; meminta anak menebalkan garis
MembacaMengenal huruf, membaca suku kata, kata, kalimat, kelancaran, dan pemahaman isi bacaanKartu huruf acak, daftar suku kata, bacaan pendek lalu pertanyaan tentang isinya
MenulisMenebalkan dan menyalin, menulis nama sendiri, menulis dari dikte, menyusun kalimat, ejaan, kerapianMenyalin kalimat dari papan, dikte lima kata, menulis satu kalimat tentang gambar
BerhitungMembilang, mengenal lambang bilangan, nilai tempat, operasi hitung, soal cerita, serta penerapan fungsional seperti uang dan waktuMenghitung benda, mencocokkan angka dengan jumlah benda, soal bersusun, soal cerita sederhana

Yang dicatat bukan hanya benar atau salah. Guru juga mencatat waktu yang dibutuhkan, strategi yang dipakai anak (misalnya menghitung dengan jari), bantuan yang membuat anak berhasil, dan pola kesalahannya. Anak yang selalu tertukar huruf b dan d membutuhkan program yang berbeda dari anak yang lancar mengeja tetapi tidak memahami isi bacaan. Pola seperti ini juga menjadi bahan pertimbangan bila perlu rujukan, misalnya dugaan disleksia atau diskalkulia.

Metode Asesmen Formal dan Informal

Panduan Pendidikan Inklusif membedakan dua jalur. Asesmen formal dilakukan oleh para ahli, seperti psikolog, terapis, dan dokter spesialis (THT, mata, dan lainnya). Asesmen informal dilakukan oleh guru kelas, guru mata pelajaran, guru BK, maupun guru pembimbing khusus. Dalam asesmen akademik, keduanya punya peran masing-masing.

Asesmen formal

Asesmen formal memakai instrumen terstandar yang membandingkan hasil anak dengan kelompok seusianya. Alat seperti ini umumnya hanya boleh digunakan oleh tenaga yang memiliki kualifikasi, dan hasilnya berguna untuk melihat seberapa jauh kemampuan anak tertinggal dari teman sebaya atau untuk mendukung pemeriksaan gangguan belajar. Kelemahannya, skor terstandar jarang memberi tahu guru materi apa yang harus diajarkan besok pagi.

Asesmen informal

Asesmen informal disusun guru dari materi yang memang akan diajarkan. Bentuknya beragam:

Pemantauan kemajuan

Asesmen tidak berhenti setelah program disusun. National Center on Intensive Intervention, pusat yang didukung Departemen Pendidikan Amerika Serikat, menganjurkan tim menyusun rencana pemantauan kemajuan yang memuat alat ukur, target, dan frekuensi pengambilan data, lalu mengumpulkan data secara sering, menggambarkannya dalam grafik, dan membandingkannya dengan target belajar anak. Bila kemajuan belum cukup, tim berdiskusi untuk menyesuaikan intervensi. Di kelas, bentuknya bisa sederhana: misalnya mencatat jumlah kata yang dibaca benar dalam satu menit setiap minggu.

Langkah Pelaksanaan Asesmen Akademik oleh Guru

  1. Kumpulkan informasi awal. Baca laporan dari sekolah sebelumnya, terapis, atau psikolog, dan wawancarai orang tua tentang kebiasaan belajar anak di rumah.
  2. Tentukan tujuan asesmen. Misalnya, "mengetahui titik awal kemampuan membaca permulaan" atau "mengetahui penyebab anak selalu keliru pada soal pengurangan bersusun".
  3. Siapkan instrumen bertingkat. Susun tugas dari yang paling mudah ke yang paling sulit, sesuai urutan materi di kurikulum. Gunakan bahan yang dekat dengan kehidupan anak.
  4. Atur situasi yang nyaman. Pilih tempat yang tenang, beri waktu yang cukup, dan lakukan dalam beberapa sesi pendek bila anak mudah lelah. Pastikan alat bantu yang biasa dipakai anak, seperti kacamata atau alat bantu dengar, sudah terpasang.
  5. Laksanakan dan catat. Catat jawaban, waktu, strategi, bantuan yang diberikan, dan perilaku anak selama asesmen.
  6. Analisis hasil. Tentukan kemampuan yang sudah dikuasai mandiri, yang bisa dilakukan dengan bantuan, dan yang belum. Cari pola kesalahannya.
  7. Susun simpulan dan rekomendasi. Panduan Pendidikan Inklusif menyebut simpulan hasil asesmen menjadi dasar menyusun program intervensi dan program pembelajaran, didahului penyusunan profil belajar peserta didik.
  8. Bicarakan dengan orang tua. Jelaskan hasilnya dengan bahasa sederhana, lalu sepakati prioritas tujuan bersama.

Guru yang mendampingi anak secara khusus, seperti guru pembimbing khusus (GPK) atau shadow teacher, biasanya memegang peran besar pada langkah 5 sampai 7 karena paling sering mengamati anak.

Dari Hasil Asesmen ke Tujuan Belajar

Nilai terbesar asesmen akademik ada pada apa yang dilakukan dengan hasilnya. Panduan Pendidikan Inklusif memberi contoh untuk elemen membaca. Hasil asesmen awal seorang peserta didik menunjukkan ia sudah mengenal huruf A sampai Z dan dapat menulis nama sendiri, tetapi belum lancar membaca, kurang memahami isi bacaan, belum dapat menyebutkan benda dari huruf abjad, dan belum dapat menyusun huruf abjad. Dari situ tujuan pembelajarannya disesuaikan menjadi menyebutkan benda dari huruf abjad dan menyusun huruf abjad, dengan materi melabel huruf abjad.

TahapIsi (contoh dari Panduan Pendidikan Inklusif)
Hasil asesmen awalSudah: mengenal huruf A sampai Z, menulis nama sendiri. Belum: lancar membaca, memahami isi bacaan, menyebutkan benda dari huruf abjad, menyusun huruf abjad.
Penyesuaian tujuanMenyebutkan benda dari huruf abjad; menyusun huruf abjad.
Penyesuaian materiMelabel huruf abjad (A sampai Z).

Tujuan seperti ini kemudian dituangkan ke dalam rencana belajar per anak. Panduan yang sama menyebut guru mengembangkan tujuan jangka panjang yang bersifat tahunan sampai tujuan jangka pendek yang bersifat harian, dengan langkah mengajar yang dirinci dalam bentuk analisis tugas. Cara menyusunnya kami bahas di artikel program pembelajaran individual (PPI). Hasil asesmen juga menjadi dasar penyesuaian soal ulangan, yang contohnya ada di artikel adaptasi soal ujian untuk anak ABK.

Untuk penilaian dan kenaikan kelas, Panduan Pendidikan Inklusif menyebut kenaikan kelas peserta didik berkebutuhan khusus dilakukan bila capaian pembelajaran pada fase yang ditentukan guru sudah dituntaskan, atau lintas fase sesuai kemampuan anak, dan sekolah memiliki keleluasaan menentukan kriterianya.

Peran Orang Tua dalam Asesmen Akademik

Permendikbudristek 48/2023 menempatkan orang tua/wali sebagai pihak yang dilibatkan dalam konsultasi pemenuhan akomodasi. Beberapa hal yang bisa Ayah dan Bunda lakukan:

Kesalahan yang Sering Terjadi

Asesmen di YUKA

Di Sekolah Inklusi Taruna Imani, guru mengamati kemampuan membaca, menulis, dan berhitung setiap anak sebelum menyusun rencana belajarnya, lalu membicarakannya bersama orang tua. Bila Ayah dan Bunda masih menimbang sekolah yang cocok, artikel anak ABK harus sekolah dimana bisa menjadi titik awal. YUKA bukan fasilitas kesehatan; untuk pemeriksaan psikologis atau medis, kami akan menyarankan tenaga profesional yang sesuai.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa beda asesmen akademik dengan tes IQ?

Tes kecerdasan (tes IQ) mengukur kemampuan berpikir umum dan hanya boleh dilakukan psikolog. Asesmen akademik mengukur apa yang sudah dan belum dikuasai anak dalam membaca, menulis, dan berhitung, sehingga hasilnya langsung dipakai untuk menentukan materi dan cara mengajar. Keduanya saling melengkapi, tetapi tidak saling menggantikan.

Siapa yang boleh melakukan asesmen akademik anak berkebutuhan khusus?

Panduan Pelaksanaan Pendidikan Inklusif dari Kemendikbudristek (2022) menyebut asesmen dapat dilakukan secara formal oleh para ahli seperti psikolog, terapis, dan dokter spesialis, dan secara informal oleh guru kelas, guru mata pelajaran, guru BK, maupun guru pembimbing khusus. Untuk asesmen akademik sehari-hari di kelas, guru adalah pelaksana utamanya.

Berapa kali asesmen akademik perlu dilakukan?

Asesmen awal dilakukan sebelum program belajar disusun, lalu kemajuan anak dipantau berkala selama program berjalan. Praktik pemantauan kemajuan yang dianjurkan National Center on Intensive Intervention adalah mengumpulkan data secara sering, menggambarkannya dalam grafik, dan membandingkannya dengan target belajar anak. Asesmen lengkap biasanya diulang saat kenaikan kelas atau perpindahan jenjang.

Apakah orang tua bisa melakukan asesmen akademik sendiri di rumah?

Orang tua bisa mencatat pengamatan, misalnya huruf yang sudah dikenal anak atau jenis soal hitungan yang selalu keliru, dan catatan itu sangat berguna bagi guru. Namun kesimpulan asesmen dan penyusunan program sebaiknya tetap dilakukan guru atau tenaga profesional, karena mereka membandingkan hasilnya dengan tujuan kurikulum dan mengamati anak dalam situasi belajar yang terstruktur.

Bagaimana hasil asesmen akademik memengaruhi penilaian dan kenaikan kelas?

Lampiran II Permendikbudristek Nomor 48 Tahun 2023 menyebut bentuk akomodasi yang layak antara lain fleksibilitas proses dan materi pembelajaran, perumusan capaian pembelajaran, evaluasi dan penilaian, serta waktu penyelesaian tugas, sesuai rekomendasi hasil asesmen kebutuhan peserta didik. Panduan Pendidikan Inklusif juga menyebut kenaikan kelas peserta didik berkebutuhan khusus dapat mengikuti capaian pada fase yang ditentukan guru atau lintas fase sesuai kemampuan anak.

Artikel Terkait